Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Playing God

Sabtu 22 Dec 2012 05:30 WIB

Red: Heri Ruslan

ilustrasi

ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Bismillaahirrahmaanirrahiim,


Alhamdulillah beberapa pekan lalu saya menerima sebuah buku yang sangat inspiratif dan memotivasi. Dicover bukunya tertulis judul “Playing God” – true story pertarungan batin seorang dokter, di halaman depan buku itu tertulis tangan untuk sahabatku ustadz Erick Yusuf sebagai bahan sharing, lengkap dengan tanda tangan Rully Roesli. Lengkapnya Prof. Dr. dr. Rully M.A Roesli SpPD-KGH, ya Mas Rully biasa saya memanggil beliau, itu dikarenakan beliau adalah kakak dari sahabat sekaligus salah satu guru saya seniman dan budayawan ‘bengal’ almarhum Harry Roesli cucu dari pujangga Marah Roesli.

Jika kita menela’ah dari free Dictionary, tertera “Playing God” adalah sebuah idiom dalam bahasa Inggris artinya to be have as if you have the right to make very important decisions that seriously affect other people lives. Terjemahannya kurang lebih, berperilaku seolah-olah anda memiliki hak untuk membuat keputusan yang sangat penting, yang secara serius mempengaruhi kehidupan orang lain, atau orang banyak. Jika menurut Mas Rully “Playing God” artinya bertindak seolah Tuhan, yang dampaknya sangat besar. Atau menurut grup band Alternatif Paramore asal amrik “playing God” diartikan “berperilaku serasa yang paling benar atau paling berkuasa”.

Sejenak saya pikir tadinya buku ini hanya akan menceritakan kegalauan spiritual seorang dokter yang kerjanya selalu berhubungan dengan hal-hal eksak dalam teori kedokterannya, kematian, penyelamatannya wadan sebagainya yang pada akhirnya kenyataan ilmiah membawanya kepada kebenaran ayat-ayat Al Qur’an. Tetapi ternyata lebih jauh dari itu, buku ini religius, romantis sekaligus heroik.

Mengajak kita untuk kembali mengevaluasi keputusan-keputusan yang menyangkut kehidupan orang lain dan juga diri kita sendiri, mengajak kita berhati-hati untuk mengambil keputusan-keputusan tersebut. Apapun peranan kita, apakah presiden, hakim, pejabat publik, wakil rakyat, polisi, pengusaha, professional, wiraswasta, enteupreuner, kyai, da’i, ustadz, pelajar, mahasiswa, ibu rumah tangga, apapun predikat yang melekat atau embel-embel identitas dan predikat kita ; pertanyaannya sudahkah kita “Playing God” atau mengambil keputusan yang bijak dalam koridor yang benar, yang Haq, yang Allah SWT ridho terhadapnya, ataukah kita hanya “Playing God” dalam konteks sewenang-wenang, yang kita berperilaku merasa paling benar?, merasa paling berkuasa?, karena secara langsung dan tidak langsung keputusan kita akan berefek pada kehidupan orang lain. Na’udzubillah.

Terbersit sebuah ayat ketika Allah SWT menciptakan Adam as, sebagaimana ayat ;''Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi''. (QS. Al Baqarah, 2 : 30). Kesalahan awam dalam menafsir ayat tersebut adalah mereka mengira seakan-akan menjadi wakil Allah SWT di muka Bumi ini atau menggantikan fungsi Tuhan di Bumi, padahal tidak seperti itu.

Memang kata Khalifah pada mulanya berarti yang menggantikan atau dalam tafsir Al Mishbah adalah yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Artinya menggantikan Allah SWT dalam menegakkan kehendakNYA dan menerapkan ketetapanNYA, bukan karena Allah tidak mampu tetapi sebagai bentuk ujian dan penghormatan kepada manusia.
Kekhalifahan berarti wewenang yang dianugerahkan Allah kepada manusia untuk memenuhi tugasnya, serta wilayah tempatnya bertugas yaitu bumi yang menghampar. Karenanya tugas kekhalifahan mengharuskan makhluk yang diserahi tugas dan wewenang, melaksanakan tugasnya sesuai dengan petunjuk Allah SWT sebagai pemberi tugas. Kebijakan, langkah atau pengambilan keputusan yang tidak sesuai dengan kehendakNYA merupakan pelanggaran terhadap makna dan tugas kekhalifahan.

Oleh karenanya perlulah kita bermuhasabah, sudahkah kita melakukan keseharian kita ini sesuai dengan kehendak Allah?. Semisal dari hal-hal yang kecil; mulai bangun tidur seperti apakah yang Allah ridho?, mandi yang seperti bagaimanakah, makan, berpakaian, bekerja, mengobrol, berjalan, berkendara, sholat, istirahat, tidur yang sepertiapa yang Allah ridho? Bahkan seluruh aktivitas kita dalam keseharian mestilah kita periksa kembali adakah yang tidak sesuai dengan kehendakNYA?.

Juga yang diamanahkan berupa fasilitas dan nikmat kepada kita, semisal; ilmu, akal dan kecerdasan, jabatan, jasad (tangan, kaki, tubuh kita), panca indra, rizki (yang dimakan sampai habis, yang dipakai sampai usang, dan yang disedekahkan), sudahkah kita gunakan sesuai dengan petunjuk dan kehendakNYA?. Bagaimana dengan anak kita, istri, karyawan, tetangga dan sebagainya?, binatang peliharaan, tanaman, perusahaan, rumah, air, listrik, bahkan bumi ini bukankah semuanya adalah titipan amanah dari Allah yang mesti kita gunakan sesuai dengan yang ditugaskan kepada kita sebagai seorang khalifah.

Lalu bagaimana menjadi khalifah yang amanah?, apakah kita termasuk orang-orang yang “Playing God” dalam arti positif atau negatif?. Allah SWT menuntun kita sebagai khalifah yang haq itu sebagaimana dalam ayat ; “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta'atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus..” (QS Al Bayyinah : 5).

Karenanya seseorang mestilah mengikhlaskan/memurnikan keta’atannya kepada Allah dengan tidak mencampurnya sedikitpun, seperti syirik dalam kata lain keimanan/keyakinan yang tidak tertuju hanya kepada Allah atau riya/sum’ah artinya motivasi mengerjakan sesuatu berdasarkan ingin mendapat balasan atau penghormatan dari sesama makhluk, bukan karena Allah semata. Oleh sebab itu murnikan ketaqwaan dan keta’atan kepada Allah SWT dengan selalu berpedoman kepada aturan “manual book kehidupan” yaitu Al Qur’an, dan selalu terbimbing melalui As Sunnah Rasulullah SAW dan menyandarkan segala tujuan dari seluruh aktivitas kepada mencari Ridho Allah SWT. Insya Allah.
Kembali pada buku “Playing God”, terdengar kabar bahwa buku tersebut akan difilm layarlebarkan, Alhamdulillah semoga banyak yang tercerahkan. Selamat pak dokter, sukses dunia akhirat!

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Erick Yusuf: pemrakarsa Training iHAQi – (Integrated Human Quotient)     
@erickyusuf – erickyusuf@yahoo.com

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA