Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

Wednesday, 25 Zulhijjah 1442 / 04 August 2021

PBB Khawatir Konflik Rohingya Meluas ke ASEAN

Jumat 05 Apr 2013 23:52 WIB

Red: Citra Listya Rini

PBB

PBB

REPUBLIKA.CO.ID, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan kekhawatirannya mengenai kemungkinan meluasnya konflik etnis Rohingya di Myanmar ke negara lain di kawasan Asia Tenggara.

"Persoalan konflik horizontal di Myanmar dapat berimplikasi ke kawasan sehingga persoalan tersebut membutuhkan pendekatan regional," kata Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk Myanmar, Vijay Nambiar, Jumat (5/4).

Diantara implikasi regional itu adalah bentrok antara pengungsi Rohingya dengan nelayan ilegal Myanmar yang terjadi di Medan pada Jumat dini hari yang menewaskan delapan orang dan melukai belasan lainnya.

Sebanyak 117 pengungsi Rohingya dan nelayan ilegal Myanmar ditampung di tempat yang sama, yaitu rumah detensi Belawan, sebuah kota pelabuhan di Provinsi Sumatra Utara.

Associated Press (AP) mengutip pernyataan dari kepolisian lokal melaporkan insiden perkelahian itu dimulai ketika pengungsi Rohingya berdebat dengan para nelayan mengenai konflik sektarian di negara asal mereka.

Selain itu, persoalan regional lain yang muncul terkait dengan nasib pengungsi Rohingya yang membanjiri Bangladesh dan negara-negara Asia Tenggara.

Pengungsi-pengunsi tersebut pada umumnya tidak mendapatkan status kewarganegaraan di negara yang dituju. Bahkan dalam beberapa kasus mereka mati kelaparan di tengah laut seperti yang terjadi pada Februari lalu.

"Konflik di Rohingya oleh karena itu membutuhkan penyelesaian yang melibatkan pendekatan regional," kata Nambiar.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia Marty Natalegawa menyatakan kondisi suatu negara yang tidak stabil dapat menjadi ancaman non tradisional bagi negara lain di kawasan yang sama.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA