Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Tuesday, 17 Zulhijjah 1442 / 27 July 2021

Toleransi Konten Kekerasan terhadap Wanita, Facebook Minta Maaf

Selasa 08 Jan 2013 17:37 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Facebook

Facebook

Foto: REUTERS

REPUBLIKA.CO.ID, PALO ALTO--Gara-gara ulah pengguna, Facebook pun meminta maaf. Bahkan raksasa jejaring sosial itu sampai merasa perlu mendatangi satu media teknologi ternama AS, Wired, Senin (7/1) kemarin untuk menyampaikan klarifikasi. Apa pasal?

Pekan lalu Wired menerbitkan artikel tentang foto perempuan Islandia. Thorlaug Agustsdottir, yang sudah dipermak ulang oleh pengguna di laman antiwanita Facebook hingga wajahnya terlihat lebam di sana-sini akibat dipukuli. Bersama foto itu terdapat keterangan berbunyi," Wanita seperti rumput, mereka butuh dipukuli/dipotong secara rutin."

Juru bicara Facebook menyatakan foto semacam itu seharusnya diturunkan bila dilaporkan kepada kami. "Kami meminta maaf atas kesalahan tersebut," ujarnya.

Si jubir juga menegaskan. "Kami membuat pernyataan dan memandang serius tanggung jawab serta bereaksi cepat untuk menghilangkan konten yang dilaporkan bila itu melanggar kebijakan kami. Secara umum, upaya humor, bahkan meski menjijikan dan tidak mengenakkan tidak melanggar kebijakan kami. Tapi ketika ancaman nyata atau pernyataan kebencian dibuat, maka kami akan menghapusnya. Kami mendorong setiap pengguna untuk melaporkan apa pun yang mereka pikir melanggar kebijakan kami dengan melaporkan lewat tautan-tautan yang berada di penjuru laman,"

Permintaan maaf ini dinilai langkah positif untuk situs media sosial yang di masa lalu dipandang angin-anginan dalam penerapan dan pengawasan kebijakan, terutama bila menyangkut konten-konten berbau pemerkosaan dan kekerasan terhadap wanita. Selama ini konten macam itu dianggap bisa diterima selama dikemas dalam humor.

Terlepas dari permintaan maaf itu, Agustsdottir, menyatakan ia masih ingin tahu. "Bagaimana mereka membenahi masalah dan memastikan kejadian serupa tak terulang. Saya hanya ingin klarifikasi." ujarnya. "Kesalahalan ini pasti muncul kembali bila tidak ada kebijakan tegas cukup jelas."

Informasi terkait tanggapan atas Agustsdottir belum muncul dari Facebook. Jejaring sosial terbesar dunia itu pun belum merinci seperti apa kualifikasi bentuk-bentuk konten yang disebut tidak layak.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA