Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sumpeh Loh?

Jumat 27 Jul 2012 04:40 WIB

Red: Heri Ruslan

Mengucapkan sumpah (ilustrasi)

Mengucapkan sumpah (ilustrasi)

Foto: REPUBLIKA

REPUBLIKA.CO.ID,  Assalamu’alaikum
Bismillaahirrahmanirrahiim,

Ketika makan bakso malang di salah satu sudut kota Bandung, sekumpulan remaja tampak ngobrol dengan asiknya. Topik obrolan mereka cukup beragam. Mereka pun tidak terlalu perduli terhadap saya dan orang-orang sekitarnya yang dapat dengan jelas mendengar percakapan mereka.

Salah satunya yang saya tangkap adalah perkataan “Sumpeh loh, iih fitnah banget!”. Kata-kata inilah yang berulang-ulang mereka ucapkan dan akhirnya menarik perhatian saya. Mungkin kebiasaan itu dikarenakan mereka kurang paham tentang kedudukan sumpah dan fitnah dalam tatanan kehidupan ini. Karena sebenarnya tidaklah seseorang patut mengumbar sumpah apalagi fitnah. Mari kita bahas lebih jauh mengenai hal ini.

Definisi Sumpah menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah ;
1. Pernyataan yang diucapkan secara resmi dengan bersaksi kepada Tuhan atau kepada sesuatu yang dianggap suci. (untuk menguatkan kebenaran dan kesungguhan).
2. Pernyataan disertai tekad melakukan sesuatu untuk menguatkan kebenarannya atau berani menderita sesuatu kalau pernyataan itu tidak benar.
3. Janji atau ikrar yang teguh (akan menunaikan sesuatu)

Jadi sumpah seakan berfungsi untuk menumbuhkan dan menyamankan rasa kepercayaan terhadap pihak-pihak yang diikat atau disumpahkannya.Selain itu juga sangat berfungsi untuk membangkitkan semangat  dan motivasi. Seperti gajah mada dengan sumpah palapanya, prajurit dengan sumpah sapta marganya, bhayangkara dengan sumpah tri brata, sumpah pemuda, dan sumpah-sumpah lainnya.

Jika kita menelaah dalam Alquran kata sumpah berasal dari kata dasar bahasa Arab yaitu “al-qasamu” yang bermakna menguatkan sesuatu dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan.Atau juga “al-Aiman” yang merupakan jamak dari kata “al-Yamiin”.

Yang berarti asalnya adalah tangan kanan, karena untuk bersumpah masyarakat Arab biasanya mengangkat tangan kanan mereka. Secara istilah, pemahaman sumpah berarti menguatkan perkara yang disumpah dengan menggunakan nama Allah, atau salah satu dari nama-nama atau sifat-sifat Allah.

Kebiasaan bangsa Arab pada saat itu menggunakan al-qasam ketika menguatkan atau menyakinkan suatu persoalan. Dari Abu al-Qasim al-Qusyairi beliau berpendapat bahwa al-qasam dalam Quran adalah untuk menyempurnakan dan menguatkan argumentasi (hujjah). Beliau beralasan untuk memperkuat argumentasi itu bisa dengan kesaksian (syahadah) dan sumpah (al-qasam).

Sehingga tidak ada lagi yang bisa membantah argumentasi tersebut, seperti dalam surah Ali Imron dinyatakan, ''Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang menegakkan keadilan.Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu) tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang maha perkasa lagi maha Bijaksana.'' (QS. Ali Imron, 3 : 18)

Atau dalam ayat lain, ''Dan mereka menanyakan kepadamu; “Benarkah (adzab yang dijanjikan) itu? “katakanlah; “ya, Demi Tuhanku, sesungguhnya azab itu adalah benar dan kamu sekali-kali tidak bisa luput (daripadanya)”. (QS.Yunus, 1O : 53)

Begitu sakralnya perkara sumpah ini, sehingga seseorang tidak boleh main-main dalam bersumpah apalagi berdusta apalagi sumpah palsu, sekalipun terhadap perkara yang amat kecil. Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa mengambil hak seorang muslim dengan sumpahnya (yang dusta), maka sesungguhnya Allah mewajibkan baginya masuk neraka dan mengharamkan baginya syurga.” Seseorang bertanya: “Sekalipun terhadap sesuatu yang remeh ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “(Ya), sekalipun sebatang kayu arak (yang digunakan untuk bersiwak).” (HR. Muslim)

Karena itu berhati-hatilah terhadap lisan yang berjanji, terlebih mengucapkan sumpah terhadap sebuah kesaksian. Sungguh besar resiko dan ancaman bagi orang yang berdusta dalam sumpahnya, oleh karena itu Islam mengingatkan umatnya agar hati-hati dalam bersumpah dan jangan biasakan diri bersumpah.Jangan bersumpah untuk apapun tanpa prioritas kepentingan yang jelas.

Kebiasaan mengumbar janji apalagi sumpah akan menyebabkan orang tersebut akhirnya merasa tidak bersalah ketika berbohong, berdusta dalam janji maupun sumpahnya. Allah SWT berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang selalu bersumpah, lagi hina.” (QS. Al-Qalam : 10)

Demi Allah sebagai sebuah ucapan yang mengawali sumpah sering kita dengar untuk membuktikan bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar. Sesungguhnya, Allah melarang sumpah dijadikan sebagai alat menipu,

“Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu diantaramu yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya dan kamu rasakan kemelaratan (didunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah dan bagimu azab yang besar.”(QS. An Nahl : 94)

Dari Abu bakar r.a, Rasulullah Saw bersabda: “Maukah kalian semua jika kuberitahu tentang dosa paling besar diantara dosa-dosa yang paling besar ?” kami menjawab ” sudah tentu wahai Rasulullah.” lalu, sambil berbaring beliau Saw bersabda: “Pertama, syirik kepada Allah, lalu durhaka kepada orang tua” lalu tiba-tiba Rasulullah duduk tegak dan bersabda: “yang ketiga sumpah palsu dan saksi palsu.

“Rasulullah terus mengulang-ulang yang ketiga ini sampai para sahabat gemetar dan berkata: “seandainya Rosulullah diam” karena takutnya para sahabat mendengarkan kata sumpah dan saksi palsu yang diulang terus menerus oleh Rasulullah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kembali kepada warung bakso tadi, ingin kiranya saya menegur atau memberitahu mereka bahwa ucapan sumpah tersebut janganlah dianggap remeh. Namun saya berpikir ulang dan berniat untuk memberitahu mereka dengan cara yang lain dan dalam kesempatan lain. Karena itu semoga apa yang saya sampaikan sekarang dapat menjangkau dan diterima oleh remaja-remaja tersebut, lebih lagi harapannya dapat juga mengingatkan para guru dan orang tua mereka. Aamiin Ya Rabb.

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik disisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Billahi taufik wal hidayah,  Wassalamu’alaikumwarahmatullahi wabarakatuh.

Ustaz Erickyusuf: Pemrakarsa Training iHAQi (Integrated Human Quotient)
Twitter: @erickyusuf

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA