Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Tuesday, 6 Syawwal 1442 / 18 May 2021

Dahlan Ajak Pengusaha tak Main Sogok, Tapi Naikkan Gaji Buruh

Jumat 27 Jan 2012 10:20 WIB

Rep: Ditto Pappilanda/ Red: Djibril Muhammad

Meneg BUMN, Dahlan Iskan

Meneg BUMN, Dahlan Iskan

Foto: Republika/Yogi Ardhi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Di zamannya, saat masih aktif sebagai pebisnis, Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan sangat akrab dengan kebiasaan pengusaha memberikan uang sogok menyogok aparat, terutama dalam berhadapan dengan aksi mogok buruh. Sekalipun adat ini sudah semakin berkurang, Dahlan mengingatkan para pelaku usaha untuk tidak lagi sogok-menyogok, dan mengalihkannya untuk meningkatkan gaji buruh.

"Pengusaha perlu berubah, tidak perlu lagi menyogok. (Dana menyogok) itu bisa dipakai untuk menaikkan gaji buruh, yang akhirnya bisa bantu pengusaha sendiri," tutur Dahlan saat tampil sebagai keynote speaker di Seminar Strategi Investasi dan Portofolio 2012 di Hotel Pullman (Ex-Hotel Nikko), Jakarta, Jumat (27/1).

Pada 2012, pebisnis yang membesarkan Jawa Pos Group ini melihat harapan dan tantangan yang besar bagi pengusaha. Seperti gejolak finansial di Eropa. Termasuk tuntutan buruh atas kenaikkan gaji, yang dikatakan Dahlan, seiring suasana kehidupan yang semakin gegap gempita.

Meskipun krisis Eropa membuat omset eksportir mengering, tapi Dahlan meyakini kenaikan status Layak Kredit atau Investment Grade dari dua lembaga pemeringkat kredit internasional akan berimbas pada kepercayaan asing yang semakin besar.

"Tiap perusahaan punya kiatnya sendiri-sendiri. Dalam mengahadapi gejolak Eropa dan buruh ini, ingat pepatah pengusaha Tionghoa, mendung tidak akan ada di situ terus, pasti akan bergeser. Pasti akan ada perubahan," ujar Dahlan.

Diingatkannya, untuk naik level dalam berusaha, pasti akan menemui turbulance kecil dan besar. Gejolak Eropa dan buruh masih dilihat Dahlan sebagai turbulance kecil.

"Jangan terlalu memikirkan gejolak Eropa atau gejolak buruh. Pertumbuhan tahun ini diprediksi rata-rata 6,5 persen. Artinya, ada perusahaan yang tumbuh 15 persen, 30 persen, tapi ada juga yang 0 persen, bahkan minus. Tapi dari rata-rata tadi, selalu ada peluang yang harus tetap dimanfaatkan pengusaha," ungkapnya.

Sekalipun hal ini tidak patut diceritakan, tapi Dahlan memberitahukan bahwa dirinya pernah dikenankan bunga 26 persen oleh pihak bank saat dirinya masih berbisnis. Sekalipun begitu, dirinya tetap berhasil menghidupkan bisnisnya dengan berbagai usaha.


BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA