Sunday, 3 Jumadil Awwal 1444 / 27 November 2022

Gerakan Revolusi Oranye dari Kota Bogor

Sabtu 23 Jul 2016 21:21 WIB

Red: Arifin

Ratusan pelaku industri buah dan bunga memastikan diri untuk mengikuti Festival Buah dan Bunga Nusantara Internasional (FBBNI) 2016 di Kota Bogor pada 17-20 November 2016.

Ketua Penyelenggara FBBNI 2016, Meika Syahbana Rusli, mengatakan, acara itu merupakan bagian dari program Gerakan Revolusi Oranye.

"FBBN bertaraf internasional diselenggarakan dengan mengeksplorasi kekayaan buah dan bunga nusantara dan mempromosikan potensi ekspornya ke mancanegara," kata Meika, Jumat (22/7).

Menurut Meika, Gerakan Revolusi Oranye merupakan sebuah kampanye pengembangan buah nusantara secara revolusioner dalam skala perkebunan.

Dia menyatakan, perhelatan FBBNI bertujuan untuk meningkatkan jumlah dan kapasitas produsen dan eksportir dalam memproduksi dan memasarkan buah dan bunga berkualitas ekspor.

Selain itu, kata dia, tentu saja untuk membantu meningkatkan kesadaran tentang standar kualitas ekspor dan kebutuhan pasar bagi produsen dan eksportir buah dan bunga. Meika menuturkan, tujuan lain yang ingin dicapai adalah meningkatkan kualitas, jumlah, konsistensi, dan kesinambungan dari produk buah dan bunga yang berkualitas ekspor. 

"FBBNI juga untuk mempromosikan kekayaan dan keragaman buah dan bunga nusantara serta potensinya ke pasar global," ucap Meika. Adapun jenis kegiatan acara itu meliputi kontes buah, kontes dekorasi buah, karnaval, ekshibisi penjualan buah, hingga kompetisi lainnya.

Dia mengungkap, penyelenggarakan FBBNI merupakan perintah Presiden Joko Widodo secara langsung kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan Institut Pertanian Bogor (IPB) agar pada 2016 Indonesia mampu mengadakan kampanye buah dan bunga nusantara kepada masyarakat dunia. Caranya dengan memamerkan produk unggulan yang berpotensi ekspor dan mendatangkan pembeli dari berbagai negara.

Meika menyatakan, pelaku industri buah dan bunga berasal dari kelompok produk benih dan bibit, pupuk, pestisida dan hormon, buah dan bunga segar, buah dan bunga olahan, industri kesehatan berbahan baku buah dan bunga, industri pariwisata berbasis kebun buah dan bunga nusantara, peralatan pertanian, mesin pertanian, media pertanian, gerai buah dan bunga, dan lembaga keuangan atau pembiayaan.

FBBNI 2016, sambung Meika, akan menghadirkan 500 international trade visitoryang berasal dari kalangan bisnis internasional, produsen manufaktur makanan dan minuman olahan, asosiasi atau kamar dagang negara tujuan ekspor, institusi pemasaran internasional, serta institusi kerja sama perdagangan internasional.

Negara yang akan hadir, meliputi seluruh negara ASEAN, Cina, Jepang, Taiwan, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Yordania, Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa.

Meika menargetkan sebanyak 20 ribu pengunjung menghadiri acara itu. 

Produksi singkong Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Pusat, Suharyo Husein, di Cibinong, mengatakan, singkong harus menjadi komoditas strategis nasional setara padi, jagung, dan kedelai (pajale). Suharyo menyatakan, potensi produksi singkong Indonesia sangat besar. 

Hanya saja, kata dia, pemerinah tidak pernah mendukung sehingga produksi masih rendah dan belum mampu mencukupi permintaan pasar.

"Singkong saat ini diperebutkan kegunaannya, terutama untuk pangan, industri, dan energi," katanya.

Singkong merupakan tanaman pangan dan perdagangan. Sebagai tanaman perdagangan, singkong menghasilkan starch, gaplek, tepung singkong, tepung mocaf, etanol, gula cair, sorbitol, monosodium, glutamat, tepung aromatik, dan pelet.

Mengacu data BPS (2003-2013), menurut Suharyo, produksi, luas panen, dan hasil singkong di Indonesia rata-rata tumbuh 2,66 persen per tahun. Pada 2013, produksi mencapai 23.936 ton dengan pertumbuhan 5,55 persen dan luas panen 1,0065,7 hektare.

Dia mengatakan, MSI memiliki visi singkong sejahtera bersama. Itu lantaran singkong cukup potensial dikembangkan. Indonesia, kata dia, saat ini merupakan produsen singkong terbesar ketiga di dunia setelah Nigeria dan Thailand.    antara, ed: Erik Purnama Putra

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA