Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Saturday, 5 Ramadhan 1442 / 17 April 2021

Benarkah Pol Pot Membantai 1,5 Juta Rakyat Kamboja? (Bag 1)

Ahad 08 Apr 2012 06:11 WIB

Red: Heri Ruslan

Pol Pot

Pol Pot

Foto: historyplace.com

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Teguh Setiawan/ Wartawan Senior Republika

Thet Sambath, wartawan senior Phnom Penh Post, kini tidak bisa lagi hidup tenang. Sejak Mei 2010, tepatnya setelah Khmer Rouge, Enemies of the People – film dokumenter hasil garapannya — beredar luas di dalam dan luar negeri, ia diteror tentara pemerintahan PM Hun Sen.

“Saya dilecehkan di depan publik,” ujar Sambath kepada Guardian. “Ke mana pun saya pergi, saya di kuntit orang-orang berseragam dan mata-mata.”

Dalam satu kesempatan, masih menurut Sambath, tentara berpakaian sipil dan berseragam mengejar dengan mobil dan sepeda motor seolah akan menghabisi buruannya. Sambath tidak tahu mengapa dirinya tidak langsung dibunuh.

“Saya tahu pemerintah Kamboja saat ini khawatir atas apa yang saya ungkap dalam film,” lanjut Sambath. “Film ini akan menghancurkan reputasi mereka. Saya tahu terlalu banyak, dan saya yakin pemeirntah ingin saya mati.”

Khmer Rouge, Enemy of the People dibuat tahun 2009. Film masuk daftar pendek nominasi Oscar, dan dianggap sebagai watershed politik dan sejarah. Film berisi wawancara dengan Nuon Chea, brother number 2 dalam hirarki kepemimpinan Khmer Merah. Nuon Chea — keturunan Tionghoa yang saat kecil bernama Lau Ben Kon ( ) — juga pemimpin ideologi partai pimpnan Pol Pot. Sambath melacak dan meng ikutinya selama sepuluh tahun, seraya terus berupaya mendapat kesempatan wawancara dengannya.

Dalam film itu, Chea mengatakan dirinya dan Pol Pot memutuskan untuk membunuh dan menghancurkan anggota partai yang dianggap sebagai musuh rakyat. Di lapis bawah, kader Khmer Merah menjalankan perintah itu dengan menggorok setiap orang yang dianggap musuh.

Film menciptakan kegemparan di dalam dan luar negeri, memenangkan Sundance Film Festival, dan meraih 30 penghargaan lainnya. Sambath, lewat film ini, dianggap melanggar sesuatu yang tabu di Kamboja saat ini, yaitu menghadirkan perdebatan mengenai benarkah Khmer Merah membantai rakyatnya sendiri. “Saya tahu film ini menimbulkan kekhawatiran akan masa depan Kamboja sebagai bangsa,” kata Sambath.

Film bertutur tentang bagaimana Khmer Merah membunuh. Menurut Sambath, bagian film inilah yang membuat pemerintah marah, karena tidak sama dengan apa yang mereka katakan selama ini. Film ini membuat setiap orang di Kamboja dikhawatirkan menuntut pemerintah menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya, dan mengapa harus berbohong.

Pol Pot, putra keluarga Tionghoa kaya bernama asli Saloth Sar, terlanjur dituding sebagai arstitek pembantaian. Sambath, melalui serangkaian wawancara dengan mantan pemim pin regional dan nasional Khmer Me rah, menunjukan bukti yang terjadi adalah pertikaian internal partai yang meluas sampai ke desa-desa.

Sambath menemukan bukti pembantaian di desa-desa dilakukan lawan-lawan politik Pol Pot, dengan tujuan mendestabilisasi negara, sebelum melakukan kudeta. Rob Lem kin, yang membantu menyutradarai film ini, mengatakan; “Kenyataannya adalah Khmer Merah terpecah, dan perpecahan itulah yang menyebabkan Killing Fields.”

Lemkin kini membantu Sambath menyutradari lanjutan Enemy of the People, yaitu – judulnya masih tentative – Suspicious Mind.

Sambath melakukan semua ini tanpa diketahui pemerintah Kam boja, yang notabene dipimpin mantan perwira Khmer Merah, yaitu Hun Hen. Hampir seluruh wawancara dilakukan di tengah hutan, atau di desa-desa tempat mantan prajurit Khmer Merah kembali ke kehidupan normalnya.




BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA