Rabu, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Rabu, 13 Rabiul Awwal 1440 / 21 November 2018

Anasir Tari Pop Tradisi

Jumat 05 Jun 2015 14:00 WIB

Red:

Empat orang penari mengayunhentakkan tubuh. Gerak mereka diiringi komposisi instrumen tradisional Minangkabau yang berpadu bunyi akordeon, biola, dan selo. "Buai (Udara)", tajuk utama koreografi mereka, mengandung dua anasir tari berbeda.

Karya Indra Zubir itu menggabungkan unsur tari tradisi buai-buai dari Sumatra Barat dan tari populer shuffle dance dari Australia. Tari buai-buai mengeksplorasi gerak hentakan kaki, seperti laju lari kuda serta gerak mengayunkan tangan seperti lenggang tari melayu. Makna tari itu adalah buaian nina bobo seorang ibu pada anaknya.

Sementara, tari shuffle berciri gerak langkah cepat seperti tengah berlari di tempat. Penari juga bergeser ke samping kanan dan kiri seperti gerakan trisik dalam tarian Jawa.

Benang merah kesamaan fokus gerak kaki antara keduanya menginspirasi Indra untuk menciptakan koreografi "Buai (Udara)." Tari kontemporer itu membuka festival "Helatari Salihara 2015" di Teater Salihara, di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu. "Perpaduan ini adalah usaha kreatif saya agar tari tradisi bisa lebih kekinian," ungkap Indra.

Banyak makna filosofis yang disampaikan Indra melalui karyanya. Melalui tari yang dipentaskan Putri Jingga Aura, Ridwan, Rizki Alma'u Filbahri, dan Novia Hadi Putri, ia menyisipkan pesan dan kritik sosial.

Indra tidak menyajikan karyanya secara naratif, tetapi lebih pada penggunaan simbol-simbol. Pemaknaan simbol itu ia terjemahkan dalam bentuk tarian. "Simbol ibu yang mendidik dan mengasuh anak, simbol pemuda di tanah rantau, juga simbol kekuasaan dan pemimpin," ujar penata tari kelahiran Bukittinggi, Sumatra Barat, itu.

Sebuah adegan keberangkatan mengawali pertunjukan. Memanggul bungkusan pakaian, seorang lelaki muda meninggalkan kampung halaman. Menyongsong tanah rantau yang penuh mimpi menjanjikan. Memang demikian pemuda Minang yang beranjak dewasa. Mengadu nasib ke negeri berantah, menimba ilmu dan bekerja di sana.

Sementara, sang Bundo Kanduang (sosok ibu sejati dalam adat Minang) tetap tinggal di kampung halaman bersama dua anak perempuan. Bundo tetap setia mengasuh dan mendidik dua putrinya.

Di kota, pemuda rantau itu mendulang sukses. Ia berhasil menjadi pengusaha, juga penguasa terpandang. Namun, ia lupa, saat menjadi penguasa, ia justru menindas rakyatnya. Akhirnya, ia digulingkan dan dihinakan. "Pemimpin yang tidak bisa mengayomi dan menyejahterakan rakyatnya baiknya dicopot saja," ucap Indra.

Simbol penistaan itu ditampilkan dengan adegan gerak dan tari yang melucuti pakaian kebesaran sang datuk atau penguasa pada klimaks yang mengakhiri penampilan berdurasi 50 menit itu. Meskipun, lanjutnya, simbol kekuasaan itu bisa pula dimaknai sebagai penindasan atau arogansi laki-laki atas perempuan yang tidak bisa diterima.

Kesederhanaan hidup juga ditampilkan Indra dalam "Buai (Angin)." Misalnya, para perempuan yang melakukan pekerjaan sehari-hari membawa pemukul rotan dan tampah.

Begitu pula saat sang pemuda menjalani hidup di rantau. Dalam gerak tari, Indra menggambarkan keuletan pemuda berdagang di metropolitan. "Saya terinspirasi para pedagang di Tanah Abang atau Blok M, yang kebanyakan memang orang Padang yang merantau," ujar koreografer yang telah menghasilkan lebih dari 25 karya tari itu.

Namun, fokus sentral pada "Buai (Angin)" adalah sosok ibunda. Terlebih, dalam adat Minang yang menganut sistem matrilineal, posisi Bundo Kanduang sangat esensial.

Indra memaparkan, tariannya menunjukkan ibu yang tanpa henti mengasuh anak dengan penuh kasih sayang. Bagaimana seorang ibu mendidik mental dan moral anak agar menjadi orang yang berguna dan mempersiapkan anak hidup di negeri orang.

"Unsur agama masyarakat Minang sangat kuat. Ada semboyan ‘adat basandi syara, syara basandi Kitabullah" (adat bersendikan syariah, syariat bersendikan kitab Allah—Red)," ujar seniman yang pada 2007 menampilkan karya trionya di Museum Nasional Singapura.

Pendiri kelompok Indra Zubir's Dance itu berharap karya kontemporer "Buai (Udara)" menjadi wujud pelestarian seni tradisi di Indonesia. Pentas tari itu melibatkan Syahrial Tando sebagai penata musik, M Aidil Usman sebagai penata artistik dan cahaya, serta Maria Bernadeta sebagai penata kostum.  c34 ed: Dewi Mardiani

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA