Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Pengganti Obat Diabetes, Adakah?

Kamis 04 Apr 2013 16:38 WIB

Red: Heri Ruslan

Mengukur kadar gula darah pada penderita diabetes

Mengukur kadar gula darah pada penderita diabetes

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Reiny Dwinanda 

Menyandang penyakit kencing manis, banyak diabetesi jenuh berobat. Mereka bosan terus-terusan minum obat pengontrol gula darah. Adakah solusi lain untuk mereka?

Setiono, yang sudah 20 tahun menjadi diabetesi, sudah mencoba banyak cara untuk sembuh. Paranormal, tabib, dan sinse bergilir disambanginya. ''Tidak pula murah biaya pengobatannya,'' ujar pria berusia 53 tahun itu.

Setiono yakin setiap penyakit ada obatnya, termasuk diabetes. Ia berharap jalan kesembuhan terbuka lewat bantuan pengobat alternatif tersebut. Ada yang pernah menyatakan saya sembuh, tetapi gula darah saya malah tinggi sekali sewaktu dicek. Klaim kesembuhan yang digembar-gemborkan pengobat alternatif memang menggiurkan.

Apalagi, tidak ada larangan dari otoritas kesehatan terhadap praktik tersebut. Patutkah dicoba? Silakan saja, tetapi kritislah menyaring informasi, saran dr Dante Saksono Harbuwono SpPD PhD.

Akupuntur dan akupresur sejauh ini tidak banyak manfaatnya untuk diabetesi. Sedangkan, obat herbal tradisional khasiatnya belum teruji klinis. Bahkan, sampai sekarang belum ada herbal yang dapat menggantikan Galega officialis.

Tumbuhan yang memiliki kandungan guanidine ini sejak abad pertengahan sudah dikenal dapat menurunkan gula darah dengan mengurangi resistensi insulin. Obat oral yang umum diresepkan, yakni metformin, juga mengandung ekstrak herbal ini, kata Dante.

Persoalannya, banyak orang yang membuat testimoni sembuh dari diabetes sejumlah pengobatan alternatif, baik berupa herbal ataupun praktik pengobatan di luar nalar. Testimoni itu pengalaman orang dan belum tentu sama efeknya pada semua diabetesi, komentar Dante yang meraih Tajima Awards, Epidemiology of Diabetes 2008, Jepang.

Dante mengharapkan, masyarakat berhati-hati dalam menggunakan jamu diabetes. Sebab, produsen nakal kerap menyisipkan bubuk obat ke dalamnya. Dampaknya bisa serius jika yang dicampurkan ialah obat diabetes yang sudah dilarang pemakaiannya atau bahan berbahaya lain.

Andaikan ingin mencoba memetik khasiat dari tanaman tertentu sambiloto atau kumis kucing, misalnya Dante menyarankan masyarakat tidak memakai bentuk tablet atau kemasan lain. Demi menjamin kemurnian isi, sebaiknya gunakan olahan segar dari tanaman tersebut. Namun, jangan lepas obat, imbau Dante yang ahli endokrin.

Sejumlah obat herbal tradisional yang populer belum terbukti secara ilmiah manfaatnya bagi diabetesi. Kebanyakan orang yang mengajukan solusi kencing manis berasumsi sesuatu yang manis bisa dilawan dengan obat yang pahit. Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/RS Cipto Mangunkusumo telah menguji beberapa di antaranya. Dari situ terungkap pare, ceplukan, brotowali, dan teh diabetes yang marak ditawarkan ke masyarakat ternyata kurang bermakna efeknya, urai Prof Dr dr Sarwono Waspadji SpPD KEMD.

Setelah mengkaji sejumlah obat-obatan tradisional dan meragukan manfaatnya untuk diabetesi, kini ada spang yang sedang diteliti. Obat tradisional Kalimantan yang konon berkhasiat itu sudah ditemukan ekstraknya. Hanya saja, obat tersebut belum diketahui menjanjikan atau tidak, imbuh Dante.

Bagaimana dengan mengonsumsi undur-undur? Sarwono mengatakan hewan itu termasuk keluarga serangga. Kemungkinan besar mengandung protein. Kecil sekali khasiat yang didapat dengan menelan satu ekor hidup-hidup setiap hari.

Potensi sel punca Diabetes sejauh ini belum bisa diatasi secara instan. Namun, jika pankreas bisa dipulihkan fungsinya, diabetesi bisa sembuh—seperti harapan Setiono. Sejak tujuh tahun terakhir, ilmuwan telah mencoba mengembangkan stem cell alias sel punca yang mampu meregenerasi sel pankreas yang rusak, ungkap Dante yang menjadi koordinator penelitian sel punca di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Lebih lanjut Dante mengatakan, saat ini ia mewakili FKUI telah menemukan bahan yang dapat merangsang pertumbuhan pembuluh darah kaki. Riset sel punca itu dilangsungkan di Yamanashi University, Jepang. Temuan tersebut kelak dapat diaplikasikan pada terapi kaki diabetesi. Penyembuhan luka kaki diabetesi 50 persen gagal akibat adanya gangguan pembuluh darah.

Sel punca, lanjut Dante, merupakan teknik yang sangat menjanjikan bagi diabetes. Namun, angka saintifiknya belum ketahuan. Juga, masih perlu terobosan agar teknik tersebut efektif secara biaya, komentarnya.

Terhadap pengobatan saat ini, Dante mengatakan, akan ada penyempurnaan pedoman terapi diabetes yang baru. Diabetes Guidelines itu rencananya disusun khusus untuk warga Asia. Sebab, secara genetik, kita berbeda dengan orang Eropa dan beberapa obat mereka tentu tidak cocok bagi diabetesi asal Asia.



BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA