Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Wednesday, 30 Ramadhan 1442 / 12 May 2021

Kemarau Picu Harga Sayuran Meroket

Sabtu 08 Sep 2012 08:09 WIB

Red: Heri Ruslan

Buah dan sayuran banyak mengandung gizi yang bermanfaat/ilustrasi.

Buah dan sayuran banyak mengandung gizi yang bermanfaat/ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, BANJARMASIN -- Seiring dengan musim kemarau tahun ini, membuat harga sejumlah jenis sayuran produk lokal, Kalimantan Selatan, melambung tinggi.

Sebagai contoh beberapa hasil petani lokal, seperti mentimun yang biasa cuma Rp3.000/Kg, kini Rp9.000/Kg dan jagung sayur dari semula hanya Rp1.000/biji menjadi Rp3.000/biji, demikian hasil pemantauan, Sabtu.

Begitu pula jenis sayur mayur, seperti kacang panjang yang biasanya cuma seharga Rp3.000 menjadi Rp8.000 dan bayam dari Rp1.500/ikat menjadi Rp4.500/ikat.

Minah (31), seorang pedagang sayuran di kawasan Jalan A Yani Km8 Banjarmasin, menyatakan, oleh karena saat membeli barang dagangan tersebut mahal, maka menjualnyapun terpaksa mahal juga.

"Bahkan ada sayuran yang harganya mahal terpaksa dibeli, untuk dijual kembali, karena buat melengkapai dagangan dan memenuhi keinginan pelanggan," lanjut ibu dari dua anak tersebut.

"Ya, yang namanya mencari nafkah hidup, kita berusaha melengkapi barang dagangan, walau dengan jumlah kecil atau seadanya, guna memenuhi keinginan konsumen," demikian Minah.

Sementara Hadi (35), seorang pekebun dan pemasok sayuran di Pasar Ahad Kertak Hanyar Kabupaten Banjar Kalsel, mengaku, hasil usaha kebunnya terancam rugi.

Pasalnya, ungkap pekebun asal Pengaron Kabupaten Banjar (sekitar 75 kilometer utara Banjarmasin) itu, produktivitas kebunnya menurun dikarenakan musim kemarau.

"Karenanya, guna mengurangi kerugian dari usaha berkebun tersebut, maka terpaksa menjual hasilnya mahal," tutur pekebun yang mengaku punya tiga anak itu.

Ia menerangkan, penyebab berkurang produksi hasil kebun tersebut, karena tanamannya mulai mengering, sementara sumber mata air yang biasa untuk menyiram juga mengalami kekeringan.

"Oleh sebab itu, kami hanya pasrah terhadap hasil kebun, kecuali menjual dengan harga mahal agar tidak terlalu banyak rugi," demikian Hadi.

Sedangkan seorang ibu rumah tangga, Nurul (59), menyatakan, memaklumi harga sayuran yang mahal tersebut sebagai sebab akibat dari musim kemarau.

"Oleh karena kita memerlukan, sehingga walau mahal tetap dibeli. Hanya saja jumlah beliannya dikurangi dari biasa," ujar ibu dari dua anak tersebut.

sumber : Antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA