Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Tuesday, 29 Ramadhan 1442 / 11 May 2021

Sawah Terkena Limbah, Petani Gagal Panen

Senin 12 Nov 2012 12:58 WIB

Rep: Aldian Wahyu Ramadhan/ Red: Dewi Mardiani

Limbah pabrik yang mencemari lingkungan.Ilustrasi.

Limbah pabrik yang mencemari lingkungan.Ilustrasi.

Foto: Dok Republika

REPUBLIKA.CO.ID, SOREANG -- Puluhan hektare sawah di Desa Linggar, Rancaekek, Kabupaten Bandung gagal panen. Hal ini karena air yang mengalir ke sawah di wilayah tersebut tercampur limbah.
 
Mantan Ketua Kelompok Tani Persawahan Ranca Keong, Duyeh Abdullah, mengatakan limbah ini disebabkan pabrik-pabrik mengganti bahan bakar untuk mesinnya dengan batu bara. “Sejak diganti, sawah selalu gagal panen,” ujar dia, Senin (12/11) siang.
 
Menurut Duweh, air limbah tersebut mempengaruhi air sawah. Airnya menjadi kental dan berbau tidak sedap. Dia menambahkan saat menanam padi diawal tahun ini hasilnya masih bagus namun setelah beberapa hari padi tersebut rusak.
 
Limbah, kata dia, berasal dari salah satu pabrik besar yang berpusat di Sumedang. Warna limbah biasanya berwarna berbeda-beda, terkadang berwarna putih bercampur sabut. Menurut dia, yang berwarna putih ini yang berbahaya, apabila terkena padi bisa langsung mati dalam sehari.
 
Air yang mengaliri sawah, tutur Duyeh, sudah diperiksa di laboratorium. Ternyata hasilnya mengandung kadar besi dan belerang.
 
Dia menyatakan, tidak ingin pabrik yang mengalirkan limbah ini ditutup. Dia tahu pabrik ini memiliki banyak pekerja yang mencari nafkah di sana. Pabrik, kata Duyeh, tidak perlu ditutup tetapi harus dibersihkan limbahnya. “Sebelum dialirkan diproses, agar air yang mengalir bersih,” tutur dia.
 
Seorang Petani di Desa Linggar, Asep, mengatakan, tidak bisa mendapatkan hasil panen yang baik pada tahun ini. Hasil panen tidak bagus, perkiraan akan buruk hasil panen tahun ini.
 
Menurut dia, banyak petani yang mengalami kegagalan panen menjual sawahnya. Bahkan ada yang lahannya kini sudah dijadikan tempat pemukiman. Petani rugi besar, kata Asep, menjual tanah ke pengembang, dibeli pengembang dengan harga yang rendah. Ada yang menjual lahan, ditawar dengan harga yang sangat rendah.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA