Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Wednesday, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Bajaj Oranye Menunggu Giliran Dimusnahkan

Kamis 07 Jan 2016 17:00 WIB

Red:

Bajaj oranya bermesin dua tak kini seolah menghilang dari jalanan Ibu Kota. Bajaj oranye yang pernah berjaya pada era 1990-an hingga awal 2000 kini harus dimuseumkan. Program Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tentang peremajaan bajaj yang menjadi penyebabnya.

Kini, tak ada lagi bajaj oranye di sekitar Stasiun Gondangdia, Cikini, Tanah Abang, Monas, hingga pasar-pasar tradisional yang dulu menjadi tempat mangkal. Hanya sedikit bajaj oranye masih ditemukan di kawasan Roxy, Jakarta Barat. Bajaj oranye telah digantikan saudara mudanya, yaitu bajaj biru yang menggunakan bahan bakar gas (BBG).

Puluhan bajaj oranye tinggal menunggu dimusnahkan di lokasi penampungan di Jalan Bali, Cipinang Bali, Jatinegara, Jakarta Timur. Menurut penjaga penampungan bajaj, Iwan (58 tahun), para pemilik bajaj oranye secara sukarela menyerahkan kendaraannya untuk digantikan bajaj baru sesuai program pemerintah.

"Mereka membawa bajaj oranyenya ke sini untuk diganti dengan yang baru," ujar Iwan, Rabu (6/1). Pantauan Republika, puluhan bajaj oranye terparkir di halaman rumah Iwan dengan kondisi beragam. Ada yang bajaj yang bodinya masih utuh, ada yang kain penutup atapnya hilang maupun kaca depan yang pecah.

Misalnya, bajaj dengan pelat nomor B 2234 FD, kondisi fisiknya sudah tak lagi utuh. Selain tanpa kain atap, jok, pintu, roda, kaca depan, bodi depan, dan setir bajaj juga rusak. Yang tersisa hanya mesin dan kerangka bajaj bagian belakang. Menurut Iwan, bajaj tersebut bakal dihancurkan, terlebih dulu harus mencocokkan nomor mesin dengan surat yang harus sesuai.

Iwan mengatakan, tidak semua bajaj bisa dipotong lantaran ada ketidakcocokan data yang diserahkan kepada petugas dengan kondisi bajaj di lapangan. Selain kecocokan nomor, yang penting saat diperiksa, kelengkapan surat kendaraan masih hidup, spion, roda, lampu, bodi, hingga mesin masih utuh. Karena alasan itu pula, bajaj bernomor polisi B 2319 MA hingga kini belum bisa dipotong karena tidak memenuhi persyaratan.

"Saya juga aneh, mau dihancurin kok syaratnya harus utuh, saya enggak mengerti, biarlah itu urusan mereka saya hanya menjaga," ujar pria asal Flores, Papua, ini.

Iwan menyatakan, sudah setengah tahun puluhan bajaj tersebut nangkring di halaman rumahnya. Dia tidak hafal betul berapa jumlah bajaj yang sudah dihancurkan Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta. Sedangkan, untuk yang tersisa saat ini sekitar 76 unit. "Kemarin ini ada 46 bajaj yang gagal dipotong," ujar Iwan.

Dia menjelaskan, proses pemotongan bajaj dilakukan sekitar 25 pegawai Dishub DKI yang mendatangi rumahnya. Pegawai tersebut, kata dia, ada yang bertugas memeriksa nomor mesin, surat-surat, sampai keutuhan mobil. Setelah diperiksa, dipilah mana saja bajaj yang bisa dihancurkan.

Menurut Iwan penghancurannya sendiri dimulai dari melepas terpal di bagian atap bajaj, mesin diambil untuk dihancurkan, kemudian bodi bajaj potong-potong. Sehingga, semua bagian bajaj menjadi terpisah-pisah. Setelah pemotongan, besi-besi tersebut diangkut ke truk Dishub DI. "Wah, saya tidak tahu tuh besinya akan dikemanakan," ujar Iwan.

Dia hanya tahu jika para sopir bajaj ini sangat bersemangat, bahkan tidak sedikit juga dari mereka yang membawa sendiri kendaraannya ke penampungan. Tujuannya, hanya satu, yaitu segera mendapatkan ganti bajaj biru.

"Jadi, kalau mereka sudah bawa ke sini itu mereka akan dibantu oleh koperasi untuk mendapatkan bajaj biru, katanya sih bajaj biru lebih gampang dapat penumpang," ujar Iwan.

Hanya saja, berdasarkan pengamatannya, sebenarnya untuk kualitas bodi, bajaj oranye justru jauh lebih kuat. Bajaj oranye, kata dia, kalah di suara yang berisik dan asap tebal yang dikeluarkan. Padahal, bodi bajaj oranya mampu bertahan hingga puluhan tahun.

Salah satu teknisi bajaj, Yanto (40), mengamini pendapat Iwan terkait daya tahan bodi bajaj biru. Dia mengatakan, bodi bajaj biru hanya bertahan empat tahun, setelah itu harus segera diganti. Dia juga heran mengapa bajaj biru tidak setangguh bajaj oranye. Kalaupun ada bajaj biru yang sudah berusia di atas empat tahun, ia menjamin kendaraan itu sudah mengalami campur tangan dengan perombakan bodi.

"Enggak ngerti deh di sana dibuat dari bahan apa, besinya tipis dan kalau sudah lama tuh jadi karatan, tuh kayak yang itu," katanya menunjuk salah satu bajaj biru yang masuk bengkel di Jalan Sumatra, Cipinang Bali, Jakarta Timur.

Yanto mengungkapkan, para sopir biasanya senang dengan merek Bajaj dan TVS dibandingkan dengan Wanho dan Piaggio. Alasannya, di pasaran mudah menemukan onderdil keluaran Bajaj dan TVS ketika kendaraan mengalami kerusakan. Pun, dengan petugas bengkel, sepertinya sudah biasa menangani bajaj keluaran dua perusahaan itu.

Meski begitu, sambung dia, pada awalnya semua sopir mengeluh karena diwajibkan untuk mengikutip proses perejamaan bajaj. Dia ingat, program Pemprov DKI itu muncul pada 2006 bersamaan dengan beroperasinya bajaj biru. Hingga akhir 2014, harga bajaj biru melambung tinggi mencapai Rp 120 juta sampai Rp 140 juta per unit. Sehingga, ketika peremajaan bajaj oranye menjadi bajaj biru diwajibkan, kata dia, para sopir maupun bos bajaj berteriak.

"Gimana enggak ngeluh, harganya tinggi banget, terus juga datangnya bajaj pengganti itu lama bisa tiga sampai empat bulan," ujar pria asal Yogyakarta, ini.

Saat itu, kata Yanto, bajaj hanya dimiliki satu perseroan terbatas (PT) sehingga mereka dapat memainkan harga. Beruntung, sekarang sudah dibentuk koperasi sehingga harga sopir hanya membayar Rp 75 juta per unit.

Dia menjelaskan, proses pembayaran dilakukan kredit dengan cara para pemilik bajaj oranye menukar kendaraannya dengan memberikan uang muka Rp 25 juta kepada koperasi untuk mendapatkan bajaj biru. Selanjutnya, mereka membayar angsuran per bulan Rp 2,5 juta.

"Tapi, yang bayarnya ke koperasi tiap bulannya ini bank, jadi para sopir tinggal bayar ke bank saja," ujar Yanto.

Terkait penghasilan, lanjut dia, rata-rata sopir bajaj biru dan oranye itu berbeda jauh. Bajaj oranye, saat ini untuk mendapatkan empat orang penumpang saja kewalahan dan itu kerjanya sampai seharian. Sedangkan, bajaj biru dalam satu hari bisa mendapatkan penumpang hingga 10 orang, bahkan lebih.

Kemudian, bahan bakar kedua angkutan umum ini juga berbeda, jika bajaj oranye menggunakan bensin Rp 70 ribu, sementara bajaj biru menggunakan gas Rp 19 ribu untuk per hari. Makanya, ia tak heran jika para sopir bajaj ini ingin segera berpindah semua ke bajaj BBG atau bajaj biru.

"Selain karena yang oranye tidak laku, bajaj biru lebih mudah cari penumpang dan lebih untung." n c30 ed: erik purnama putra

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA