Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Tim Ekspedisi NKRI Subkorwil Minahasa Lakukan Bedah Rumah

Selasa 25 Jun 2013 16:19 WIB

Rep: Pryantono Oemar/ Red: Heri Ruslan

Tim Komunikasi Sosial Ekspedisi NKRI/Sulawesi Subkorwil Minahasa melakukan bedah rumah di Kabupaten Minahasa Selatan

Tim Komunikasi Sosial Ekspedisi NKRI/Sulawesi Subkorwil Minahasa melakukan bedah rumah di Kabupaten Minahasa Selatan

Foto: Pryantono Oemar/Republika

REPUBLIKA.CO.ID, MINAHASA SELATAN -- Tim Komunikasi Sosial Ekspedisi NKRI/Sulawesi Subkorwil Minahasa melakukan bedah rumah di Kabupaten Minahasa Selatan. Bedah rumah dilakukan di Kecamatan Tumpakan dan Amurang.

Ada delapan rumah warga Maliku, Ritey, Lelema, dan Tumpakan Baru yang dibedah. "Bedah rumah telah dilakukan sejak 29 Mei lalu," ujar Wakil Komandan Subkorwil Minahasa Kapten Inf Jaidi, Selasa (25/6).

Bedah rumah dilakukan dengan merelokasi rumah lama, bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Minahasa Selatan. "Dari delapan rumah, yang tujuh membangun rumah baru di tempat relokasi dan satu memperbaiki rumah lama," ujar Perwira Seksi Operasional Subkorwil Minahasa Lettu Inf M Derisaputra.

Biaya relokasi Rp 15 juta per rumah, biaya renovasi Rp 10 juta per rumah. Rencana bedah rumah semula adalah di Kabupaten Minahasa, tapi karena prosesnya terlalu lamban, maka bedah rumah dialihkan ke Minahasa Selatan. Bupati Minahasa Selatan yang dinobatkan sebagai bupati tercantik se-Indonesia Mei lalu, Christiany Eugenia 'Tetty' Paruntu, cepat merespons program bedah rumah ini.

Derisaputra mengatakan, rumah yang direlokasi adalah rumah Kalangi, Unimus, Wempe Welem, Dekri, Martino Lopien, Ahmad Hunining, Yunus, Sultan. Program bedah rumah ditutup pada 24 Juni 2012. Rencana awal adalah 58 rumah. "Tapi yang terealisasi hanya delapan rumah karena sedikitnya waktu di sisa masa ekspedisi, sehingga sisanya, pelaksanaannya diserahkan ke Dinas Sosial," ujar Deri.

Di saat pembangunan rumah di Maliku, salah satu rumah yang sudah siap ditembok hancur lantaran tertimpa pohon kelapa. Sebelum dibangun, penebang pohon sudah diberi saran agar pohon kelapa yang condong ditebang saja, tapi rupanya ia mempunyai alasan lain untuk menunda penebangan, dan baru menebang setelah tiang-tiang berdiri. "Penebang pohon itu yang bertanggung jawab mengganti kerugian," ujar Letda CTP Nicolaus Han.

 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA