Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Friday, 18 Rabiul Awwal 1441 / 15 November 2019

Nasib Televisi Di Era Internet

Rabu 13 Jan 2016 15:00 WIB

Red:

 

OLEH SIWI TRI PUJI B 

Untuk pertama kalinya, po pularitas smartphone dan tablet mampu menyalip televisi. Sebuah studi baru dari lembaga survei Niel son Co menegas kan apa yang sekarangtengah terjadi Smartphone menang dan televisi tradisional kehilangan pamornya. Terutama, untuk pemirsa berusia 18-34 tahun.

Dalam survei yang hasilnya diumumkan pe ngujung bulan lalu, Nielsen juga menga takan bahwa menonton TV tradisional se mua kelompok umur mencapai puncaknya pa da kurun 2009-2010. Sampai saat itu, pe non ton untuk TV telah tumbuh setiap tahun se jak tahun 1949. Kini, angkanya terus merosot.

Studi ini adalah yang pertama dilakukan Nielsen secara komprehensif untuk melihat perilaku menonton video melalui TV tradisional, internet, ponsel, dan perangkat lainnya.

Data yang mendasari laporan ini menunjukkan bahwa di antara responden usia 18 sampai 34 tahun, penggunaan smartphone, tablet, dan perangkat yang terhubung dengan TV seperti streaming atau game konsol me ning kat lebih dari 25 persen pada Mei di bandingkan dengan periode yang sama ta hun sebelumnya, sekitar 8,5 juta orang per menit. Dalam kategori yang sama, menonton TV turun 10 persen menjadi 8,4 juta orang per menit.

Jelas dari studi itu, pemirsa kini menghabiskan lebih banyak waktu pada smartphone, tablet, dan perangkat terhubung TV jika ingin menonton acara TV. berbarengan dengan itu, banyak iklan yang terlewatkan atau bahkan kemudian dihapus, hal yang mempengaruhi basis klien Nielsen secara signifikan.

Nielsen menyebut hal yang berubah ter kait kebiasaan menonton televisi. Banyak orang yang kini menggantikan kebiasaan menonton televisi atau mendengarkan radio melalui perangkat konvensional dan berganti dengan penggunaan layanan streaming seperti Netflix, perangkat mobile, dan layanan web seperti YouTube.

Mereka mengaku kesulitan memetakan jumlah penonton video online yang sesungguhnya, karena banyak yang menyaksikan tayangan yang sama melalui media yang berbeda, seperti Youtube dan Facebook. Termasuk di dalamnya, adalah durasi waktu menonton. "Yng pasti, jumlahnya jauh lebih besar," tulis laporan ini.

Bagi pengelola media dan pengiklan, temuan ini merupakan peringatan. Bagaimanapun, pengguna muda kini tak bisa dikesampingkan. Dalam posting blog-nya, investor media yang juga mantan CEO eMusic, David Pakman, menggarisbawahi bagaimana perhatian telah bergeser dan terus bergeser jauh dari bentuk-bentuk tradisional ke platform baru seperti Twitch (dimana orang bermain video game secara online), serta snapchat dan lain-lain.

"Perilaku generasi muda merupakan prediksi masa depan. Facebook, YouTube, Twitch, Tumblr, snapchat, Reddit, WhatsApp, Instagram, Vine, dan YouNow semua dikatalisasi oleh remaja sebagai pengguna pertama, dan kemudian menyebar ke kelompok usia yang lebih tua," tulisnya.

Harus diakui, proliferasi smartphone dan tablet dengan cepat mengubah kebiasaan menonton TV, khususnya di kalangan ge nerasi muda. Sebelumnya, Ofcom dalam laporan triwulan mereka menyebut kaum muda usia 18-24 tahun menonton televisi on-demand pada komputer dan smartphone, bukannya TV konvensional.

Angka-angka dalam penelitian menunjukkan bahwa 57 persen kelompok usia ini menonton acara on-demand pada laptop atau PC, sedangkan 45 persen lebih memilih untuk melihat pada smartphone. Hanya 40 persen menggunakan perangkat televisi konvensional, benda yang diprediksi bakal kian ditinggalkan di tahun-tahun mendatang.

Pengalaman Netflix bisa menjadi contoh untuk menjelaskan bagaimana revolusi menonton televisi terjadi. Netflix merupakan jaringan yang menyediakan layanan menonton tayangan televisi atau film secara online. Awal didirikan tahun 1997, Netflix hanya perusahaan penyewaan DVD.

Tahun 2007, perusahaan ini memulai layanan menonton secara streaming. Tayangan televisi atau film milik klien mereka bisa diakses langsung dari komputer personal. Inovasi ini mendapat respon positif dari para penonton. Angka pelanggannya mero ket dari 300 ribu pelanggan pada tahun 2000 menjadi 31 juta pelanggan pada tahun 2007.

Mengekor di belakangnya, NBC dan Fox membuat Hulu, laman yang memungkinkan penonton menyaksikan tayangan televisi yang sedang dan sudah berlangsung. Mungkin yang melegakan, meskipun menonton TV online telah melonjak dalam beberapa tahun terakhir di banyak negara, TV tradisional masih akan bertahan setidaknya beberapa dasawarsa mendatang.

Sebut di salah satu negara maju, Inggris, penurunan pengguna televisi konvensional berjalan lamban, dari 93 persen pada 2013 menjadi 92 persen pada 2015.

Namun, waktu yang dihabiskan di depan televisi di banyak negara memang berkurang, sementara waktu yang dihabiskan di depan smartphone dan tablet meningkat. Maka tak mengherankan jika iklan digital akan melampaui iklan televisi pada 2019, seperti ramalan PriceWaterhouseCoopers.

Apakah nasib televisi akan sama seperti nasib media cetak yang kian ngos-ngosan – beberapa bahkan sudah gulung tikar dan memutuskan hanya bermain di ranah online — dengan gempuran media online? Tidak semudah itu, kata Michael Wolff, kolumnis dan penulis buku Television Is the New Television: The Unexpected Triumph of Old Media In the Digital Age. "Dalam arti yang lebih besar, digital belum akan mengalahkan televisi di pasar iklan. Bahwa sedikit mengganggu mungkin iya," katanya.

Ia mencontohkan Facebook, salah satu yang disebut-sebut memiliki andil membuat TV kian tak laku. Salah satu kelemahan Facebook, katanya, adalah mereka hanya memiliki sarana untuk menonton, tapi tidak menciptakan konten untuk ditonton.

Hal yang sama terjadi pada Youtube. "Bisakah Anda sukses dalam bisnis video tanpa mem buat media yang sebenarnya?" katanya. Ia justru melihat, peluang TV lebih besar untuk memenangkan pertarungan, tak seperti media cetak di era digital. "Sekarang eranya TV menjajah Internet, tolong dicatat!" tegasnya. ¦

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA