Kamis 03 Nov 2011 16:56 WIB

Batu Bata Menara Kudus Mulai Lapuk

REPUBLIKA.CO.ID,KUDUS--Bangunan Menara Kudus, Jawa Tengah, yang dibangun sejak 1549 Masehi mulai mengalami kerusakan di sejumlah titik diduga akibat faktor alam, kata juru bicara Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus Deny Lukmanul Hakim.

"Secara kasat mata memang terlihat ada proses pelapukan sisi luar batu bata yang jumlahnya diperkirakan mencapai 70-an persen sesuai informasi petugas dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah yang datang ke lokasi untuk mengecek kondisi menara," ujarnya di Kudus, Kamis.

Ia mengatakan, kedatangan petugas dari BP3 Jateng ke Menara Kudus pada akhir Oktober 2011 dalam rangka untuk melakukan pemetaan dan pengukuran Menara Kudus karena bangunannya diinformasikan mengalami kemiringan.

"Hanya saja, bangunan bersejarah tersebut tidak mengalami kemiringan. Melainkan hanya terjadi pergeseran bangunan atap menara yang terbuat dari kayu yang terlihat hanya ditempatkan di atas bangunan menara yang terbuat dari batu bata," ujarnya.

Penyebabnya, kata dia, karena sejumlah faktor, salah satunya getaran yang ditimbulkan oleh kendaraan yang melintas di sekitar kawasan Menara Kudus. Seharusnya, lanjut dia, angkutan umum tidak melintasi kawasan Menara Kudus, agar bangunan menara tetap terjaga kelestariannya.

Sedangkan kendaraan roda empat milik masyarakat sekitar menara, katanya, jumlahnya tidak banyak, karena kondisi pemukimannya cukup padat, sehingga menyulitkan warga dalam mendapatkan parkir kendaraan.

Tekait dengan rencana perbaikan bangunan menara, katanya, belum diketahui secara pasti, karena petugas dari BP3 Jateng baru melakukan pemetaan lokasi.

Sementara itu, Ketua Kelompok Kerja Publikasi BP3 Jawa Tengah Wahyu Kristanto membenarkan, bahwa Menara Kudus memang mulai mengalami kerusakan komponental. "Hanya saja, tingkat kerusakannya belum bisa dijelaskan secara rinci," ujarnya.

Terkait dengan kemiringan bangunan Menara Kudus, katanya, tidak terjadi. BP3 Jateng juga berperan dalam pemugaran gapura menuju pawestren (tempat salat khusus wanita) karena menerjunkan enam petugas, meliputi tenaga ahli dan juru gambar.

Proses pemugaran gapura yang merupakan benda cagar budaya dan pawestren dimulai sejak 25 September 2011. Dalam proses pemugaran pawestren tersebut, pekerja menemukan lubang dengan kedalaman tiga meter dengan diameter 30 centimeter dengan dinding lubang terbuat dari batu bata.

Salah seorang pekerja, Radiman yang merupakan tenaga ahli dari BP3 Jateng mengungkapkan, lubang serupa terdapat tiga titik yang berdekatan dengan sumur. "Kami menduga, lubang tersebut merupakan sumur resapan untuk menampung bekas air wudu para jemaah yang salat di Masjid Menara Kudus," ujarnya.

sumber : antara
Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku Republika ...
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement