Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Monday, 19 Zulqaidah 1440 / 22 July 2019

Mengajarkan Anak Cara Menangkal Bullying di Lingkungan

Selasa 07 Mar 2017 09:23 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Beberapa anak bermain di kompleks Rumah Susun Tambora, Jakarta, Jumat (17/2).

Beberapa anak bermain di kompleks Rumah Susun Tambora, Jakarta, Jumat (17/2).

Foto: Antara/Rivan Awal Lingga

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orangtua tidak pernah mau anaknya disakiti siapapun. Bahkan dengan orang terdekatnya sekalipun.

Namun, orangtua tidak bisa selalu berada di sekitar anak. Di sisi lain kemungkinan anak menjadi korban bullying besar. Ini bisa terjadi di sekolah atau lingkungan rumah sekalipun. Mengatasinya psikolog anak dan keluarga, Anna Surti Ariani, menyarankan agar orangtua mengajarkan anaknya menangkal bullying tersebut.

“Bully bagi anak di bawah remaja kemampuan kognitif terbatas. Orangtua tidak membiarkan anak ambil keputusan. Kalau anak dipukul lalu orangtua menyarankan agar anak membalas pelaku pemukulan, khawatir anak tidak mampu menilai atau dia baru curiga saja orang lain akan menbully dia,” ujar perempuan yang akrab disapa Nina belum lama ini.

Menurutnya akan jauh lebih baik mengajarkan anak membela diri. Misalnya mengajarkan kalau ada yang memukul, maka anak bisa bereaksi tertentu. Misalnya dengan mengelak, bukan dengan menyerang.

Namun jika anak sampai terkena pukulan, ajarkan anak melapor pada orang dewasa. Misalnya petugas keamanan terdekat. Jika kejadiannya di sekolah bisa laporkan ke guru, satpam dan lainnya. Begitu juga di rumah ajarkan anak melapor ke orangtua, anggota keluarga lainnya atau petugas keamanan setempat.

Selain itu, Nina mengatakan anak juga harus bisa mengenali siapa yang melakukan. Untuk memiliki kemampuan membela diri ini, menurut Nina anak harus sehat. Karena itu orangtua harus memenuhi nutrisinya. Anak harus lincah. Jangan kebanyakan menonton televisi. “Lebih baik anak lincah,” tambahnya.

Dan untuk bisa menyampaikan apa yang dialaminya, anak perlu kemampuan komunikasi yang baik. “Bunda tadi aku dipukul di sana.”

Di sananya ini harus dijelaskan dengan baik oleh anak. Karena itu anak membutuhkan kemampuan observasi dengan dilatih mengamati orang lain. Mengamati emosi orang lain. Kemampuan spasial anak juga harus dibentuk.

“Kalau saya dengan anak sering membuat permainan. Karena anak saya suka cuek di jalan. Karena anak saya senang membaca. Baca nama jalan, buat tebakan. Coba dimana jalan ini misalnya. Dengan begitu dia terlatih mengenali lingkungan sekitar. Pengenalan sekitar membuat anak tahu ke mana dia harus lari ketika dikejar. Jangan sembunyi dekat tong sampah. Cari orang dewasa yang dekat dia,” paparnya.

Menurut Nina, semakin memiliki kemampuan beladiri dan melaporkan anak menjadi lebih matang. Ketika dewasa dia bisa menegur orang yang akan melakukan bullying.

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA