Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Sunday, 12 Safar 1443 / 19 September 2021

Lomba Guru Menulis Artikel

Mabuk Daratan, Lupa Lautan

Sabtu 16 Mar 2013 10:58 WIB

Red: M Irwan Ariefyanto

Singapura

Singapura

REPUBLIKA.CO.ID,Oleh : Hapsari Kusumaningdyah

“Sekali-kali mundurlah. Biarlah yang agak sombong, yang tak bisa mundur itu cuma pesawat “ ujar Seniman Sujiwo Tejo dalam bukunya Republic Jancukers. Bait singkat dari Sang Dalang Edan ini mengingatkan saya akan pentingnya sekali-kali kita mengingat sejarah sedikit menengok ke belakang, mencari tahu sekelumit kebijaksanaan masa lampau yang membentuk manusia Indonesia kini.

Mungkin apabila sedikit agak “mundur”, masyarakat Indonesia khususnya warga Jakarta akan berbangga dengan kondisi Jakarta abad ke 18 yang lebih moncer dari Singapura abad kini. Dicatatkan dalam sejarah abad ke 18 para kolonial yang pernah singgah, memuja kota Batavia yang sekarang menjadi Jakarta. James Cook seorang pelaut Inggris bahkan pernah menyatakan bahwa Batavia benar-benar Queen of the East alias Ratu dari Timur, saat singgah di tahun 1770.

Kota yang mendapat Julukan  “Ratu dari Timur” ini bahkan jauh lebih gemerlap dari Tumasek, yang menjadi cikal bakal Singapura. Terlepas dari sejarah hitam pembangunan kota lewat tangan JP Coen, kini julukan  Ratu tinggal kenangan , siapa yang tahu kalau dahulu Jakarta adalah Sang Ratu, yang tahu ya cuma sejarah dari buku.

Kini warga negara kita berbondong-bondong ke Singapura sekedar mampir ke Universal Studio, berbelanja di Orchad Road, bermain ke Pulau Sentosa namun acap kali merutuki kota Jakarta. Mengeluh tentang macetnya Ibu kota, jalanan berubah tempat parkir, sungai berubah jadi tempat sampah, dan tempat sampah berubah jadi tempah tinggal. Mungkin julukan “Ratu dari Timur” akan jadi kenangan, tapi kenangan ini dapat berubah jadi kenyataan bila ada kesadaraan kesejarahan. Kesadaran akan pentingnya sejarah inilah yang perlahan menurut saya timbul tenggelam, dan mungkin akan benar-benar tenggelam bila tidak segera di tularkan.

Murid saya dengan santainya menyeletuk “Pergi ke Laut Aja Loe” tanpa tahu bila laut dahulu begitu di puja dan sakral, namun kini menjadi bahan guyonan.  Laut begitu di puja ketika Sriwijaya sedang berjaya, ketika Menara Syahbandar jadi saksi bisu ramainya perdagangan masa silam, ketika lautan jadi jalan para pedagang menuju pelabuhan di seluruh Indonesia, hingga peradaban pesisir menjadi nadi perdagangan dan penghubung berbagai macam kebudayaan.

Mungkin murid saya akan berhenti berteriak-teriak “Maling sia” secara emosional, bila memahami bahwa di satu masa Asia Tenggara sebagai sebuah entitas dan identitas yang saling berbagi pengalaman sejarah melalui peradaban pesisir, Vickers (2009) menyuguhkan hubungan saling berbagi ini melalui kesusastraan Panji yang dapat di temui dalam tiap lintas budaya dari Melayu, Jawa, hingga Thai.

Proses berbagi ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya secara kultural hanya karena perbedaan kesukubangsaan, politis, dan letak geografis (Purwanto, 2009). Dan mungkin saja, murid saya yang tengah duduk di bangku SMP ini, bercita-cita untuk jadi seorang nelayan, ilmuwan kelautan, maupun angkatan laut ketika dia menyadari bahwa babakan sejarah bangsanya diawali dari lautan dan menyadari bahwa dia hidup ditengah 17.000 pulau-pulau yang diapit oleh lautan.

Kesadaran ini sulit didapatkan bila murid saya hidup diapit gedung-gedung tinggi, yang sebenarnya jaraknya tidak terlalu jauh dari bibir pantai layaknya Jakarta. Tapi bila diajak berkeliling ke museum yang letaknya tak terlalu jauh dari sekolahnya yakni di Museum Bahari di Sunda Kelapa, mungkin mereka akan mengetahui dulunya kerajaan-kerajaan di wilayah  pernah berjaya karena transaksi di pinggir-pinggir pelabuhan kota Jakarta. Sekedar melihat pemandangan pelabuhan bekas kerjaan Padjajaran dari Menara Syahbandar yang sudah ratusan tahun umurnya, berjalan-jalan digalangan Kapal dengan simbol VOC besar yang melekat di temboknya, dan berteduh di antara bangunan tua.

Membaca berbagai macam keterangan di museum, mengingat peristiwa masa lampau,bertanya kenapa rangkaian peristiwa ini dapat terjadi, dan kemudian membuat laporan ringkas dari hasil perjalanannya. Saya membayangkan bila laporan murid saya sebagai narasi cair argumentasi, bukan deskripsi tentang waktu pemenggalan peristiwa yang sudah tertuang dalam buku. Tugas laporan ini akan mengajak murid saya berpikir tentang masa lampau layaknya artikel  R.M. Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang membayangkan dirinya menjadi seorang Belanda “ Als ik een Nederlander was “  saat dimuat di De Expres tahun 1913.

Pelajaran sejarah tentang kebangsaan akan sangat membosankan bila saya sebagai seorang guru hanya bernarasi di depan kelas, mencatat dan mendikte kapan tepatnya peristiwa-peristiwa sejarah terjadi. Saya membayangkan, bila kelas saya setidaknya memiliki LCD maka kami pasti akan berdiskusi setelah memutar film sejarah. Sayangnya kelas kami hanya terdiri dari sekat kayu, empat buah meja kayu, dan tikar dari anyaman bambu dengan puluhan siswa yang duduk berselonjor sambil memperhatikan guru. Terpaksa diawal pelajaran kami menggilir beberapa kelompok untuk melakukan pertunjukkan pembabakan warisan kebudayaan.

Mungkin saat ini murid saya masih “mabuk daratan” dan hanya tahu lautan itu bagian dari saluran pembungan sampah urban dan tempat mencari ikan. Namun bila sejarah dapat diajarkan dengan cara yang menyenangkan,bagian pembabakan sejarah kelautan sebagai identitas bangsa akan dapat tersampaikan dengan baik. Selanjutnya tidak hanya masalah sejarah kelautan saja, namun sejarah kebangsaan maupun sejarah dunia dapat disampaikan.

Pentingnya belajar sejarah tidak hanya untuk mengingat romansa kejayaan saja namun juga belajar dari kesalahan. Konon para Jendral Perang Dunia ke I dan II dapat menang dalam pertarungan karena karena mempelajari  Sejarah Seni Perang Sun Tzu yang ditulis sekitar 400-320 SM, dari sinilah dapat diambil pelajaran bahwa sejarah memang benar-benar mengajarkan “Historia Docet”. Semoga nantinya sejarah menjadi mata pelajaran yang memberikan wawasan dan juga identitas kebangsaan, bukan hanya pelajaran tentang “mundur ke belakang”.

Penulis adalah Guru PLH (Pendidikan Lingkungan Hidup) Sekolah Master Yayasan Bina Mandiri, Depok, Jawa Barat

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA