Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Kamis, 14 Rabiul Awwal 1440 / 22 November 2018

Pengamat Ekonomi, Yanuar Rizky: Tinggal Soal Ketahanan

Selasa 03 Mar 2015 14:11 WIB

Red: operator

REPUBLIKA.CO.ID,  Nilai tukar rupiah hampir menyentuh Rp 13.000 per dolar AS, apa sebabnya?

Kalau secara historis, memang pola trennya akan melemah. Secara teknikal akan seperti ini.

Kenapa seperti ini?

Kan rupiah melemah tapi saham menguat. Kan sebetulnya mulai Januari 2015, the Fed, bank sentral AS, sudah memberi sinyal akan menaikkan suku bunga tapi ternyata ditunda. Kita ngomongin global sesuatu yang sudah terkirakan menjadi tidak.

Jadi, itu sinyalnya kompensasi inflasi dilakukan lewat pasar keuangan, bukan mekanisme bunga. Pasar memperkirakan harga naik karena suku bunga naik. Persepsi inflasi global sudah terjadi. Akhirnya, kalau suku bunga tidak naik, mereka tetap butuh kompensasi dari cost of fund.

Secara teknis, inflasi tinggi dengan persepsi suku bunga akan naik, suku bunga tidak jadi naik, inflasi dan harga-harga sudah naik. Kalau tidak diberikan kompensasi dari suku bunga, orang harus nyari di luar suku bunga nyarinya di pasar keuangan, sehingga pasar modal menjadi bergairah.

Nah, kalau pasar modal bergairah dan ada uang baru yang masuk pasar uang akan menguatkan rupiah. Tapi posisinya, tidak ada uang baru yang masuk pasar uang dan hanya memutar uang lama sehingga permintaan dolar tetap tinggi.

 

Kalau dari sisi domestik seperti apa?

Domestik, dari sisi konsumsi Indonesia masih importir, akan dekat dengan kurs. Neraca perdagangan surplus karena pengurangan volume impor, deflasi bukan karena harga turun tapi karena konsumsi yang sudah direm.

Artinya, untuk kelompok masyarakat yang tidak menurunkan konsumsi akan merasakan inflasi. Sedangkan yang tidak mampu diam saja akan menyebabkan deflasi. Di sisi lain, dolar semakin seksi yang punya duit akan keep dolar.

Secara global tidak ada suplai dolar, yang di domestik keep dolar sehingga rupiah melemah. Sementara, kebutuhan dolar tetap tinggi untuk impor dan lain-lain.

BI mengatakan selalu berada di pasar, bagaimana tanggapannya?

Mau diintervensi kalau melemah lagi mau apalagi. Karena suplainya memang kurang. Kan belum tentu kuat juga energinya. Sementara domestik tetap keep dolar. Kalau domestik ingin mengalihkannya ke rupiah harus ada kompensasinya. Persoalannya di kita kebutuhan dolar gede.

Bagaimana seharusnya pemerintah menyikapi depresiasi rupiah?

Masalah kompleks, harus ada fokus bersama fiskal dan moneter. Lebih riil saja, kalau saya melihat ini kan secara global pertarungan antara bank sentral. Harusnya dari kemarin ruang fiskal dialokasikan buat mitigasi risiko jangka pendek, menengah, dan jangka panjang.

Trennya ke depan akan seperti apa?

Seperti yang dikatakan pemerintah, kalau dua sampai tiga tahun tidak akan kondusif. Sekarang bagaimana kita melakukan ketahanan.

Apakah target pemerintah pada akhir 2015 nilai tukar rupiah per dolar AS sebesar Rp12.500 bisa terealisasi?

Berat. Bisa sih, tapi konsekuensi operasi pasar terbuka akan besar.  c87 ed: Ferry Kisihandi

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA