Sunday, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

Sunday, 10 Rabiul Awwal 1440 / 18 November 2018

suarapublika

Cerdas Menyikapi Pilpres

Sabtu 19 Jul 2014 15:00 WIB

Red: operator

Pasca-pemungutan suara 9 Juli lalu, situasi politik di Indonesia se makin memanas. Momentum pilpres yang semula dianggap sebagai puncak, justru menjadi awal ketegangan politik di Indonesia.

Adalah klaim dari kedua belah pihak sebagai pemenang Pilpres 2014 dan tudingan keberpihakan media dan sejumlah lembaga survei yang dianggap pesanan salah satu kandidat yang menjadi isu utama pemberitaan politik Indonesia. Pemberitaan ini dapat memecah masyarakat yang menjadi suksesor maupun pendukung kedua kubu.

Tidak hanya sampai di sana, baru-baru ini beredar kabar melalui jejaring sosial (Facebook, Twitter, dan BBM) yang mengatasnamakan salah satu lembaga pemerintah. Dalam kabar tersebut, dijelaskan bahwa sebagai dampak kalahnya suara salah satu pasangan capres yang didukung oleh asing, akan ada agenda besar untuk membuat kerusuhan di Indonesia.

Beredarnya berita tersebut tentunya membuat sebagian masya rakat khawatir karena mengatasnamakan salah satu institusi pemerintah. Namun, karena tidak adanya kejelasan sumber berita maka dapat dipastikan berita tersebut hanyalah sebuah kebohongan yang dilemparkan ke publik untuk menimbulkan rasa cemas dan kekhawatiran masyarakat Indonesia akan gangguan keamanan di Indonesia pasca-Pilpres 2014.

Peredaran pesan misterius dalam suasana pemilu bukan hanya terjadi kali ini. Dari beberapa pengalaman sebelumnya, pesan serupa sudah banyak ditemui beredar. Contohnya di Papua pernah beredar pesan yang mengatasnamakan Tentara Pembebasan Nasional (TPN) Organisasi Papua Merdeka (OPM) Makodam III Timika yang isinya menginstruksikan seluruh rakyat Papua Barat dari Sorong sampai Samarai, anak negeri Ras Melanesia, untuk segera bersatu menolak kolonialisme NKRI dengan memboikot pemilihan presiden. Kesemuanya pesan tersebut, tentu saja ditujukan selain untuk menciptakan suasana yang men cekam, juga untuk merusak sila ketiga dasar negara Indonesia, yaitu Persatuan Indonesia. Untuk itu, masyarakat Indonesia harusnya mampu bersikap cerdas menyikapi berbagai kondisi pasca-Pilpres 2014, baik dalam hal perbedaan hasil hitung cepat, mau pun perihal beredarnya berbagai berita simpang siur yang meresahkan masyarakat. Jangan sampai kondisi tersebut mengakibatkan perpecahan masyarakat Indonesia karena hanya memberi peluang bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk mengacaukan situasi Indonesia.

Jadilah masyarakat cerdas yang berpikir positif dan menjunjung tinggi persatuan dan kedamaian NKRI.

Ikhsan Harahap

Jalan Siaga Raya, No 94, Jakarta Selatan

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA