Saturday, 6 Rajab 1444 / 28 January 2023

Ambisi Kalahkan Burj Khalifa, Saudi Umumkan Konstruksi Menara 1.000 Meter di Jeddah

Selasa 02 Aug 2011 21:23 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa

Gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa

REPUBLIKA.CO.ID, JEDDAH - Negara kaya minyak di Timur Tengah sepertinya belum ingin berhenti dari ambisi membangun gedung tertinggi di dunia. Pemilik Kingdom Holding Co, Pangeran Alwaleed bin Talal, mengungkapkan rencananya, Selasa (2/8) untuk membangun pencakar langit terjangkung di dunia di Jeddah.

Untuk mewujudkan rencana, Kingdom Holding telah menekan kontrak senilai $1.23 milyar (Rp10,43 triliun) dengan Bin Laden Group.

Desain menara yang diajukan akan menjulang lebih dari 1.000 meter dan ditargetkan rampung  dalam kurun 5 tahun. Bangunan itu dimaksudkan menjadi pusat dari rencana pengembangan Kingdom City yang dibangun di utara Jeddah oleh Kingdom Holding.

"Rencana pembangunan menara ini di Jeddah akan mengirimkan pesan keuangan dan ekonomi yang tak bisa diabaikan," ujar Pangeran Alwaleed. "Selain itu proyek ini memiliki makna politik kepada dunia bahwa orang Saudi berinvestasi di dalam negaranya."

Menara yang di dalamnya bakal terdapat hotel, apartemen, kondominium mewah dan perkantoran, akan didesain oleh firma arsitektur AS, Adrian Smith $ Gordon Gill. Kingdom Tower, begitu nama yang akan disematkan pada si pencakar langit bakal menempati lahan sekitar 501.677 meter persegi.

Bila konstruksi kelar, menara itu akan merebut rekor yang kini dipegang Burj Khalifa di Dubai dengan ketinggian 828 meter. Burj Khalifa dibangun oleh Emaar Properties dengan ongkos total 1,5 milyar dolar.

Sementara menara di Jeddah, Saudi, menurut Alwaleed, akan memiliki ketinggian 1.000 meter. Namun ukuran sebenarnya masih dirahasiakan.

Kingdom Holding mengatakan 33,35 persen dana untuk pembangunan gedung siap dikucurkan oleh perusahaan dalam grup, yakni Jeddah Economic Co. dan juga Internasional Holding dengan 33,35 persen. Sementara Bin Laden Group akan turut dengan 16,63 persen saham, lalu pengusaha Abdurrahman Sharbatly akan memiliki 16,67 persen.

sumber : Arab News
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA