Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Tuesday, 8 Ramadhan 1442 / 20 April 2021

Bursa Saham

IHSG Kembali Cetak Rekor

Kamis 18 Apr 2013 08:38 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

Angka pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada layar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta

Angka pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada layar di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta

Foto: Republika/Wihdan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencetak rekor tertingginya di level 4.998,65 pada Rabu (17/4). Dengan rekor baru ini, cita-cita agar IHSG bisa ditutup pada level psikologis 5.000 bukan lagi mustahil.

Frekuensi transaksi perdagangan pada Rabu cukup ramai mencapai 147.906 kali dengan volume 5,932 miliar lembar saham senilai Rp 6,472 triliun. Sebanyak 151 saham naik, 105 saham turun, dan 104 saham stagnan.

Sektor perdagangan, infrastruktur, dan properti mencetak menjadi pendorong utama IHSG. Sebelumnya, rekor tertinggi IHSG berada di level 4.981,466 setelah naik 24,215 poin (0,49 persen) pada Rabu (3/4) lalu.

Analis dari Universal Broker Indonesia Satrio Utomo menyatakan, meningkatnya level IHSG didorong oleh kembali naiknya harga emas. "Selain itu, ditambah dengan kinerja emiten kuartal pertama yang di atas ekspektasi," ujarnya.

Bursa domestik juga mendapatkan imbas positif dari baiknya kinerja indeks Dow Jones Industrial bergerak naik 1,08 persen dan ditutup pada level 14.756,78. Level ini berada sedikit di atas resisten pertama 14.750.

Dekatnya level psikologis tersebut membuat pencapaiannya seakan-akan sangat mudah. Namun, menurut banyaknya sentimen negatif dalam negeri, tekanan jual pemodal asing, dan kondisi bursa regional yang masih labil, membuat pencapaian resisten tersebut terasa sulit.

Sentimen negatif tersebut salah satunya berasal dari masih membingungkannya pengaturan soal bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. "Pemerintah memang sudah memunculkan beberapa opsi, tetapi belum adanya pilihan yang pasti membuat sentimennya menjadi semakin negatif," katanya. Kejatuhan harga emas lebih dari 5 persen pada akhir pekan lalu diperkirakan bakal menyumbang sentimen negatif.

Ia menyarankan pemodal mengambil posisi sell on strength karena sejauh ini belum ada sentimen positif dari dalam negeri. Menurutnya, saham-saham yang cukup seksi untuk dimiliki di pasaran adalah PT Bank Mandiri tbk (BMRI), PT Astra International tbk (ASI), PT Bank Central Asia tbk (BBCA), PT Bukit Asam (PTBA), dan PT United Tractors tbk (UNTR).

Analis First Asia Capital David Sutyanto menyebutkan price earning (PE) IHSG sudah mencapai 18,5 kali. "Ini menunjukkan PE yang sudah tinggi dari historisnya," katanya. Namun, saat ini indeks masih belum kelebihan valuasi karena masih di kisaran PE yang wajar.

Pergerakan indeks yang fluktuatif membuat indeks sepanjang pekan lalu hanya menguat 0,23 persen. Satu pekan terakhir, asing tercatat melakukan aksi jual hingga Rp 1,6 triliun. David menyarankan investor tetap disiplin dan menjalanan skema trading. Investor juga diharapkan mulai menjaga posisi dana.

Presiden Direktur PNB Paribas Investment Partners Vivian Secakusuma mengungkapkan, baiknya situasi pasar membuat IHSG terus mengalami penguatan. IHSG tidak hanya digerakkan oleh saham-saham dengan kapitalisasi besar, tapi juga dari yang kecil dan menengah. Sektor penggerak IHSG juga masih sama seperti tahun sebelumnya, yaitu konsumsi domestik dan infrastruktur.

Vivian menyebutkan, tingkat konsumsi masyarakat dan bertambahnya masyarakat kelas menengah serta semakin banyaknya proyek-proyek infrastrutur telah mendorong pertumbuhan saham-saham pada sektor tersebut.  Meskipun sesekali saham-saham infrastruktur justru mendorong IHSG pada pelemahan.

Menurutnya, sepanjang tahun ini IHSG akan terus mengalami penguatan. Sejauh ini, belum ada sentimen-sentimen negatif dari Eropa dan Amerika Serikat yang mendorong pelemahan IHSG secara signifikan. Namun, pelaku pasar tetap diminta waspada. Pasalnya, volatilitas akan cukup tinggi. PNB Paribas mengaku belum akan mengganti target IHSG, yaitu berada di level 4.800-4.900. Hal ini didasarkan atas fluktuasi pasar.  n friska yolandha ed: fitria andayani

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA