Friday, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 January 2019

Friday, 12 Jumadil Awwal 1440 / 18 January 2019

Minat Membaca

Jumat 27 Feb 2015 15:00 WIB

Red:

Hasil penelitian Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pada 2013 menempatkan Indonesia sebagai negara peringkat kedua paling inovatif dalam bidang pendidikan di dunia. Dalam hal inovasi pendidikan, Indonesia di belakang Denmark yang berada di peringkat pertama, tapi mengalahkan negara maju, seperti Korea Selatan, Singapura, Jepang, Jerman, dan Amerika Serikat.

Inovasi pendidikan ini meliputi kemampuan penggunaan buku teks dan penerapan sistem pembelajaran yang terkait dengan kehidupan sehari-hari. Namun, peringkat OECD ini kontras dengan hasil penelitian yang dilakukan Programme for International Student Assesment (PISA) setahun sebelumya yang menempatkan Indonesia di peringkat kedua terbawah dalam hal kemampuan matematika dan ilmu sains.

Indonesia berada di urutan 64 dari 65 negara yang disurvei. Di level ASEAN, Indonesia kalah jauh dari Vietnam yang menempati urutan ke-20. PISA juga menempatkan Indonesia di nomor 57 dari 65 negara yang diteliti dalam hal kemampuan membaca siswa.

Data statistik UNESCO pada 2012 juga menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, dari 1.000 penduduk, hanya satu warga yang tertarik untuk membaca. Menurut indeks pembangunan pendidikan UNESCO ini, Indonesia berada di nomor 69 dari 127 negara. Angka ini tentu sangat menyedihkan.

Keprihatinan kita makin bertambah jika melihat data UNDP yang menyebutkan angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen. Sebagai pembanding, di Malaysia angka melek hurufnya 86,4 persen.

Mengacu pada angka-angka ini, tentu saja prestasi membanggakan menurut survei OECD bahwa Indonesia menempati peringkat kedua paling inovatif dalam bidang pendidikan menjadi tak bermakna. Meski ada makna di balik angka-angka itu bahwa warga Indonesia berprestasi secara pendidikan, yang kurang hanyalah minat membaca buku.

Mengupas penyebab kurangnya minat baca warga Indonesia, banyak faktor yang melandasinya. Namun, yang paling mendasar adalah tidak adanya kebiasaan membaca yang ditanamkan sejak usia dini. Seperti halnya pola seseorang mengonsumsi makanan, jika tidak dibiasakan makanan yang mengandung cabai, saat dewasa tidak akan mau melahap makanan pedas. Ini hanyalah faktor pembiasaan yang kemudian diikuti dengan adaptasi oleh organ-organ tubuh.

Seseorang yang terbiasa makan pedas, perutnya tidak akan sakit sebagaimana mereka yang tidak dibiasakan sejak kecil. Begitu pula dengan kebiasaan membaca. Para orang tua tidak menanamkan kebiasaan membaca pada anak-anaknya sedari kecil. Yang terjadi hingga beranjak dewasa pun tidak ada minat untuk membaca.

Lingkungan keluarga juga sangat memengaruhi minat baca seseorang. Di keluarga Indonesia, budaya menonton lebih menonjol daripada membaca. Kondisi ini melemahkan semangat anak-anak untuk membaca. Mereka lebih suka menonton acara televisi bersama anggota keluarganya dibandingkan melakukan aktivitas membaca secara bersama-sama.

Lihat saja data Badan Pusat Statistik. Jumlah waktu anak Indonesia menonton televisi mencapai 300 menit per hari. Bandingkan dengan anak-anak Australia yang hanya 150 menit per hari, di Amerika Serikat yang 100 menit per hari, atau di Kanada 60 menit per hari.

Namun, kondisi keluarga saja tidak bisa disalahkan. Permasalahan ini berkelindan juga dengan ketersediaan buku bacaan yang murah dan terjangkau. Dalam hal ini, subsidi dari pemerintah agar buku dijual dengan harga yang terjangkau masyarakat kelas menengah ke bawah, bisa membuat tingkat minat membaca anak-anak ditanamkan sejak dini karena buku bisa mereka beli.

Atau bisa juga dengan membangun sebanyak-banyaknya perpustakaan umum, bahkan kalau perlu hingga ke tingkat RT. Masyarakat bisa membangun komunitas membaca di kampung-kampung atau perdesaan. Jika itu terealisasi, bukan tidak mungkin tingkat minat membaca rakyat Indonesia pada lima tahun ke depan melonjak tajam.

Perhelatan Islamic Book Fair (IBF) yang pada 2015 memasuki tahun ke-14 ini bisa menjadi salah satu cara meningkatkan minat membaca warga. Gelaran IBF ini juga diharapkan bisa mempermudah akses membaca buku-buku berkualitas yang akan merevolusi mental kita menjadi negara dan bangsa yang maju secara fisik maupun spiritual. n

 

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA