Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

Friday, 17 Jumadil Akhir 1440 / 22 February 2019

760 Km Tembok Apartheid-Israel

Jumat 22 Aug 2014 12:00 WIB

Red:

Oleh:Harun Husein -- Apartheid telah runtuh, dan orang mengenang Mandela sebagai pahlawan. Tembok Berlin pun telah runtuh, dan orang mendendangkan Wind of Change karya grup musik asal Jerman, Scorpion. Tapi, setelah keduanya runtuh, ideologi apartheid tak serta merta hilang, begitu pun dengan pembangunan tembok segregasi. Bahkan, bentuk hybrid-nya yang jauh lebih bengis telah muncul, dan dite rapkan Zionis Israel di Tanah Palestina.

Israel mempraktikkan politik yang mi rip apartheid, karena memisahkan orangorang Yahudi dari orang-orang Arab yang merupakan pemilik sah tanah itu. Tapi, Israel lebih jauh lagi dibanding yang dilakukan oleh rezim kulit putih Afrika Selatan. Sebab, Israel membangun tem bok pemisah yang tegas untuk memisa h kan orang-orang Israel dengan tetangga Arab nya. Membuat orang-orang Arab- Palestina bak tinggal di ghetto-ghetto yang dulu dibangun Nazi untuk orang Yahudi di Eropa.

Panjang tembok apartheid yang diren canakan dibangun Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza adalah 760 kilometer. Sepan jang 700 kilometer dibangun di Tepi Barat —termasuk Yerusalem Timur— dan 60 kilometer di Jalur Gaza. Ditambah 10 kilo meter tembok yang dibangun Mesir, un tuk memblok Gaza dari Mesir —atas bantuan AS, induk semang Israel— maka total panjang tembok itu adalah 770 kilometer.

Sekarang, mari kita bandingkan pan jang tembok yang dibangun Israel dengan Tembok Berlin yang dulu memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur. Ter nyata, tembok itu tak ada apa-apa nya. Se bab, panjang Tembok Berlin hanya 155 kilo meter. Tembok Apartheid-Israel lima kali lebih panjang dibanding Tembok Berlin. Tembok di Tepi Barat itu mulai diba ngun pada 2002 lalu. Dan, pada 2012 lalu, atau sepuluh tahun kemudian, pan jang nya sudah mencapai 439,7 kilometer (62 persen), atau rata-rata 43 kilometer tem bok yang dibangun setiap tahun. Pada 2012 lalu, 56,6 kilometer sedang dibangun, dan 211,7 ki lometer lainnya sedang dalam perencanaan.

Sedangkan, tembok yang dibangun Israel di Gaza, dibangun lebih awal, yaitu sejak 1994. Hanya dalam waktu dua tahun, 60 kilometer tersebut telah berdiri di antara perbatasan Gaza dengan Israel. Pada 2005, seiring penarikan pasukan Israel dan pemukim Israel dari Gaza, tembok di perbatasan Gaza-Mesir juga dibangun, sehingga sempurnalah Gaza terkepung. Pembangun tembok di perbatasan Rafah ini terwujud setelah AS membantu Mesir membangunnya.

Akademisi, aktivis, relawan kemanu siaan PBB, dan berbagai kalangan lainnya di Timur maupun Barat —termasuk di Ame rika Serikat— kerap menyebut tem bok-tembok yang dibangun Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza tersebut sebagai "Tembok Apartheid". Tembok Tepi Barat, maupun Tembok Gaza, merupakan ben tuk paling tegas dari praktik apartheid ala Israel, setelah sebelumnya Israel me misahkan warga Israel dan warga Arab. Bahkan, di Israel, ada jalan untuk orang Yahudi, dan ada jalan untuk orang Arab.

Analogi Israel dengan Apartheid itu, muncul berbilang dekade silam. Istilah itu disampaikan justru oleh arsitek apartheid Afrika Selatan, Hendrik Verwoerd. Kala itu, pada 1961, Verwoed yang menjabat perdana menteri Afrika Selatan, menge cam Israel di PBB. Pasalnya, di sidang PBB, Israel memberikan suara menentang politik apartheid.

"Israel tidak konsisten dengan sikap nya… Mereka mengambil Israel (Pales tina, Red) dari orang Arab setelah orang Arab hidup di sana ribuan tahun. Dalam soal itu, saya setuju dengan mereka. Israel, seperti halnya Afrika Selatan, adalah sebuah Negara apartheid." katanya seperti dikutip artikel bertajuk Israel and the Apartheid Analogy di laman Wikipedia. Sejak pernyataan Verwoed itulah, banyak sumber yang kemudian meng gu nakan analogi partheid dalam pene litian mereka tentang konflik Israel Pales tina. Tembok pemisah tersebut merupakan gambaran paling lengkap dari politik apartheid Israel.

Bantustan-Palestina

Jauh sebelum pembangunan tembok tersebut, Israel menawarkan proposal un uk memberi otonomi kepada Palestina. Dan, lewat Kesepakatan Oslo, pemerin ta han terbatas (Otoritas Palestina) terse but akhirnya diwujudkan. Di wilayah yang dikelola Otoritas Palestina tersebut, Israel membuat berbagai sistem perizinan dan dan pos-pos pemeriksaan (checkpoint).

Namun, otonomi yang diberikan kepa da Palestina tersebut, kemudian meng ingatkan banyak orang pada kawasan seru pa yang pernah diterapkan rezim apartheid di Afrika Selatan dan Namibia, yaitu Bantustan. Bantustan yang meru pakan bagian dari kebijakan apartheid ini adalah sebuah teritori yang dikhususkan untuk orang kulit hitam. Sepuluh Bantus tan pernah dibandung di Afrika Selatan, dan sepuluh lainnya di Namibia. Terri torial yang homogen itu diberi semacam otonomi.

Ronnie Kasrils, aktivis yang memper juangkan penghapusan rezim apartheid di Afrika Selatan, menulis di  tentang kesamaan Afrika Selatan dengan Israel. Dalam tulisannya yang bertajuk Apartheid in Duplicate, bekas menteri AfriMiddle East Monitor,ka Selatan pasca-rezim Apartheid, ini, mengatakan Israel dan Afrika Selatan sama-sama muncul sebagai rezim apartheid pada Mei 1948.

Israel dan Afrika Selatan, kata Ronnie, sama-sama menerapkan kebijakan ber basis etnik dan ras. Di Afrika Selatan, orangorang kulit putih yang menjadi penduduk istimewa, kelas satu, dan eksklusif. Sedang kan, di Israel, penduduk istimewa, kelas satu, dan eksklusif adalah orang Yahudi. Mereka memonopoli hak untuk memiliki tanah, property, bisnis; punya akses lebih superior terhadap pen didikan, kesehatan, sosial, dan pelayanan-pelayanan lainnya dibanding penduduk asli; serta berbagai privilise lainnya. Di Israel dan Afrika Selatan pun menerapkan aturan hukum untuk tidak membolehkan perkawinan campuran, demi kemurnian ras.

Afrika Selatan di bawah rezim kulit putih, dan Palestina yang dikangkangi Israel, adalah cerita yang sama: samasama dijajah, sama-sama diperlakukan diskriminatif, sama-sama menjadi sasaran prasangka, sama-sama menjadi warga kelas dua, bahkan kelas tiga, serta setiap saat menjadi sasaran pembantaian dan pembersihan etnik secara sistematis. Ronnie bercerita, pada 2004 silam, de legasi Afrika Selatan pernah mengun jungi Yasser Arafat di markasnya di Ramallah.

Ronnie ada dalam delegasi itu bersama bekas wakil menteri luar negeri Afrika Se latan, Aziz Pahad. Melihat situasi seke liling nya, Aziz Pahad serta merta ber komentar, "Ini tidak lain adalah Bantus tan!" Namun, Ronnie dan sejumlah ang gota delegsai lain menilai Bantustan ma sih lebih baik ketimbang apa yang terjadi di Palestina. Karena Bantustan tidak dibom oleh pesawat-pesawat tempur, digilas tank, dan digempur misil.

Kepada Arafat, Ronnie mengatakan bahwa di Bantustan, rezim Pretoria masih mengalirkan dana, membuat bangunanbangunan pemerintahan yang megah, dan berbagai kebijakan lain untuk memper lihatkan kepada dunia bahwa mereka se rius dengan pembuatan ‘peme rintahan terpisah’ tersebut. "Bahkan, Bantustan tak diberi pagar (tembok pemisah)," tulis Ronnie.

Dalam tulisannya Ronnie menyatakan Nelson Mandela pernah menyampaikan pernyataan terkenal kepada Yasser Arafat pada 4 Desember 1997 silam: "PBB telah mengambil sikap tegas melawan apar theid; dan setelah berbilang tahun kon sensus internasional pun terbangun, yang membantu untuk mengakhiri sistem apar theid yang bengis. Tapi, kita semua tahu bahwa kemerdekaan kita belum sempurna tanpa kemerdekaan Palestina."

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA