Sunday, 1 Jumadil Awwal 1443 / 05 December 2021

Sunday, 1 Jumadil Awwal 1443 / 05 December 2021

Era Baru, Trump?

Kamis 10 Nov 2016 14:00 WIB

Red:

Donald John Trump. Calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik ini membalikkan prediksi banyak lembaga survei. Trump berhasil mengungguli perolehan suara Hillary Rodham Clinton, capres asal Partai Demokrat yang digadang-gadang sejumlah lembaga survei menjadi pemenang.

Namun, hasil penghitungan suara pada Rabu (9/11) dini hari mementahkan semua prediksi tersebut. Trump memenangkan mayoritas suara elektoral pada Pemilu AS, Selasa (8/11). Trump unggul dengan 270 suara elektoral, sedangkan Hillary hingga kemarin malam WIB masih memperoleh 218 suara elektoral.

Trump memastikan menjadi presiden ke-45 AS setelah mendapatkan 10 suara elektoral selepas memenangkan mayoritas suara pemilih di Negara Bagian Wisconsin. Apalagi, konglomerat properti itu mengklaim telah ditelepon Hillary yang mengucapkan selamat atas kemenangannya. Kantor pusat pemenangan Trump pun meriah.

Saat menyampaikan pidato kemenangannya, Trump menjanjikan untuk menjadi presiden bagi semua orang Amerika. Trump menyerukan untuk bangkitnya Amerika yang bersatu, berjuang dan bekerja bersama dengan semua komponen. Tentu saja, pernyataan Trump ini mengejutkan.

Terlahir pada 14 Juni 1946 di New York, Trump terkenal juga sebagai bintang reality show. Dalam kampanye-kampanyenya, Trump kerap mengusung jargon yang kontroversial.

Di antara program andalan Trump adalah janjinya untuk membangun tembok perbatasan dengan Meksiko. Tembok ini penting sebagai upaya untuk mempersulit masuknya imigran ilegal ke AS. Imigran ilegal inilah yang dituding Trump sebagai sumber masalah sosial dan kriminalitas. Tentu, tudingan Trump ini bukan hal sembarangan.

Anak pengusaha kaya ini juga mengampanyekan kerja sama dengan Rusia demi memberantas kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Hal yang mencengangkan, produser acara pencarian bakat wirausaha AS "The Apprentice" ini berencana menerapkan tes ideologi untuk Muslim yang akan masuk AS jika terpilih menjadi presiden. Trump menganggap warga Muslim dekat dengan terorisme.

Sikap ultrakonservatif Trump ini jelas memunculkan kontroversi, tidak hanya bagi warga AS, tapi juga warga di negara lain. Namun, logika berpikir rakyat AS berkata lain. Dengan segala kontroversinya, Trump yang pernah berkarier di Partai Demokrat pada 2001 hingga 2012 ini tetap mendapat hati di para pemilih.

Ada beberapa analisis kemenangan Trump. Salah satunya adalah kemampuan Trump menyampaikan pesan kegelisahan warga AS perihal kondisi ekonomi negaranya dengan cara sederhana, meski terkesan radikal. Janji kampanye Trump untuk memangkas pajak bagi perusahaan dan masyarakat kelas menengah jelas merupakan angin surga. Apalagi, masyarakat di kelas ini jumlahnya tak sedikit.

Hal ini berkebalikan dengan janji kampanye Hillary yang menginginkan tarif pajak tinggi bagi para konglomerat AS. Trump juga menjanjikan renegosiasi dagang yang bisa menjadikan AS memegang kendali.

Pada saat bersamaan, Hillary dianggap sebagai politikus yang penuh beban dengan sejarah panjangnya di pemerintahan. Status sebagai perpanjangan pejawat menambah berat telunjuk kekecewaan rakyat ke Hillary. Klop sudah.

Meskipun banyak pemimpin dunia menyampaikan selamat atas kemenangan Trump, aroma keterkejutan tak bisa disembunyikan. Setidaknya itu tecermin dari pergerakan saham di Asia dan Eropa yang sempat turun tajam begitu kemenangan Trump tersiar. Kurs dolar AS juga melemah, sedangkan harga emas melonjak. Hal ini menjadi sinyal negatif dari pasar.

Bagaimana dengan dunia Islam? Jelas tak mudah bagi Trump untuk membina relasi yang baik dengan mereka. Retorika Trump yang kerap meminggirkan Muslim bisa menjadi bumerang Trump.

Bukan tidak mungkin, semua warga AS diidentikkan dengan sikap Trump. Pengidentikkan ini jelas tak menguntungkan bagi kebanyakan warga AS jika ingin bepergian ke luar negaranya, terutama negara-negara yang selama ini ada "masalah" dengan AS.

Seperti apa tatanan dunia di era Trump? Mari kita berharap tatanan itu tak mengarah pada makin terpolarisasinya dunia, tapi menuju persatuan sebagai sesama umat manusia yang menghuni bumi yang satu. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA