Tuesday, 16 Rajab 1444 / 07 February 2023

Guru Berkepribadian

Rabu 03 Oct 2012 15:29 WIB

Red: Miftahul Falah

Simulasi line games

Simulasi line games

Foto: freedomwritersfoundation.org

Tawuran pelajar, apa yang ada di benak Anda? Nyawa pelajar kembali melayang sia-sia, lagi dan lagi. Saya kehabisan kata jika mencermati fakta, tawuran dilakukan anak-anak sekolah. Kesannya, tak ada pengaruh sama sekali proses pengajaran dan pendidikan di sekolah terhadap perilaku anak.

Pantaskah pihak sekolah disalahkan? Bagaimana dengan orang tua, guru, dan masyarakat, salahkah juga mereka? Hemat saya, kesalahan tak bisa ditimpakan kepada salah satu pihak. Karena semua punya kontribusi atas terjadinya kasus memilukan ini. Kecuali siswa yang membunuh, jelas dia bersalah, apapun alasannya. Titik.

Ingat tawuran pelajar, benak saya menerawang, teringat dengan sebuah film bertajuk Freedom Writers: Their Story Their Words. Hillary Swank bermain sangat menawan di film itu. Film yang diangkat dari kisah nyata, perjuangan seorang guru mengubah kehidupan para muridnya.

Apa hubungannya dengan tawuran pelajar? Sabar sebentar, saya mulai analisis dari sebuah hasil kajian dari beberapa literatur, yang menunjukkan pentingnya faktor kepribadian guru dalam keberhasilan mendidik murid.  

Callahan (1996) menyatakan, faktor kepribadian guru sangat esensial dalam aktivitas pengajaran dan pembelajaran. Guru berkepribadian mampu menciptakan dan menjaga lingkungan belajar yang membuat murid nyaman dan termotivasi belajar.

Mari ingat kembali semasa belajar di bangku sekolah. Pernah punya pengalaman bolos karena tak suka dengan cara mengajar dan pribadi sang guru? Saya punya pengalaman tak nyaman dengan pribadi dan cara mengajar guru. Tapi saya lebih memilih sikap tetap bertahan di kelas. Memang kurang nyaman, tapi itulah risiko dari sebuah pilihan. Coba cermati kalau ada dari sebagian murid bolos sekolah karena faktor yang satu ini. Masih mau anggap sepele pentingnya guru berkepribadian?

Sebuah hasil studi menunjukkan, kualitas hubungan guru dan siswa semenjak masuk bangku sekolah menengah (SMP dan SMA) semakin renggang dan memburuk. Makna tersiratnya, guru semakin memantapkan posisinya sebagai pengajar saja. Kelas hanya jadi tempat transaksi jual beli ilmu pengetahuan. Target kurikulum tercapai, itu indikator keberhasilan guru tipe pengajar. Soal apa yang terjadi dalam kehidupan siswa, itu bukan urusannya lagi.

Kalau saya gambarkan secara ekstrim, guru seperti ini akan mudah menilai siswa dari hal yang tampak mata. Nilai ujian jeblok, kesimpulannya murid gagal belajar. Tak pernah terpikir dan merenungi, mengapa dia bisa gagal? Apakah ada faktor lain di luar cara dia mengajar yang membuat murid gagal?

Clinton (1930) menyebut aspek pribadi guru yang terbuka, simpatik, dan punya sense of humour sebagai karakteristik guru yang baik. Berturut-turut aspek rasa kasih sayang pada murid dan suka menolong (Bousfield, 1940), senang memotivasi dan bersikap fair (Perry, 1971), berpikir terbuka dan dapat dipercaya (Haslett, 1976) bisa jadi daya kontribusi untuk meningkatkan kualitas hubungan antara guru dan murid.

Tegasnya, guru tak cukup kompeten dan cerdas, tapi harus punya sisi kepribadian yang bisa jadi teladan bagi murid-murid. Jika tak punya sisi kepribadian baik, sulit bagi guru bisa perankan diri jadi pendidik.

Erin Gruwell, sosok guru inspiratif yang mampu perankan dirinya sebagai pendidik. Jangan salah, sebagai pengajar pun, dia amat kreatif temukan strategi mengajar yang tepat bagi murid-muridnya.

Kebencian, rasa dendam, pembangkangan, semua energi negatif itu hadir mendominasi atmosfer di kelas Erin Gruwell. Jika bukan karena cinta, mustahil dia keukeuh tetap mengajar di kelas itu. Saat guru lain menyerah, dia ciptakan simulasi line games di situasi pembelajaran. Cara paling efektif untuk menumbuhkan rasa senasib sepenanggungan, hingga pada akhirnya membentuk solidaritas di antara murid-murid yang notabene multietnis.

Guru Erin paham murid-murid butuh katarsis untuk meluapkan segala emosi negatif. Dia berikan sebuah buku catatan kosong, lalu dia minta murid-murid menuliskan semua kisah hidup mereka. “Silakan Anda tulis kisah hidup Anda, dan simpan di rak ini. Setiap Anda selesai menulis, saya akan luangkan waktu untuk membacanya. Jika Anda perlu saya untuk memecahkan persoalan hidup Anda, saya siap membantu Anda,” janji Erin Gruwell pada murid-muridnya. Itulah titik balik paling penting dalam kesuksesan mengajar guru Erin.

Siapa sangka kehidupan murid Erin Gruwell berangsur membaik. Dulu yang gemar narkoba, mulai tinggalkan barang haram itu. Mereka yang kabur dari rumah, kembali dan meminta maaf kepada orangtuanya. Lalu hubungan mereka dan keluarganya menjadi semakin harmonis. Dan banyak perubahan lain yang terjadi pada kehidupan murid Erin Gruwell.

Ajaibnya, dengan cara mengajar guru Erin, murid-murid menjadi keranjingan menulis. Bagi murid Erin, menulis jadi terapi terbaik untuk menghapus bayangan kelam masa lalu. Lantas mereka menata kembali hidup untuk masa depan gemilang. Excellent.

Jika saya jadi murid Erin Gruwell, saya akan merasa sangat kehilangan andai dia pindah sekolah untuk mengajar di tempat lain. Sungguh, saya sangat merasa kehilangan.

Mungkin, murid-murid yang turun ke jalan untuk tawuran, tak sempat merasakan rasa kasih sayang dari guru-guru mereka. Mereka butuh dididik oleh guru yang punya kepribadian baik. Mereka yang memahami secara utuh sisi pribadi dari setiap murid. Guru yang mau mendengarkan dan berbagi cerita dalam proses perjalanan murid menggapai mimpi dan cita di masa depan. Mereka adalah guru yang siap menjadi jalan bagi kesuksesan dan kebahagiaan para murid.

Eh, saya kembali terusik dengan berita tentang tawuran pelajar. Ngomong-ngomong, butuh berapa Erin Gruwel untuk tuntaskan soal tawuran pelajar di Indonesia? Berapapun jumlahnya, kalau semua stakeholders pendidikan lain tak berbenah, hanya utopia saja. 

Asep Sapa'at

Teacher Trainer di Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA