Rabu, 14 Zulqaidah 1440 / 17 Juli 2019

Rabu, 14 Zulqaidah 1440 / 17 Juli 2019

Perbankan Pun Berhati-hati

Kamis 07 Jan 2016 17:00 WIB

Red:

Kalangan perbankan di Tanah Air menyadari betul bahwa penyaluran kredit harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian.  Sikap ini tidak hanya dikedepankan menyambut 2016, tetapi juga telah diambil sejak setahun lalu. Salah satunya adalah Maybank Indonesia. 

Direktur Keuangan Maybank Indonesia Thila Nadason menjelaskan, perlambatan ekonomi menyebabkan perusahaan harus berhati-hati dalam menyalurkan kredit baru. Terlebih, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bank pada kuartal III 2015 masih tinggi, yakni di level 4,34 persen (gross) dan 2,79 persen (net).

"Karena kekhawatiran kualitas dan operational cashflow terkena juga," ujarnya, beberapa waktu lalu. Penurunan kredit juga belum dapat dilakukan Maybank Indonesia. Langkah ini merupakan kebijakan yang telah berlaku sejak awal 2015.  "(Bunga kredit) stabil dong. BI Rate belum turun lagi," katanya.

Namun, ada penurunan bunga kredit kepada debitur-debitur tertentu berdasarkan total relationship. Debitur tersebut termasuk special debitur yang juga menjalankan bisnis-bisnis lain, termasuk cash management dan sebagainya.

Thila menyebutkan, BI Rate akan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan suku bunga kredit. Sebab, biaya dana (cost of fund) semuanya terpengaruh oleh BI Rate. Sehingga, jika BI Rate masih stabil di level 7,5 persen, suku bunga simpanan dan suku bunga kredit Maybank Indonesia juga akan stabil.

Namun, jika nantinya BI Rate turun, perusahaan akan melihat cost of fund untuk menentukan tingkat suku bunga kredit.  "Enggak bisa janji secara total ya," ujar Thila. "Tapi, itu salah satu yang kami pertimbangkan juga."

Sampai kuartal III 2015, Maybank Indonesia telah menyalurkan kredit sebesar Rp 111,5 triliun, tumbuh 6,6 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 104,6 triliun. Perbankan bisnis dan perbankan ritel menjadi motor pertumbuhan kredit Maybank Indonesia. Perbankan ritel memberikan kontribusi sebesar 40 persen dari total kredit bank sedangkan perbankan bisnis sebesar 39 persen dan perbankan global sebesar 21 persen.

Direktur Utama BRI Asmawi Syam mengatakan, kredit BRI hingga kuartal III 2015 tumbuh 11,8 persen (yoy). Pada tahun ini, BRI menargetkan pertumbuhan kredit sekitar 15 persen. Pertumbuhan kredit BRI terutama akan ditopang oleh sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). 

Porsi pembiayaan UMKM akan mencapai 75 persen dari posisi saat ini 73 persen dari total kredit. "Sisanya baru infrastruktur karena di sektor infrastruktur banyak yang perlu kita dorong. Mulai listrik, pelabuhan, kemudian ada telekomunikasi, darat, laut, udara," katanya.

Rasio kredit bermasalah (NPL) diperkirakan akan stabil karena bisnis sudah mulai jalan. BRI juga telah melakukan restrukturisasi kredit sesuai dengan kebijakan OJK. Asmawi memprediksikan, NPL 2015 akan lebih baik. "Jika bisnis debitur jalan dan mengajukan pinjaman lagi, rasio NPL akan turun," ujarnya. 

Secara nominal, NPL juga diharapkan turun. Sebab, selama ini yang menjadikan NPL meningkat adalah penundaan membayar bunga. Sehingga, BRI melakukan beberapa langkah, seperti restrukturisasi, menunda pembayaran bunga, kemudian tahun depannya debitur bisa membayar bunga lebih rendah.

BTN menargetkan posisi rasio kredit bermasalah (NPL) gross pada 2016 akan berada di bawah tiga persen. Untuk 2015, posisinya diharapkan berada di bawah 3,5 persen. Sementara, per September 2015, posisi NPL gross BTN di level 4,5 persen.

Posisi NPL tersebut turun signifikan dibandingkan posisi pada September 2014 di level 4,85 persen. Direktur Utama BTN Maryono mengatakan, meskipun penyaluran kredit BTN terbilang ekspansif, perusahaan tetap berusaha menjaga kualitas kredit. "NPL kita sudah mulai turun terus. Kita perkirakan akhir 2015 di bawah 3,5 persen, di kisaran itu. Dengan pertumbuhan kredit yang pesat, kita terus jaga kualitas kredit sedini mungkin," katanya.

Maryono menyebutkan, NPL sektor konsumer BTN masih di bawah industri. Jika NPL konsumer industri perbankan di kisaran 2,8 persen, BTN di level 2,6 persen. Maryono optimistis NPL Bank BTN terus mengalami penurunan.

ed: muhammad iqbal

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA