Abu Dzar, Pedagang yang Bersahaja

Red: Heri Ruslan

 Rabu 10 Jul 2013 06:00 WIB

Gurun pasir (ilustrasi) Foto: .free-extras. Gurun pasir (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh  Zaky Al Hamzah 

Abu Dzar datang tergopoh-gopoh ke Makkah. Ia mencari Rasulullah. Abu Dzar sudah berjalan jauh sekali dari negeri bernama Ghifar menuju Makkah. Ghifar adalah suatu tempat yang sangat jauh dari Makkah. Tak ada yang bisa menandingi jauhnya Ghifar.

Kamu dari mana? tanya Rasul ketika Abu Dzar menemuinya. Abu Dzar ingin menemui Rasul hanya ingin menyatakan keislamannya. Saya dari Ghifar, kata Abu Dzar. Rasulullah takjub sekali dengan Abu Dzar. Agama Islam yang dibawanya sampai hingga negeri Ghifar yang sangat jauh.

Abu Dzar menyatakan memeluk Islam. Abu Dzar merupakan orang-orang yang memeluk Islam pertama kali. Ketika itu, Nabi berdakwah dengan sembunyi-sembunyi. Tapi, tidak ada kata sembunyi dalam kamus Abu Dzar.

Ia langsung menyatakan keislamannya. Ia pergi ke Masjidil Haram dan berteriak menyatakan kesilamannya. Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, teriak Abu Dzar.

Wow, teriakan itu menentang kesombongan kaum kafir Quraisy. Ups, sebagai akibatnya, Abu Dzar disiksa. Orang-orang memukulinya. Berita dipukulinya Abu dzar akhirnya sampai ke telinga paman Nabi.

Anda semua adalah pedagang. Ia adalah bani Ghifar. Apakah kamu tidak takut orang-orang Ghifar akan merampok kamu nanti, kata paman Nabi. Orang-orang berhenti memukuli Abu Dzar. Lalu, ia kambali lagi ke Ghifar. Kepada penduduk Ghifar ia menceritakan tentang Nabi Muhammad. Akhirnya banyak penduduk Ghifar yang memeluk Islam.

Abu Dzar memeluk Islam dengan taat. Ia berdakwah menemui pusat-pusat kekuasaan. Ia berdakwah agar para pembesar bersikap dermawan dan tidak menumpuk kekayaan. Ia mengajarkan hidup sederhana, tidak boros. Ia menyerukan kepada penguasa agar tidak berlaku curang dalam mengumpulkan harta. Nama Abu Dzar terkenal. Beritakan kepada penumpuk harta, mereka akan disetrika dengan setrika api neraka, kata Abu dzar. Kalimat itu menjadi dakwah khas Abu Dzar.

Abu Dzar tetap hidup dengan kesederhanaannya. Ia masih memakai baju usang. Bukankah kau memiliki dua helai baju baru, kata orang yang melihat Abu Dzar memakai baju usang. Kedua baju itu telah aku berikan kepada orang yang lebih membutuhkan, kata Abu Dzar. Kau juga membutuhkannya, kata orang itu lagi.

Saya masih memiliki satu baju lagi untuk shalat Jumat. Saya juga punya kambing untuk diambil susunya dan keledai untuk ditunggani. Apa lagi yang masih kurang? kata Abu Dzar. Subhanallah, Abu Dzar selalu bersyukur dengan semua pemberian Allah. Ia sangat sederhana dan tidak cinta dunia.

Sumber: Disarikan dari karya Khalid Muh Khalid dalam buku Karakteristik Perihidup Sahabat Rasulullah.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X