Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Hanya Kuras Duit, Suplemen Diet Terbukti tak Ampuh

Senin 26 Jul 2010 22:14 WIB

Red: Ajeng Ritzki Pitakasari

Ilustrasi

Ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Anda sedang berdiet dan menggantungkan pada bantuan suplemen? Lebih baik pikir dua kali sebelum kocek anda keluar tanpa hasil.

Suplemen makanan kesehatan yang diklaim dapat mempercepat penurunan berat badan ternyata terbukti tak membuat perbedaan. Bahkan konsumsi suplemen macam itu harus dihindari, demikian ungkap dua studi terbaru.

Produsen tablet, pil atau bubuk diet memang kerap membuat banyak klaim, termasuk bahwa mereka mampu meluruhkan lemak, menjinakkan nafsu makan dan mendongkrak metabolisme. Namun, dua studi asal Inggris dan Jerman menunjukkan bahwa substansi suplemen itu--beberapa berasal dari ektrak kubis dan tetumbuhan dan kerap dijual di apotek--tak lebih baik dari pil 'palsu' dalam proses pelangsingan.

Kini, para periset menyarankan mereka (suplemen) harus dibuang dari rak dan bahkan dijauhi karena hanya memberi efek sangat sediri. "Satu-satunya pengaruh hanyalah anda akan kehilangan uang banyak" ujar Judith Stern, guru besar dari Universitas California di Kongres Internasional Obesitas di Stockholm.

Tim peneliti dari Sekolah Kedokteran Peninsula di sejumlah universitas Exeter dan Plymout, mengulas sejumlah studi terkait keefektivan sembilan suplemen dan menemukan tidak ada bukti bahwa mereka memiliki dampak.

Persiet Inggris itu mengulas data yang ada terhada bubuk guar gum (pengental makanan dan penghasil jel, jeruk pahit, kalsium, glukomanan (serat diet) chitosan (disebut sebagai penyerab lemak), kromium pikolinat (kadang dijual sebagai penekan nafsi makan) serta teh hijau.

"Penemuan dari kajian sistematis tak terbukti memberi bukti cukup bahwa suplemen makanan tersebut dapat direkomendasikan untuk menurunkan berat badan." demikian tulis periset dalam ulasan. "Mereka yang diteliti merentang dari suplemen makanan nonherbal hingg herbal yang kerap dipromosikan sebagai penurun berat badan," imbuh tulisan.

"Masalahnya, ketika obat-obat merek utama untuk pengurangan berat badan harus menunjukkan keefektifan sebelum menerima izin edar, suplemen makanan tidak membutuhkan persyaratan itu sebelum dijual," demikian ulasan itu menekankan. "Dengan demikian sedikit sekali suplemen makanan yang telah menjalani uji klinik dan banyak pakar kesehatan meragukan nilai terapi mereka."

Sementara pakar di Univeristas of Gottingen, Jerman melakukan uji coba sembila pekan terhadap suplemen penurun berat badan uumum yang dibeli di konter-konter obat. Di antaranya termasuk bubuk kubis, konsentrat kedelai, beberapa ekstrak tumbuhan dan formula serat diet.

Dalam studi, peneliti meminta 189 responden dengan bobot berlebih, yang dibagi dalam 10 grup,  untuk mengonsumsi suplemen-suplemen itu. Dalam beberapa grup, mereka yang mengasup suplemen memang sedikit kehilangan berat badan, namun bobot yang turun tak lebih besar dari mereka yang mengonsumsi pil palsu, yang disiapkan periset.

Thomas Ellrot, seorang doktor yang terlibat dalam penelitian berkata," Tidak ada produk yang lebih baik dari pil-pil palsu yang kami buat." Sementara rekannya, Victoria Taylor, pakar senior dalam diet kesehatan jantung di  Yayasan Jantung Inggris berkomentar," Tidak ada bukti bahwa mereka mempercepat penurunan berat badan." 

"Untuk mengurangi berat badan kita butuh menggunakan lebih banyak energi dari pada yang masuk dan untuk mencapai ini, kita harus mengubah apa yang kita makan dan berapa besar aktivitas yang kita lakukan," ujarnya. "Sejumlah besar uang dibelanjakan untuk industri diet, namun kerap kali uang hanya mengucur sia-sia."

Maklum saja, jarang ditemui suplemen makanan pelangsing dengan harga terjangkau semua segmen. "Perubahan kecil namun terus-menerus pada aktivitas fisik dan diet makanan anda justru paling efektif untuk menjaga berat badan ideal dalam waktu lama dan itu tak butuh sepeser pun uang," ujarnya.



sumber : Telegraph
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA