Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Jumat, 8 Rabiul Awwal 1440 / 16 November 2018

Kostrad Connection

Senin 07 Mar 2016 19:36 WIB

Red: operator

Tentu bukan sebuah kebetulan, kalau Gatot Nurmantyo, Ibrahim Mulyono, Edy Rahmayadi, dan Agus Kriswanto berada dalam piramida elite Angkatan Darat. Mengapa? 

 

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Ibrahim Mulyono seperti sedang reuni. Ya, reuni kala menjadi panglima Kostrad (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat). 

Hal itu terjadi pada pertengahan Februari 2016 lalu, saat ia melantik Letnan Jenderal Agus Kriswanto. Lulusan Akabri 1984 itu menduduki posisi bintang tiga, komandan Kodiklatad (Komando Pembinaan Doktrin Pendidikan dan Latihan Angkatan Darat). 

"Ini jabatan amanah, laksanakan dengan sebaik-baiknya," kata Jenderal Mulyono saat pelantikan Agus bersamaan dengan pelantikan panglima Kodam (Komando Daerah Militer) Iskandar Muda Mayor Jenderal L Rudy Polandi di Mabesad, Jakarta.

Reuni karena Mulyono pernah menjadi panglima ke-37 Kostrad. Sementara, Agus pernah menjadi pangdivif (panglima divisi infanteri) 2 Kostrad. Pada saat itu pun pangdivif 1 Kostrad dipimpin Edy Rahmayadi.

Agus dan Edy dilantik menjadi pangdivif saat panglima Kostrad dijabat Letnan Jenderal Gatot Nurmantyo. Gatot kemudian promosi menjadi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Posisinya sebagai panglima ke-36 Kostrad digantikan Mulyono.

Mengerucut

Hanya ada tiga jabatan bintang tiga di lingkungan Angkatan Darat. Wakil KSAD, panglima Kostrad, dan komandan Kodiklatad. Sehingga, menjadi letnan jenderal adalah "sesuatu banget." Diperebutkan oleh sekitar 30 mayor jenderal. Seperti piramida, maka semakin ke atas semakin mengerucut.

Piramida elite TNI, khususnya AD ada di empat jabatan, yakni KSAD, wakil KSAD, panglima Kostrad, dan komandan Kodiklatad. Nah, dari empat jabatan tersebut, tiga di antaranya dipegang alumni jabatan elite di Kostrad. 

Hanya Wakil KSAD Letjen Muhammad Erwin Syafitri yang tidak pernah menduduki jabatan elite di Kostrad. Erwin, perwira spesialisasi intelijen, satu angkatan dengan Gatot. Bahkan, ia yang menjadi lulusan terbaik Akabri 1982. 

Edy, lulusan Akabri 1985, meraih posisi bintang tiga sebagai panglima ke-38 Kostrad pada Juli 2015 lalu, bersama dengan Erwin. Tak bisa dibantah, jabatan wakil KSAD dan panglima Kostrad sangat diidam-idamkan oleh perwira tinggi TNI AD. Mengapa? 

Wakil KSAD merupakan "bemper" tugas-tugas KSAD dan mewakili orang nomor satu TNI AD jika KSAD berhalangan. Adapun panglima Kostrad merupakan panglima yang memimpin sekitar 50 ribu tentara dengan dua divisi, enam brigade, dan dua resimen. Sangat strategis. 

Jangan lupa, dari 31 orang nomor satu di Angkatan Darat, delapan di antaranya lebih dahulu menjadi panglima Kostrad sebelum menjadi KSAD. Sedangkan, wakil KSAD lebih banyak lagi. Sepuluh letjen yang kemudian menjadi KSAD sebelumnya adalah wakil KSAD. Semacam jabatan magang sebelum menjadi orang nomor satu.

Namun, hal tersebut tidak baku. Sebab, banyak juga wakil KSAD yang tidak jadi KSAD. Begitu juga Panglima Kostrad, banyak terhenti di bintang tiga. Jadi, selain wakil KSAD dan panglima Kostrad, ternyata terbuka juga kesempatan bagi jenderal bintang tiga yang menduduki jabatan lain di luar Angkatan Darat.

Jaringan

Kembali ke soal reuni Kostrad. Terdapat koneksi atau suatu hubungan antara satu dan lainnya dalam sebuah jaringan. Gatot membangun Kostrad connection melalui Mulyono, Edy, dan Agus Kriswanto. 

Selain mereka, masih ada Mayjen Lodewyk Pusung (Pangdam Bukit Barisan). Lulusan Akabri 1985 itu juga pernah menjadi pangdivif 1 menggantikan rekannya, Edy Rahmayadi. Ada juga Mayjen Bambang Haryanto, lulusan Akabri 1984. Kini parkir sebagai staf khusus KSAD. 

Di sisi lain, terdapat connection Akabri 1982 yang masih tersisa di jabatan panglima Kodam. Misalnya, Mayjen Muhammad Setyo Sularso (Pangdam Udayana). Sebelumnya pernah menjadi pangdivif 2 Kostrad (2012) dan kepala staf Kostrad 2014. 

Ada juga Mayjen Purwadi Mukson (Pangdam Sriwijaya) dan Mayjen Suratmo (Aslog KSAD). Untuk bintang tiga ada Sekretaris Menko Polhukam Letjen Eko Wiratmoko dan Inspektur Jenderal TNI Letjen Syafril Mahyudin. Berbeda dengan Gatot yang masih dua tahun lagi pensiun, rekan-rekannya banyak yang pensiun tahun ini dan tahun depan. 

Mulyono pun membangun connection Akabri 1983. Misalnya, Mayjen Teddy Lhaksmana (Pangdam Jayakarta), Mayjen Hadi Prasojo (Pangdam Siliwangi), dan Mayjen Johny L Tobing (Asops KSAD).

Apa pun, kini koneksi Kostrad begitu kuat di elite Angkatan Darat. Ada yang salah? Tentu saja tidak. Adalah hak prerogatif panglima TNI dan KSAD untuk memilih dan menentukan orang yang bisa dipercaya dan dapat bekerja sama sesuai dengan visi ataupun misi pimpinan TNI. 

Mereka tentu sudah memperhitungkan untung ruginya bagi organisasi Angkatan Darat. Termasuk mengacu pada merit system. Sebuah sistem yang memberikan penilaian dan kompensasi berdasarkan prestasi kinerja profesionalisme dan tanggung jawab seseorang. Harapannya, tentu bukan berdasarkan suka atau tidak suka terhadap seseorang. Oleh Selamat Ginting

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA