Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Pemasaran Sulit, Sekarung Garam Dibarter Dua Karung Padi

Sabtu 28 Jul 2012 17:20 WIB

Red: Taufik Rachman

Petani garam

Petani garam

Foto: ANTARA

REPUBLIKA.CO.ID,KUPANG--Para penambak garam di Desa Pitai, Kecamatan Sulamu, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur menjual hasil tambaknya dengan sistem barter untuk mendapatkan padi dari para petani di desa tetangganya, Pariti dan Nunkurus.

"Kami terpaksa harus barter dengan padi dengan dua desa tetangga tersebut agar bisa mendapatkan bahan makanan. Kami kesulitan untuk memasarkan garam," kata Ayub Paulus, seorang penambak garam di Desa Pitai, Sabtu.

Menurut dia, para penambak garam di wilayah timur laut Kota Kupang itu kesulitan menjual garam, karena tidak ada sarana transportasi yang menghubungkan Desa Pitai dengan desa lainnya di wilayah Kecamatan Sulamu serta daerah lainnya di wilayah Kabupaten Kupang.

"Karena kesulitan tersebut, kami terpaksa barter garam dengan padi dengan dua desa tetangga tersebut untuk bisa mendapatkan bahan makanan," katanya menambahkan.

Ayub mengatakan di atas areal seluas 2,0 hektare, 17 warga yang melakukan aktivitas penambak garam bisa menghasilkan sekitar 30-70 kilogram garam.

"Tetapi kami mau jual kemana? Tidak ada sarana transportasi yang bisa digunakan untuk memasarkan garam, terpaksa kami barter dengan warga desa tetangga untuk mendapatkan bahan makanan," ujarnya.

Menurut dia, sekarung garam berukuran 50 kg, dibarter dan dihargai dengan dua karung padi berukuran 72 kg. Proses barter garam dilakukan sebelum panen padi tiba.

"Kami antar garam ke setiap rumah tangga yang sudah menjadi langganan dan setelah itu baru mendapatkan padi. Jika mereka sudah panen, baru kami ambil padinya," kata Ayub.

Menurut dia, Desa Pitai memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan sentra produksi garam.

Namun demikian, perlu ada dukungan pemerintah untuk bisa mendorong peningkatan kualitas produksi serta penyalurannya, agar bisa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat penambak.

"Hasil produksi kami puluhan ton setiap bulan tapi mau dibawa ke mana, akhirnya membuat kami membatasi produksi," kata dia.

Dia juga berharap bantuan pemerintah untuk bisa memperbaiki infrastruktur jalan yang melintas di daerah itu, agar bisa memudahkan akses transportasi guna mendukung gerak pertumbuhan ekonomi di daerah tersebut.

sumber : antara
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA