Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Kamis, 9 Safar 1440 / 18 Oktober 2018

Dari Senayan ke Jakabaring

Jumat 28 Agu 2015 16:00 WIB

Red:

Seperti nama-nama militer, itulah yang digunakan Presiden Sukarno untuk membangun karakter bangsa. Ia membentuk Komando Gerakan Olahraga (Kogor) untuk membuktikan keseriusannya merancang olahraga bagi bangsa dan negara.

Ia menunjuk mantan kiper nasional R Maladi sebagai ketua Kogor. Organisasi ini bertugas menyiapkan Asian Games ke-4 pada 1962 di Jakarta. Di situlah Sukarno bertitah. "Bangun kompleks olahraga modern, supaya mata dunia terbuka bahwa Indonesia bisa menjadi pusat perhatian internasional."

Pemancangan tiang pertama kompleks itu dilakukan langsung oleh Sukarno pada 8 Februari 1960. Pembangunan di Desa Senayan, di atas area tanah seluas 240 hektare. Kampung Senayan disulap menjadi kompleks olahraga modern. Maka, jadilah bangunan seluas 80 hektare menjadi lima bangunan utama.

Pertama: Stadion Utama, berbentuk lonjong, terletak tepat di tengah kompleks, dikelilingi gedung-gedung lainnya. Bangunan bertingkat lima dan dapat menampung 110 ribu orang, mempunyai 12 pintu utama untuk masuk para pengunjung, tiga pintu gerbang untuk memasuki arena dari daerah ring road.

Kedua: Gedung Istora (istana olahraga), bangunan tertutup dengan konstruksi besi dan beton beratap seng aluminium, dengan daya tampung 10 ribu orang. Istora terletak di sebelah tenggara Stadion Utama; gedung ini lebih dulu selesai pembangunannya karena akan digunakan untuk penyelenggaraan perebutan Thomas Cup pada 1961.

Ketiga: Stadion Renang, terletak di sebelah timur laut Stadion Utama, merupakan bangunan terbuka, dilengkapi dengan kolam renang dan kolam terjun atau loncat indah.

Keempat: Gedung-gedung olahraga dan lapangan latihan, terletak di sebelah barat laut Stadion Utama; meliputi empat bangunan tertutup: yaitu Basket Ball Hall, Hall A, Hall B, Hall C, dan enam lapangan terbuka untuk latihan sepak bola, hoki, panahan, dan sebagainya.

Kelima: Open Hands Games Courts (OHGC), terletak di sebelah barat daya Stadion Utama; meliputi sebuah stadion terbuka dengan dua lapangan tenis, 12 lapangan tenis di luar stadion, dua lapangan basket, delapan lapangan voli di luar stadion, bekas stadion hoki yang digunakan sebagai arena balap anjing (Canidromel Greyhound Races).

Pada era Presiden Abdurrahman Wahid, Stadion Utama Senayan diubah namanya menjadi Stadion Utama Gelora Bung Karno untuk menghormati Sukarno sebagai pencetus dan pemrakarsa kompleks olahraga Senayan tersebut.

Rawa menjadi stadion

Lain cerita Senayan di Jakarta, lain pula cerita Jakabaring di Palembang, Sumatra Selatan. Kompleks Olahraga Jakabaring atau Jakabaring Sport City juga dikenal sebagai Jakabaring Sport Complex, adalah kompleks fasilitas olahraga di Palembang.

Kompleks ini terletak 5 kilometer tenggara dari pusat Kota Palembang. Tepatnya di seberang Sungai Musi melalui Jembatan Ampera, Seberang Ulu I. Kompleks olahraga ini mulai dibangun pada 1 Januari 2001 untuk menyelenggarakan PON XVI  Palembang 2004.

Di situlah berdiri sebuah stadion yang diberi nama berdasarkan kemaharajaan maritim Sriwijaya yang berpusat di Palembang. Kerajaan ini berhasil mempersatukan wilayah barat nusantara pada abad ke-7 sampai dengan abad ke-12. Selain itu, stadion ini juga merupakan markas dari klub sepak bola Indonesia, Sriwijaya FC.

Stadion ini dipakai sebagai salah satu stadion yang menyelenggarakan pertandingan dalam Piala Asia 2007 sebagai pendamping Stadion Utama Gelora Bung Karno. Hasil verifikasi AFC menjadikan stadion ini satu dari tiga stadion standar A AFC di Indonesia. Stadion ini menjadi stadion utama pada upacara pembukaan dan penutupan SEA Games 2011 di Palembang.

Ketika terpilih menjadi tuan rumah PON XIV 2004, Pemerintah Kota Palembang membutuhkan stadion sebagai tempat pelaksanaan acara olahraga nusantara tersebut. Pemerintah setempat memilih sebuah daerah tertinggal di kota itu, bernama Jakabaring.

Jakabaring dahulu adalah daerah sepi dan ditakuti, sementara sebagian besar wilayahnya adalah rawa. Kesan sebagai wilayah sepi dan rawan kejahatan pun melekat pada Jakabaring.

Kawasan yang sempat dikenal dengan sisi negatifnya ini lantas mulai berbenah ketika pemkot berencana mengubah kawasan yang sebelumnya terkenal dengan hal mistis ini menjadi kompleks olahraga baru yang modern dan bertaraf internasional.

Pembangunan stadion impian dengan kapasitas hingga 40 ribu kursi dimulai pada 2001. Tak hanya lapangan sepak bola, stadion yang juga dikenal dengan nama Gelora Sriwijaya ini juga memiliki fasilitas lain, seperti lintasan lari serta fasilitas olahraga atletik lainnya.

 

"Menyongsong Asian Games 2018, dalam kawasan JSC akan juga dibangun stasiun monorel dan convention hall," kata Gubernur Sumatra Selatan, Alex Noerdin.

Jakabaring benar-benar menjadi sport city unggulan dengan menambahkan gedung sport science, wisma atlet, kompleks Lapangan Tenis Bukit Asam, lapangan khusus atlet, aquatic centre, lapangan voli pantai, arena biliar dan boling, dan juga lintasan balap sepeda.

Rencananya, Stadion Sriwijaya juga akan dikembangkan lagi untuk menampung 60 ribu penonton, selain penambahan fasilitas untuk 35 cabang olahraga.

 

Jakabaring sesungguhnya merupakan akronim dari warga pendatang yang membentuk satu komunitas di kawasan Seberang Ulu, antara 8 Ulu Bungaran dan Silaberanti. Warga tersebut datang dari Jawa, Kaba (Lekipali), Batak (Sumatra Utara), Komering Ilir, Komering Ulu, dan Lampung.

Istilah Jakabaring diperkenalkan oleh Sersan Mayor Tjik Umar, anggota TNI yang pernah bertugas di Kodam Sriwijaya. Dia adalah warga Lampung yang membangun rumah di dalam hutan belukar berawa di belakang Markas Poltabes Palembang sekarang.

Kini, kawasan Jakabaring Sport City menjadi wilayah kedua di Palembang yang paling sering dikunjungi setelah Jembatan Ampera oleh tidak hanya warga Palembang, tapi juga wisatawan domestik dan internasional. selamat ginting dari berbagai sumber

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA