Pembagian Zakat Fitrah Nyaris Ricuh

Rep: Friska Yolandha/ Red: cr01

 Selasa 30 Aug 2011 22:38 WIB

Suasana malam di Masjid Agung Bandung, Jawa Barat (ilustrasi). Foto: hakimtea.com Suasana malam di Masjid Agung Bandung, Jawa Barat (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG – Pembagian zakat fitrah di Masjid Agung Bandung nyaris ricuh, Selasa (30/8) malam. Hal ini disebabkan banyaknya warga yang ingin mendapatkan zakat fitrah.

Panitia Zakat Fitrah telah menampung sekitar 1.500 warga di dalam ruang utama Masjid Agung, lalu setelah itu menutup pintunya. Tujuan penutupan pintu ini adalah untuk menghitung jumlah warga yang masuk untuk memastikan jumlah zakat fitrah yang diberikan cukup.

Pembagian zakat fitrah di alun-alun ini telah dijaga oleh 30 pasukan dari Polsek Regol, baik berseragam maupun berpakaian preman. Di luar masjid terdapat pasukan Brimob sebanyak dua pleton dari Polda Jawa Barat.

Kepala Polsek Regol, Kompol Putu Yunisetiawan, mengatakan pihaknya telah berusaha semaksimal mungkin untuk menghindari ketidaktertiban warga dalam menerima zakat. "Warga begitu bersemangat ingin masuk ke dalam sehingga terjadi aksi saling dorong. Tapi tidak ricuh, kok. Semua berjalan lancar," ujarnya.

Warga telah menanti di lingkungan masjid sejak sore. Salah satunya adalah Winarto, yang telah berada di masjid sejak sore. Ia datang sendirian untuk dapat mengecap haknya sebagai salah satu penerima zakat.

Hadir pula dalam pembagian zakat tiga anak-anak yang berumur sekitar 8 hingga 10 tahun, yaitu Rangga, Fauzan, dan Anjas. Mereka mengaku datang bersama teman ibu mereka untuk mengambil zakat.

Perayaan menjelang malam lebaran atau Idul Fitri di Kota Bandung berlangsung sangat ramai. Kendaraan bermotor dan masyarakat dari segala lapisan tumpah ke jalan untuk menikmati suasana takbiran. Salah satunya di Jalan H Juanda atau yang dikenal dengan Dago. Hampir seluruh kendaraan melaju ke Dago atas.

Di lingkungan Masjid Agung sendiri warga mengerumuni lapangan di depan masjid. Berbagai kegiatan dilakukan di sana. Di sekeliling masjid orang berkerumun melihat kendaraan yang berjalan perlahan di Jalan Asia Afrika.

Sesekali tampak mobil pick up membawa sekelompok orang—kebanyakan remaja—yang bernyanyi sambil menabuh beduk yang dibuat sendiri dengan peralatan seadanya.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini

Berita Lainnya

Play Podcast X