Monday, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 December 2018

Monday, 10 Rabiul Akhir 1440 / 17 December 2018

Tepis Kekakuan Seni

Sabtu 30 Aug 2014 14:00 WIB

Red: operator

Pameran seni kontemporer Kelvin mengajak pengunjung mendefenisikan sendiri makna di dalamnya.

Akhirnya, kita bertemu di sini. Setelah sekian lama, sekian purnama dan gerhana. Za man ki ta berbeda dengan zaman ibuba pak kita. Pun, dunia kita, jauh berbeda dibanding dunia kakek-nenek kita, ketika nyawa bergantung di ujung bambu runcing," Abe Sjahroel membuka esai panjangnya dalam kuratorial pameran seni visual berjudul "Takekurabe".

Apa artinya? Kita bahas nanti.Yang pasti, dalam pameran yang bertempat di Japan Foundation di kawasan Sudirman, Jakarta, ini, sang seniman Kelvin Atmadibrata menelanjangi alam pikirannya sendiri.

Beruntung, ketika Republikaberkunjung ke sana, sang seniman sedang "berjaga" di lokasi pameran. Kelvin yang memamerkan enam buah karya seni instalasi ini turut berdiskusi perihal pamerannya.

"Saya tidak mematok apa pun dalam pameran ini. Tidak ada pesan khusus. Semua karya saya memang saya buat untuk seni visual. Terserah interpretasi pengunjung. Justru, saya ingin pengunjung yang masuk sini tidak langsung mengerti, tapi ikut berpikir.

Kemudian, dia pulang dengan pengertiannya sendiri," jelas Kelvin saat ditanya mengenai maksud karya-karyanya yang bisa dibilang murni kontemporer, semi abstrak, tanpa semiotika.

Bagaimana tidak abstrak, ketika ma suk pertama ke ruang pameran, pengunjung langsung disuguhi deretan ce lana dalam berwarna hijau yang digantung di dinding. Belum lagi, di atas nya terpasang topeng-topeng kertas yang menggambarkan sosok buto, leak, atau makhluk semacamnya.

"Karya ini berjudul `Kolor Ijo',"kata Kelvin. Sebuah karya kolase yang mengambil nama dari cerita takhayul Indonesia yang berkembang di wilayah Jawa Timur hingga ke seluruh pelosok Jawa. Kelvin bukannya mencoba meng angkat kisah takhayul dalam pamerannya, "Namun, saya hanya ingin me nunjukkan, ini loh Indonesia."

Masih berhubungan dengan seni instalasi "Kolor Ijo" di depan, masuk ke dalam ruang pameran pengunjung akan disuguhi seni instalasi yang memakan seisi ruangan auditorium Japan Foundation.Karya yang berjudul "Bam bu kuning" ini juga berupa kolase dalam sebuah bingkai raksasadin ding ruangan menjadi bingkainya.

Nama bambu kuning diambil dari terjemahan novel karya Higuchi Ichiyo yang berjudul Takekarubeyang kemudian digunakan Kelvin sebagai judul pameran. Bambu kuning sendiri tumbuh subur di Indonesia dan Jepang, tem pat asal Ichiyo, dan memiliki banyak sekali manfaat.

Di Jepang, bambu kuning sengaja di tanam di pekarangan atau halaman rumah untuk mencegah datangnya pengaruh buruk dan sifat jahat yang masuk ke dalam rumah. "Dan, jangan lupa, pada zaman kemerdekaan bambu ini juga digunakan untuk senjata melawan penjajah," tambah Kelvin. Ternyata, dia sengaja memilih tanggal pameran yang berdekatan dengan perayaan kemerdekaan lantaran dalam pamerannya ada unsur "perjuangan"."Bambu runcing identik dengan perjuangan pahlawan bukan?" katanya.

Bersama dengan karya Kelvin yang berjudul "Bambu Kuning", dipajang pulang 108 bambu artifisial yang terbuat dari gulungan tisu toilet dalam ber bagai ukuran. Bambu bambu buatan ini seakan akan tumbuh di manamana, lengkap dengan motif polkadot.

"Angka 108 bermakna macammacam. Di belahan dunia timur, doa dan mantra dilafazkan 108 kali. Aksamala, mala, atau tasbih pun dibuat sebanyak 108 biji. Ajaran Buddha juga mengenak adanya 108 nafsu duniawi yang dimiliki manusia," ujar Abe Sjahroel selaku kurator pameran.Di tengah semuanya, hadir sebuah karya yang diberi nama "Takekurabe".

Ini adalah karya utama yang dihadirkan Kelvin, sekaligus yang menahan Kelvin untuk terus "berjaga" di pamer annya setiap harinya.Kelvin sendiri yang menjadi objek dalam instalasi seni yang dia bawakan.

Dengan bertopi bennet lengkap dengan emblem garuda berkepala dua dan berisi potongan unagi, Kelvin berdiri di tengah auditorium Japan Foundation. Bajunya dibalut motif polkadot karya Yayoi Kusama dan Marc Jacobs yang dulu merancang merk Luis Vuitton.

Karya yang menggunakan tubuh Kelvin sebagai medianya, meletakkan tubuhnya menjadi objek tertinggi di antara media pameran lainnya. "Kalau tanya apa maksud saya berdiri mematung di tengah ruangan, entahlah.

Saya sendiri membuat karya ini tanpa berpikir berat tentang makna dan tujuan. Pada akhirnya ini adalah seni visual yang menampilkan estetika.Pemaknaan bergantung pada pengunjung," ujar Kelvin.

Bila sang seniman Kelvin ingin mem biarkan pengunjung liar menerka maksud dari karya yang ia buat, Abe Sjahroel, kurator pameran itu, justru menuntun para pengunjung agar bisa pulang membawa definisi.

Ide ini lantas diamini Kelvin yang paham bah wa rata-rata pengunjung pameran adalah orang awam yang masih jarang bertemu degan instalasi seni kontemporer. "Makanya dibuatlah angket agar tahu sejauh mana pemahaman pengunjung akan pameran ini,"ujar Kelvin.

Pameran ini tergolong tak biasa karena selain bahan-bahannya yang tak lazim, tapi juga karena dia berani mengangkat isu gender dan feminisme.

"Demikianlah, ide-ide yang diserap Kelvin dan diangkat sebagai penghargaan kepada para tokoh-tokoh Jepang yang membawa inspirasi bagi segala yang pernah direndahkan. Tak lupa pula dia berikan penghormatan bagi kebudayaan Indonesia yang dicintainya," ujar Abe.

INSPIRASI DARI JEPANG

Pameran seni instalasi yang digelar di Japan Foundation hingga 4 September 2014 ini ternyata terilhami oleh tiga seniman perempuan Jepang: Higuchi Ichiyo, Miuchi Suzue, dan Yayoi Kusama. Dicampur pula cerita takhayul yang berkembang di Indonesia, seperti dalam sebuah karya yang berjudul "Kolor Ijo".

Seperti dikutip dari kuratorial pameran, tiga tokoh seniman Jepang tersebut di anggap mampu mengubah cara pandang manusia, khususnya di Jepang sendiri, tentang seni. "Dengan caranya sendiri, Kelvin memberikan penghargaan, mencuplik, mengaduk, dan menjadikannya sesuatu yang baru tanpa melupakan tokoh-tokoh sebelumnya," ujar Abe Sjahroel, sang kurator pameran.

Higuchi Ichiyo, perempuan muda yang hidup saat era Meiji pada akhir abad ke19, tumbuh di sekitar wilayah kelam pelacuran Tokyo setelah kejatuhan keluarganya. Pada masa hidupnya, sastra masih dianggap hegemoni kaum pria. Karya yang bagus adalah karya yang penuh kata-kata metafor bernilai tinggi dalam bentuk puisi.

Ichiyo mendobraknya. Dengan katakata yang lebih sederhana, dia menulis novel, mengangkat tema-tema yang terjadi di sekitarnya, dan menjadikannya ber makna. Meskipun mati muda, Ichiyo dianggap telah melakukan sesuatu yang besar bagi Jepang. Dalam mata uang Jepang, dia diberi tempat pada uang nominal terbesar kedua. Setidaknya, Ichiyo telah menunjukkan kebangkitannya dari keterpurukan hidupnya.

Ichiyo menciptakan kisah "Takeku rabe". Cerita yang bertema sederhana tentang dua anak kecil yang tumbuh, seorang menjadi gadis, dan seorang menjadi bujang. Meski muncul rasa cinta di antara ke duanya, mereka terpaksa terpisah oleh kelas rasional dan tradisi yang ditanamkan keluarga.

Si gadis harus menjadi geisha, menggadaikan harga dirinya. Sementara, si bujang menjalani hidup yang berlawanan, menjadi seorang biksu. Kedua tokoh ini memilih tidak berontak terhadap jalan yang ditetapkan kedua orang tua mereka.

Namun, pada akhirnya, keduanya menyim pan kerinduan dan kepedihan pada kasih tak sampai itu sambil tetap menapaki jalan masing-masing.

Lalu, ada Miuchi Suzue yang mengadaptasikan novel Ichiyo ke dalam bentuk komik Jepang, "manga". Manga inilah yang kemudian dibaca oleh Kelvin semasa kecilnya dan kini dia tampilkan dalam pameran kali ini. "Saya malah tahunya kisah "Takekurabe" versi komik setelah diubah sedikit banyak. Versi inilah yang meng inspirasi saya," ujar Kelvin.

Dalam manga yang berjudul Garasu no Kamenitu, cerita "Takekurabe" diperan kan dalam pementasan teater oleh dua orang dari kelas ekonomi berbeda.Memperlihatkan dua cara pandang yang berbeda antara si kaya dan si miskin.

Dalam karya Miuchi ini, terdapat ide pendobrakan terhadap cara pandang penikmat seni. Indah tidak perlu mengikuti pakem yang berlaku di masyarakat. Indah boleh berarti sebuah kesegaran yang lahir dari kebebasan berpikir.

Seniman lainnya, Yayoi Kusama, mengangkat ide bahwa keindahan tidak harus sejalan dengan kerumitan. Motif dot yang sederhana, tetapi berulang men jadi sesuatu yang megah dan penuh makna.

Makna tersebut tidak lantas dipaksakan pemahamannya penikmat seni, namun membiarkan mereka menerje mahkan dengan ilmu masing-masing.

Itulah ketiga seniman perempuan yang menjadi inspirasi bagi seorang Kelvin dan juga bagi Jepang. "Saya mengagumi mereka seperti saya mengagumi guru besar yang pernah saya temui," ujar Kelvin pada sela pameran. rep:c85, ed:dewi mardiani

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA