Monday, 11 Syawwal 1439 / 25 June 2018

Monday, 11 Syawwal 1439 / 25 June 2018

Pilkada DKI Cenderung Sepi, Warga Apatis?

Sabtu 07 July 2012 12:55 WIB

Rep: Ira Sasmita/ Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

 Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Menteng menyiapkan kotak-kotak suara Pilkada DKI Jakarta 2012-2017 di Kantor Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/6). (Aditya Pradana Putra/Republika)

Petugas Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Menteng menyiapkan kotak-kotak suara Pilkada DKI Jakarta 2012-2017 di Kantor Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (19/6). (Aditya Pradana Putra/Republika)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik Yunarto Wijaya, mengatakan suasana Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta pada 2012 ini, secara psikologis cenderung sepi. Berbeda dengan Pilkada sebelumnya yang ramai dan dipenuhi euforia dari berbagai lapisan masyarakat.

"Terjadi apatisme publik secara menyeluruh di seluruh segmen. Baik masyarakat golongan bawah, maupun level masyarakat yang cukup sadar dengan kondisi politik yang berlangsung," kata dia pada diskusi bertajuk "Menghitung Hari Pilgub DKI" di Jakarta, Sabtu (7/7).

Yunarto menilai kurang meriahnya Pilkada ini sebagai bentuk kebosanan masyarakat. Jika dirunut, kejenuhan itu berakar dari kembali majunya calon gubernur (cagub) incumbent pada Pilkada.

Sehingga, katanya, masyarakat secara sadar ataupun tidak  melakukan evaluasi terhadap kinerja incumbent selama lima tahun menjabat sebagai gubernur. "Masyarakat secara tidak langsung belajar, terjadi pendidikan politik. Tidak ada kemajuan selama lima tahun, sehingga ketidakantusiasan terhadap Pilkada sangat dominan," ujarnya.

Munculnya tokoh-tokoh baru dalam Pilkada DKI ini, menurut dia, tidak memberikan pengaruh yang signifikan. Sebab, kemarut permasalahan di Jakarta menggiring masyarakat pada satu persepsi. Bahwa, siapapun yang akan memimpin Jakarta, tidak akan bisa memberikan perubahan yang diinginkan oleh warga.

Alhasil, suasana ramai saat kampanye dan  antusias warga terhadap cagub, tidak seperti Pilkada sebelumnya. Antusiasme masyarakat hanya sampai pada titik bahwa Pilkada akan dilangsungkan. Tidak diiringi dengan kepedulian terhadap muatan di dalam Pilkada tersebut.

Namun, diakui Yunarto, dibandingkan Pilkada 2007, terjadi peningkatan kualitas pada Pilkada DKI 2012 ini. Yaitu pada manajemen anggaran dari kandidat cagub dan kampanye politik melalui media sosial. Serta kemunculan dua pasang cagub dari jalur independen.

"Kalau dulu, warga menghadiri kampanye untuk mengetahui dan mendengarkan cagub sambil dangdutan. Sekarang, kalaupun datang, mereka hanya sekadar dangdutan saja. Tidak lagi peduli cagubnya siapa," katanya.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA