Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Ekspresi Banjir: Here Comes the Flood

Jumat 18 Jan 2013 11:46 WIB

Red: Heri Ruslan

Warga yang bekerja di kawasan Sudirman terpaksa harus di evakuasi menggunakan mobil Rantis untuk melintasi air banjir yang menggenangi kawasan Jalan Sudirman,Jakarta Pusat, Kamis (17/1).

Warga yang bekerja di kawasan Sudirman terpaksa harus di evakuasi menggunakan mobil Rantis untuk melintasi air banjir yang menggenangi kawasan Jalan Sudirman,Jakarta Pusat, Kamis (17/1).

Foto: Republika/Rakhmawaty La'lang

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Sule rapper dan bintang iklan menuliskan kalimat, “jadi inget Peter Gabriel”. Lalu dengan serta merta pembeli kaset “yess” di era 80’an merespons dengan “here comes the flood”. Yup, memang banjir di Jakarta mengingatkan saya pada judul lagu dari musisi yang lebih di kenal sebagai ex Genesis Peter Gabriel.

Namun lirik lagu sesungguhnya tidak nyambung dengan bahasan kita kali ini. Yang nyambung hanyalah judulnya Banjir.

Banjir kemarin di Jakarta membuat banyak sekali komentar di jejaring sosial. Ada yang bersifat penting, dengan meng-upload nomor-nomor posko bantuan, perahu karet dan sebagainya. Namun ada juga yang mengeluarkan komentar-komentar yang tidak semestinya seperti guyonan, yang menurut beberapa orang tidak pantas. Seperti di account twitter @armandmaulana penyanyi gigi tersebut berkomentar ; Msh heran ama orang pas gw ngetwit untuk korban banjir msh ada yg RT becanda.. cmon guys empatinya dmn?#PrayForJKT.

Memang berbagai reaksi muncul menghadapi musibah. Ada yang langsung menyalahkan pemerintah, ada yang bercanda, ada yang langsung terjun ke lapangan dengan sigap menolong korban, ada yang berharap dan berdoa, bermacam-macam. Ada juga yang membangkitkan semangat seperti yang dinyatakan di account @gm_gmsastrawanGoenawanmuhamad ; ”Tiba2 saya merasa mencintai kota ini, melihat mereka -- terutama anak2 muda Jakarta – yg dgn cepat bentuk jaringan pertolongan korban”.

Jika kita bahas bagaimana manusia menghadapi musibah di dalam keimanan ada beberapa cara:


1.    Marah
Ini eksperi yang paling mudah, yaitu marah dengan mencari kesalahan orang lain. Tidak menerima keadaan dan sebagainya. Malah sering kali menyalahkan Allah SWT. Sebagaimana ayat ; “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi ; maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata”. (QS. Al-Hajj : 11).

Artinya dia mempunyai keyakinan yang setengah-setengah atau ragu bahkan. Karenanya jika diberi kesenangan, dia tetap dalam keimanan. Namun jika diberikan musibah dia kembali bermaksiat.

2.    Sabar
Banyak awam yang salah mengartikan sabar adalah diam. Secara bahasa sabar berarti al-habsu (menahan) dan al-man’u (mencegah), yaitu lawan kata dari al-jaz’u (keluh kesah). Dikatakan: shabara shabran maksudnya : tegar dan tidak berkeluh kesah. Sabar mempunyai sifat yang dinamis. Artinya terus berusaha dan orientasi hasil berharap pada Allah semata. “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfaal : 46)

3.    Ridha
Bagi seorang hamba yang zuhud, apa yang ada di sisi Allah (yang Allah tetapkan) lebih dia percayai dari pada apa yang dia inginkan. Hal ini timbul dari keyakinannya yang kuat dan lurus terhadap kekuasaan Allah. Karenanya dalam menghadapi musibah ia hanya akan mencari ridha Allah SWT. “..Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya..” (QS. Al-Bayyinah : 8)

4.    Bersyukur
Hanya orang-orang tertentu yang ketika dia mendapat musibah dia bersyukur. Artinya merekalah yang dapat melihat hikmah di balik peristiwa musibah tersebut. Di sini seseorang bersyukur atas musibah yang menimpanya karena ia memahami bahwa musibah ini menjadi sebab pengampunan kesalahan-kesalahannya bahkan mungkin malah menambah kebaikannya. Sebagaimana hadits ; “Tidaklah seorang Muslim menderita karena kesedihan, kedudukan, kesusahan, kepayahan, penyakit, dan gangguan duri yang menusuk tubuhnya kecuali dengan itu Allah mengampuni dosa-dosanya.” (HR. Bukhari)

Kembali kepada musibah Banjir yang melanda tidak hanya kota Jakarta tetapi juga kota lainnya di Indonesia. Ini adalah semestinya bentuk penyadaran kolektif, karena banjir tidak hanya merupakan musibah perorangan tetapi ini adalah musibah bersama. Karena itu marilah daripada saling menyalahkan.

Hayo semua singsingkan lengan baju. Tidak peduli Presiden sampai rakyat jelata. Turun “blusukan” kata Jokowi, “kukurusukan” kalo kata orang sunda. Bantu orang yang terkena musibah, perbaiki semua penyebab banjir, ubah perilaku-perilaku penyebab banjir seperti buang sampah sembarangan dan sebagainya. Dan jangan lupa sama-sama berdoa, semoga musibah ini menjadi trigger untuk “tobat kolektif”, menjadi penyemangat ibadah, memunculkan spirit kebersamaan, mengucurkan keringat gotong-royong, menghadirkan semua yang bersifat positif, dan tidak lupa sebagai penggugur dosa-dosa kita. Aamiin.
 
Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Erick Yusuf: Pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient)       
@erickyusuf
erickyusuf@yahoo.com

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA