Ahad 08 Jan 2017 18:00 WIB

Prof Abdul Hadi Wiji Muthari Selamatkan Sastra Islam Nusantara

Red:

Perkembangan sastra Islam di Indonesia kurang mendapatkan kajian luas sebagaimana sastra modern yang berkiblat tradisi Barat. Padahal, sastra Islam nusantara berperan penting dalam membangun peradaban, antara lain, Indonesia sebagai negeri berpenduduk mayoritas Muslim.

Persoalan itu diungkap Guru Besar Universitas Paramadina Jakarta, Abdul Hadi WM. Selain akademisi, sosok kelahiran Sumenep (Madura), 24 Juni 1946, itu juga dikenal sebagai penyair.

Banyak puisi karyanya berbicara tentang religiusitas, tasawuf, dan kearifan lokal. Ia merupakan penerjemah sejumlah teks sastra dunia ke dalam bahasa Indonesia, seperti Faust karya Johann Wolfgang von Goethe, Rubaiyat karya Omar Khayam, atau Matsnawi karya Jalaluddin Rumi. Peraih Southeast Asia Write Award (1985) tersebut juga telah menghasilkan puluhan buku yang mengurai perkembangan sastra Islam, baik di nusantara maupun dunia.

Bagaimanapun, ia mengaku khawatir dengan kecenderungan sastra Islam nusantara yang kian terpinggirkan. Berikut petikan wawancara wartawan Republika, Hasanul Rizqa, dengan peraih Satyalencana Kebudayaan RI (2010) itu di Universitas Paramadina, Jakarta, pekan lalu:

Bagaimana Anda mendefinisikan sastra Islam?

Sastra Islam  itu sastra yang berkaitan dengan Islam. Islam di sini tidak sekadar agama atau teologi. Sebab, pengertian orang kalau berbicara tentang Islam ya hanya teologi. Itu salah (dalam konteks definisi sastra Islam).

Islam lebih luas daripada itu. Islam adalah way of life. Itu dipahami terlebih dahulu. Setelah itu, sastra Islam (merupakan) sastra yang berkaitan dengan budaya orang Islam, way of life-nya orang Islam. Baik dalam kemasyarakatan, politik, ekonomi, spiritualitas, maupun lain sebagainya. Jadi, definisinya tidak hanya sastra yang mengungkapkan masalah Tuhan, tapi juga bagaimana (karya) sastra itu mencerminkan, menjabarkan, kehidupan orang Islam dalam pergulatannya dengan kehidupan spiritual maupun dalam kehidupan sosial dan moral.

Sebagai way of life, Islam itu, pertama-tama akidah. Akidahnya tentu saja tauhid. Akidah ini dijabarkan dalam bentuk ibadah. Ibadah itu ada yang formal, ada yang nonformal. Di samping ibadah, ada muamalah. Dan ada akhlak. Nah, itu lho.

Dimensi sufistik, ilham favorit sastrawan Islam, tak terkecuali di Indonesia. Bisa Anda jelaskan?

Tasawuf masuk ke kesusastraan Indonesia sejak awal penyebaran agama Islam di nusantara, yaitu pada abad ke-13. Tapi, teks-teks yang awal, yang kita temui itu, biasanya (mengungkapkan pengaruh tasawuf) dari abad ke-15 atau abad ke-16. Catatan-catatan itu tidak semuanya bisa eksis sampai abad belakangan karena bahan-bahan naskahnya itu mudah rusak.

Adapun yang kita kenal itu, seperti karya-karya Hamzah Fansuri, Sunan Bonang, dan lain-lain. Itu dari abad ke-15 atau abad ke-16. Jadi, sejak awal memang sudah masuk karena tasawuf atau sufi memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam, khususnya sejak abad ke-13. Proses itu berpusat di Samudra Pasai, wilayah Aceh. Kemudian, dari situ ke Jawa Timur, menyebar ke Ternate dan seterusnya.

 

Karena itu, dalam setiap sastra daerah, yang pemakai-bahasa daerahnya itu beragama Islam, pasti ada sastra sufi. Mulai dari sastra Aceh, Minangkabau, Sunda, Jawa, dan Madura. Jadi, ia (sastra sufi) sudah menjadi bagian yang teresapi.

Lihat saja, kesusastraan Jawa. Yang dominan di sana karya-karya Ranggawarsita, Yosodipuro. Itu semua diilhami oleh tasawuf. Ada bukunya, Serat Kalatida, di sini. (Prof Abdul Hadi WM berdiri dan menunjukkan sebuah buku berjudul Serat Kalatida.) Orang juga tidak bisa melepaskan karya-karya Melayu dari pengaruh sufi.

 

Jadi, tahap perkembangannya itu, misalnya dari teks, mulai dari abad ke-15. Kita bisa lihat dalam suluk-suluk Sunan Bonang, Sunan Gunung Jati, Sunan Kali Jaga, Ki Ageng Selo, dan sebagainya. Itu jelas sekali. Kalau dalam sastra Melayu, jelas sekali, misalnya, dari (karya-karya) Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani, Abdul Jamal, Syekh Nururddin ar-Raniri, Abdrurauf Singkel, dan segala macam.

Bagaimana periodisasi sastra Islam  di Indonesia?

Membagikan (sastra) Indonesia ke dalam periode itu, tidak bisa rigid. Tapi, kalau kita jernih melihat bahwa sastra Indonesia itu sastra yang menggunakan bahasa Indonesia. Sastra bahasa Indonesia itu adalah kelanjutan dari sastra Melayu, yang (memakai) bahasa Melayu.

Karena itu, sastra Indonesia yang disebut sastra modern itu kelanjutan dari sastra Melayu. Katakanlah, sastra Melayu lama. Artinya, sebelum adanya Indonesia.

Jadi, periodisasinya bisa dimulai dari datangnya agama Islam sampai dengan munculnya pengaruh-pengaruh Barat. Kemudian, perkembangannya sesudah Kemerdekaan pada 1945 dan 1960. Kemudian, seperti kata HB Jassin, ada (Angkatan) 66. Tapi juga ada 'Angkatan 70' dan seterusnya sampai sekarang.

Namun, yang menonjol itu perkembangan sastra Islam di (sastra Indonesia) modern. Ada sebuah kemunculan lagi setelah Amir Hamzah dan kawan-kawan pada 1930-an. Banyak sekali, ya. Ada Ali Hasjmy (sastrawan Aceh kelahiran 1914) dan segala macam itu. Tapi, kemudian (setelah generasi Ali Hasjmy) terpotong dengan periode-periode yang urut itu. Baru pada 1960-an dan 1970-an, lebih marak lagi.Sastra Islam berkembang pesat, seiring dengan perkembangan dalam seni lukis atau kaligrafi.

Kalau Braginsky (kritikus, penulis Yang Indah Berfaedah dan Kamal) itu, membagi sastra Islam ke dalam tiga kategori. Pertama, karya-karya yang mempersoalkan spiritualitas, kesempurnaan batin. Itu karya-karya sufi dan karya-karya para filsuf.

Kedua, karya-karya yang mengutamakan kemanfaatan kepada masyarakat, mengandung pengajaran. Karya-karya sosial, sejarah, dan segala macam yang ada hubungannya dengan masalah-masalah manusia di muka bumi. Hablum minan-nas-nya di sini, sedangkan hablum minAllah-nya pada sastra sufi. Yang di bawah lagi, ada sastra yang bercorak estetika lahiriah. Artinya, hiburan-hiburan, tetapi di dalamnya masih ada unsur pendidikan, seperti Kisah 1001 Malam.

Anda tadi menyinggung tentang terpotongnya generasi. Apa pengaruh kolonialisme

sempat memberikan jeda dalam perkembangan sastra Islam di Indonesia?

Jelas pengaruhnya. Karena, orang-orang pesantren, ulama-ulama itu menulis dalam bahasa Melayu atau daerah mereka masing-masing dengan menggunakan huruf Arab.

Kitab-kitab mereka menjadi tidak dibaca oleh ini (generasi selanjutnya). Jadi, peranan sentral mereka menjadi lemah. Karena itu, mereka kemudian balik lagi kembali menghidupkan bahasa Arab. Karena bahasa Arab, bagaimanapun, harus dibaca dengan tulisan atau aksara Arab.

Kalau saya melihatnya, ini adalah kesalahan pemimpin-pemimpin kita juga. Menjauhkan diri dari tradisi. Sama juga dengan anak Jawa. Sekarang, (generasi muda Jawa) tidak bisa membaca karya-karyanya Ranggawarsita dalam tulisan Jawa. Jangankan dalam tulisan (aksara) Jawa. Dalam bahasa Jawa yang sudah ditransliterasi ke Latin juga tetap tak bisa membacanya. Karena sudah dijauhkan.

Dalam beberapa karya Anda, seperti Kembali ke Akar Kembali ke Sumber (1999)

atau Hermeneutika Sastra Barat & Timur (2014), Anda menegaskan bahwa karya sastra adalah aktualisasi pengalaman batin seorang pengarang. Apakah teori-teori kesusastraan dari Barat cukup komprehensif untuk mengkajinya?

Tidak bisa. Karena, norma-norma kehidupan yang mereka (orang Barat) alami itu, yang dijabarkan ke dalam teori-teori sastra itu, berkaitan dengan pengalaman hidup mereka di Eropa.

Misalnya, pengalaman keterasingan dengan Tuhan, tidak hadirnya lagi Tuhan dalam kehidupan dan peradaban modern. Nah, adapun Islam di Indonesia, atau di mana-mana, tidak demikian. Satu-satunya agama yang tidak bisa tersekulerkan, itulah Islam. Islam  yang paling bertahan.

Maka, dalam sastra Islam itu, Tuhan atau nilai-nilai agama ya bisa hadir. Tenaganya itu di sana. Pun di sanalah masalahnya (bila) memakai perspektif Barat. Jadi, teori-teori sastra (Barat) itu tidak bisa melihat ini. Tidak bisa melihat keseluruhan.

Misalnya, feminisme. Teori gender itu kan dibuat-buat saja. Di masyarakat Indonesia, tidak ada yang disebut patriarki dalam persepsi penindasan oleh laki-laki. Ambil contoh, di Minangkabau itu matriarki. Madura itu juga matrilineal.

Sebuah teori sastra itu muncul tidak dari kekosongan, tetapi dari sesuatu yang sudah ada dalam masyarakat di mana teori sastra itu dilahirkan. Jadi, ada pandangan hidupnya, sistem kepercayaannya atau norma-norma. Karena itu, sastra sendiri juga muncul lantaran tidak dari kekosongan.

Orang Minangkabau, bila berkusastraan dalam bahasa Indonesia, ada setting masyarakat Minangkabau. Orang Jawa juga begitu. Orang Madura juga begitu. Ia mempunyai basis kearifan sendiri, yang terungkap melalui pandangan estetika mereka (pengarang).

Anda mengajak untuk kembali ke tradisi Timur dan meninggalkan Barat?

Bukan (kembali) ke Timur, melainkan tradisi kita itu sudah hilang. Maka, harus direbut lagi tradisi itu. Direbut dan diperjuangkan. Bukan dibunuh. Bukan ditinggalkan. Nanti kalau dibunuh, ditinggalkan, dan segala macam, ya kita menjadi kacung dari Barat. Kita jadi Pak Turut saja. Simpel sekali.

Sementara, di beberapa masyarakat atau bangsa lain, seperti Cina, Jepang, Iran, India, mereka menggali ini semua. Menggali dan merebut, lalu memperjuangkannya. Kita tidak sama sekali. Ini masalahnya.

Dalam sejumlah esai, Anda merasa studi kesusastraan di kampus-kampus Tanah Air terlampau didominasi tradisi Barat?

Karena itu, ilmu-ilmu kita menjadi terasing bagi perkembangan sosial. Tidak bisa dipakai untuk melihat atau menganalisis masyarakat kita sendiri.

Ilmu sosial (yang diajarkan di kampus) kan gagal menganalisis ini. Siapa bisa menjangkau Aksi 2 Desember 2016 itu, misalnya, dan segala macam? Nggak ada. Ilmu politik sekarang itu nggak ada (yang bisa menganalisisnya). Gagap semua. Ilmu sosial juga begitu.

Bagaimana menanamkan jiwa entrepreneur lewat sistem globalisasi, perbankan, neoliberalisme. Lah, masyarakat kita sendiri tidak liberal. Bagaimana itu? (Masyarakat Indonesia) masih pasar induk, kakilima. Jadi, teori-teori makro itu hanya berlaku untuk mereka, yang bergaul dengan sistem ekonomi Barat. Ilmu sosial Barat. Akibatnya, ilmu juga tumpul karena kita tidak menggali dari kearifan (masyarakat) kita sendiri.

Bagaimana Anda melihat sastra Islam, khususnya di Indonesia, sekarang ini?

Janganlah coba-coba para sarjana itu meniadakan sastra Islam Indonesia ini. Baik dalam bahasa Jawa maupun Melayu. Ia (sastra Jawa atau sastra Melayu) tidak berbicara apa-apa tanpa Islam, tanpa Hindu. Jadi, (sastra) kita ini nggak ada apa-apanya tanpa disuntik oleh peradaban Hindu dan Islam. Itu saja pokoknya. Kembalikan saja pada pokok dasar.

Kalau tidak merasuk Islam  itu, ya tidak akan menjadi agama rakyat di Indonesia. Mungkin, orang-orang itu tidak belajar melalui sastra. Tapi, pada awalnya, dimulai dari teks. Teks lalu konteks. Bukan dari konteks. Teks dulu. Karena, yang diajarkan dari buku-buku itu, kitab-kitab. Baru nanti, diolah oleh mereka, para ulama, untuk menjadi adat istiadat dan segala macam. Karena itu, dalam pepatah Melayu ada kata-kata, Adat bersendi syariat. Syariat bersendi kitabullah.

Kita akan tetap begini terus karena sistem, metode pendidikan kita itu mimesis, meniru-niru. Bukan creatio. Dulu, sebelum datang kolonialisme, kita tidak mimesis. Kita membuat sendiri. Buktinya, tasawuf. Al-Ghazali, Ibn Arabi, disintesiskan, dipadukan di Indonesia. Tidak dipertentangkan. Di Arab, sekarang ini dipertentangkan. Nah, kita yang kemudian belajar dari Arab mencoba mempertentangkannya lagi, yang mana di sini sudah lama dipadukan. (Contoh pemadunya?) Hamzah Fansuri, misalnya. Bacalah teksnya Hamzah Fansuri, syair-syairnya. Sunan Bonang juga begitu.

Pujangga-pujangga Indonesia zaman Islam dahulu itu belajarnya di pesantren. Sama dengan pujangga-pujangga zaman Hindu, itu belajarnya di asrama-asrama Hindu. Jadi, mereka begitu kaya dengan pengalaman dengan teks mereka.

Mereka menulis bukan tanpa teks-teks sebelumnya. Kearifan tidak datang sendiri. Buktinya, pengaruh Martabat Tujuh. Syamsuddin Sumatrani atau semua sufi sampai di Jawa ke sana itu, pada Martabat Tujuh. Itu bukti yang tak bisa dihapus sejarah. Bahkan, sampai era kini. Lihat misalnya buku drama Orkes Madun (karya) Arifin C Noer itu. (Prof Abdul Hadi WM menunjukkan buku tersebut.) Itu banyak pengaruh (tasawuf) di dalamnya. Campur aduk.

Apa ini berarti kita harus kembali ke masa lalu?

Bukan kita mengelap-lap tradisi lama. Membaca teks-teks supaya kta tahu kita sumber-sumber kita itu apa dan bagaimana. Misalnya, sekarang ini ramai (wacana) Islam  Indonesia. (Untuk merumuskannya) tidak mentang-mentang. Islam Indonesia yang dibicarakan bukan (rumusan dari) Martin van Bruinessen, Snouck Hurgronje, dan segala macam. Itu kan justru mereka yang mematikan (tradisi Islam ). Lihat bagaimana Raja Ali Haji, HAMKA, atau Hamzah Fansuri, (mengalami) pengaruh modernisme.

Mengapa sastra penting? Lihat gerakan-gerakan (yang tampak) di luar. Gerakan ekonomi, politik, dan sebagainya. Bawah sadar itu yang tidak kita ketahui. Nah, gerakan seni-sastra, itu menyumbang semua itu (mengungkap kondisi akar rumput masyarakat).

Cuma, orang kita belajarnya sekarang parsial. Hanya ilmu sosial yang penting. Tidak mempelajari teks-teks sastra. Bagaimana Sutardji (penyair) itu menjerit-jerit, bagaimana Taufiq Ismail menjerit-jerit? Itu suara dari bawah (maskarakat akar rumput). Harus didengar. Suara-suara itu, bahkan oleh sarjana sendiri, perguruan tinggi sendiri, enggak didengar.

Di perguruan tinggi itu kita juga sedih. Kita seperti tidak menawarkan satu solusi, bagaimana cendekiawan Muslim, ulama-ulama, memperhatikan sektor-sektor kultural. Itu bukan sekadar dogma atau tampilan artifisial, melainkan juga pemikirannya, kesusastraannya. Itu semua agar dipikirkan. Bagaimana memberdayakannya. Sehingga, Islam nusantara jadi pembawa pesan damai, tampil secara budaya, bukan hanya secara tindakan politik.

Nggak ada orang yang berpikir tentang kebudayaan tanpa bicara tentang sastra dan seni. Yang paling jelas, kepribadian (masyarakat) itu tampak dalam seni dan sastra. Bukan dalam ilmu.

Ya, sejarah kebudayaan harus dipelajari. Belajar sastra, sejarah kebudayaan, dan kebudayaan-kebudayaan yang ada di Indonesia. Bandingkan belajar tentang cultural studies. Tahu nggak kebudayaan Bali itu apa? Kebudayaan Madura apa? Cultural studies hanya (mengkaji) masyarakat kota. Yang dibicarakan, gay, LGBT. Itu kan ahistoris. Dan juga, tidak membantu munculnya teori pembangunan.

Jadi, berbicara untuk kepentingan teori saja, ilmunya saja. Tidak ada kemaslahatan masyarakat pada ilmu itu. Teori linguistik sekarang, misalnya. Bagaimana menjadikan bahasa Indonesia itu bahasa internasional. Bisakah itu dibantu oleh pakar linguistik? Ternyata tidak kan? Banyak pakar ekonomi. Tetapi, pembangunan seperti ini. Banyak pakar hukum. Hukum jadi rimba raya begini.

Sebab, terlalu banyak teori. Kita memerlukan pemikir sekarang ini. Bukan teori. Kalau ahli teori sudah banyak. Kita lebih memerlukan pemikir, bukan ahli teori. Kita belum tahap menggali (pemikiran) dan memperjuangkan lagi.ed: nashih nashrullah

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement