Wednesday, 2 Rabiul Awwal 1444 / 28 September 2022

Masjid Agung Djenne, Masjid Lumpur Kebanggaan Muslim Mali (2)

Selasa 14 Aug 2012 21:30 WIB

Rep: Nidia Zuraya/ Red: Chairul Akhmad

 Masjid Agung Djenne di Mali, Afrika Barat.

Masjid Agung Djenne di Mali, Afrika Barat.

Foto: sacredsites.com

REPUBLIKA.CO.ID, Djenne, selain dikenal sebagai kota perdagangan, juga dikenal sebagai kota peziarah dan pusat studi Islam.

Masjid Agung itu sendiri dari awal dibangun hingga kini mendominasi alun-alun pasar utama di kota tersebut.

Menurut sejumlah literatur, penduduk Djenne memiliki masjid pertama kali pada 1240, yang dibangun oleh Sultan Koi. Penguasa Djenne ini setelah memeluk Islam lantas mengubah istananya menjadi masjid.

Sangat sedikit yang tahu dan berhasil melacak bentuk serta tampilan masjid pertama itu. Namun Syekh Amadou, pemimpin Kota Djene di awal abad ke-19, menganggap masjid itu terlalu mewah dan berlebihan.

Syekh pun membangun masjid kedua pada 1830, dan memerintahkan merobohkan masjid pertama, saat masjid kedua rampung. Sementara Masjid Agung Djenne yang tak lazim itu dibangun pada 1906.

Saat berada di bawah kendali Pemerintah Prancis, mereka menawarkan kepada Pemerintah Mali, sejumlah bantuan finansial dan politik untuk pembangunan masjid. Dari dari bantuan itu, akhirnya proses pembangunan masjid bisa diselesaikan dalam tempo satu tahun, tepatnya 1907.

Dari lumpur

Sebagaimana dilaporkan laman situs Sacred Sites, masjid yang dikonstruksi di bawah pengawasan ahli bangunan bernama Ismaila Traore ini, terbuat dari batu bata lumpur yang dikeringkan dengan sinar matahari (ferey) dan berbahan dasar semen.

Sementara lapisan luar menggunakan plester juga berbahan dasar lumpur sehingga memberi tampilan halus berkelok, layaknya patung.

Dinding memiliki ketebalan antara 40-60 cm. Ketebalan ini sangat bergantung pada tinggi tembok. Dinding lebih tinggi akan dibuat lebih tebal karena harus menopang struktur lebih berat.

Selama pagi hingga sore, dinding-dinding itu secara perlahan menghangat dari luar ke dalam. Di malam hari mereka mendingin lagi. Namun, radiasi panas yang dihantarkan dinding membuat suhu udara dalam masjid tetap hangat dan sejuk meski udara di luar mendingin drastis.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA