Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Pilih-Pilih Jambu yang Matang dan Segar

Selasa 30 Apr 2013 11:20 WIB

Rep: Reiny Dwinanda/ Red: Endah Hapsari

Jambu biji

Jambu biji

Foto: Republika

REPUBLIKA.CO.ID, Jambu biji merupakan sumber vitamin C alami terbaik. Kadarnya dalam 100 mg jambu mencapai dua kali lipat yang dikandung jeruk manis. "Vitamin C-nya lebih banyak lima kali ketimbang jeruk," ujar General Manager Taman Wisata Mekarsari, Hari Tanjung SIK MM.

Jambu seperti apa yang paling bagus untuk dibeli? Langgeng menyarankan agar konsumen memperhatikan tingkat kematangan jambu. "Pilih yang tingkat kematangannya cukup tinggi, sekitar 85 sampai 90 persen," jelas dia.

Tips itu berlaku untuk jambu biji merah maupun putih. Jambu yang cukup matang bagus untuk dijadikan jus ataupun disantap langsung. "Kalau sudah sedang matangnya, daging jambu akan lebih lunak dan ketika dibuat jus, tidak perlu terlalu lama memblendernya," tutur Langgeng Nuhono, seorang praktisi.

Lain halnya jika Anda ingin membuat manisan, asinan, atau rujak. Untuk keperluan tersebut Anda memerlukan jambu yang agak mengkel. "Tingkat kematangannya cukup 60 sampai 70 persen saja," jelas staf fungsional Pengawas Mutu Pertanian Direktorat Jenderal Hortikultura Kementrian Pertanian ini.

Untuk industri berbasis jambu biji, Langgeng menyebutkan beberapa kriteria lain. "Demi mendapatkan konsentrat yang lebih banyak, biji jambu harus sedikit, daging buah lebih tebal, aroma kuat, tekstur lembut tak berpasir," ujar dia.

Konsumen rumahan tentu akan kesulitan melacak jambu dengan kriteria seketat itu. Namun, ada cara mudah untuk mendapatkan jambu unggulan tersebut. "Gampangnya, saat memilih, ambil saja yang ukurannya besar dan kematangannya sudah 85 sampai 90 persen," saran Langgeng.

Jambu yang matang lebih enak untuk dikonsumsi. Sebab, tekstur pasirnya lebih sedikit. "Dagingnya sudah lembut sekali," kata Langgeng. Langgeng memprediksi jambu dengan kriteria industri tadi akan lebih disukai masyarakat. Tentunya, seiring dengan kelancaran produksinya. Cirinya, tidak merah pucat, sedikit bijinya, dan lebih tebal dagingnya. Ini yang bakal laris dicari.

Langgeng melihat masyarakat lebih cenderung menomorduakan jambu biji putih. Itu karena bijinya lebih banyak, ukurannya kecil, dan aromanya tidak setajam jambu biji merah. "Dengan karakteristik seperti itu, jambu biji putih dianggap tidak ekonomis untuk dibeli," ujar dia.

Bagaimana cara lezat dan aman mengonsumsi jambu? Sebetulnya, jambu paling enak dimakan lengkap dengan kulit tipisnya. "Namun, mengingat maraknya penggunaan pestisida yang tentunya tidak larut dengan air saat pencucian, lebih baik kupas saja kulit jambunya," ujar Langgeng.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA