Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Sunday, 4 Syawwal 1442 / 16 May 2021

Darurat Kabut Asap- Sesak di Dada Prajurit

Senin 02 Nov 2015 16:00 WIB

Red:

Yang namanya prajurit sedianya adalah mereka-mereka yang terpilih. Orang-orang yang memiliki kemampuan fisik di atas rata-rata. Kendati demikian, dahsyatnya asap yang menguar dari kebakaran lahan tak kenal ampun.

"Para prajurit hampir siang dan malam melakukan upaya pemadaman langsung di lokasi kebakaran. Bisa dibayangkan, setiap hari terpapar asap. Terkadang kalau asapnya tebal, itu masih tembus dengan masker udara yang dikenakan prajurit," katanya Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI Tatang Sulaiman, Ahad (1/11).

Ujung-ujungnya, paparan terus-menerus tersebut mengambil korban. Tak sedikit kemudian yang seperti ratusan ribu masyarakat biasa yang terpapar, terkena infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Menurut catatan Mabes TNI, dari 1.059 prajurit gelombang pertama yang dikirimkan untuk membantu penanganan kebakaran hutan, 117 di antaranya terkena ISPA akibat asap. Para prajurit tersebut saat ini tengah menjalani perawatan.

Tatang menjelaskan, awalnya para prajurit dikirim ke daerah bencana asap dengan perkiraan karhutla bisa dipadamkan 2 hingga 3 pekan. Tetapi, pada kenyataannya, kebakaran berlangsung hampir dua bulan. Apesnya, pengiriman gelombang pertama tersebut belum memiliki tenggat waktu bertugas.

Para prajurit yang berangkat memadamkan api pada gelombang pertama tersebut baru dirotasi awal pekan lalu. Artinya, hampir dua bulan mereka terpapar asap pada radius yang paling dekat dari kebakaran.

Belakangan, Mabes TNI mengirimkan 1.059 pasukan untuk mengganti mereka yang pulang ke barak masing-masing. Di antaranya, ke makostrad TNI AD, kodam TNI AD, dan markas marinir TNI AL. Rencananya, Satgas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan TNI tersebut nantinya memiliki masa tugas selama 45 hari dan akan terus dirotasi.

Selain petugas kepolisian, peran petugas Manggala Agni dan relawan serta prajurit TNI tergolong krusial dalam upaya pemadaman lahan. Tak hanya di Sumatra dan Kalimantan, mereka juga dikerahkan ke Papua untuk meredakan api.

Di Papua bagian selatan, setidaknya 492 titik api berhasil dipadamkan para prajurit TNI. Kasie Teritorial Korem 174 Merauke Kolonel Moch Erwansyah melaporkan, titik api yang berhasil dipadamkan tersebar di Kabupaten Merauke sebanyak 389 titik, Mappi 88 titik, Boven Digul 12 titik, dan Kabupaten Asmat tiga titik api. Di Papua, prajurit yang terlibat dalam satgas darurat kebakaran lahan mencapai 1.825 orang, termasuk prajurit dari Timika.

Tak hanya personel, alutsista juga dikerahkan untuk pemadaman. Untuk memunculkan hujan buatan, misalnya, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meminjam Hercules C-130 milik TNI AU. Kepala UPT Hujan Buatan BPPT Heru Widodo mengatakan, penggunaan pesawat Hercules itu untuk menyemai garam. Karena, memiliki daya jelajah lebih dari delapan jam dan dapat menebar bahan semai seberat empat ton dalam sekali penerbangan.

Operasi pemadaman kebakaran lahan sebelumnya juga menelan satu korban jiwa dari pihak TNI. Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Mayjen TNI Fransen G Siahaan mengungkapkan, seorang anggota Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), Kopral Dua Dadi Santoso, tewas ditabrak dan diseret pengendara mobil di kawasan Purna MTQ, Pekanbaru, pekan lalu. Korban merupakan prajurit TNI yang dikirim dari Jakarta untuk menanggulangi kesehatan korban asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan di Riau

Pengamat militer dari Universitas Padjajaran (Unpad), Muradi, menilai Mabes TNI perlu memberikan apresiasi terhadap prajurit yang telah bekerja keras dalam upaya memadamkan kebakaran tersebut. Terlebih, terhadap prajurit yang mengalami ISPA. "Prajurit itu akan senang sekali jika dipindah ke Jawa, walaupun pangkatnya sama. Atau dipindah ke tempat yang secara prinsipil memiliki grade lebih tinggi," ujar Muradi, kemarin.

Menurut Muradi, sementara ini yang lebih penting adalah menyediakan pengobatan dan memastikan kesembuhan prajurit yang terkena ISPA terlebih dahulu. "Harus dipastikan mereka sehat dulu, karena pengobatan itu penting untuk dilakukan. Kemudian, akan dinilai seberapa besar, mereka akan diberikan apresiasi," ujarnya. . n c07/antara ed: fitriyan zamzami

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA