Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Kamis, 7 Rabiul Awwal 1440 / 15 November 2018

Majelis Rasulullah Memuliakan Sang Guru

Jumat 12 Agu 2016 17:00 WIB

Red:

Doa tak hanya ditujukan bagi orang yang telah meninggal, tapi juga mereka yang hadir dalam haul tersebut. Habib Munzir Fuad al Musawa atau lebih dikenal dengan Habib Munzir al Musawa telah wafat tiga tahun lalu. Namun, kisah hidupnya terus dikenang. Majelis yang ia bina masih terus berjalan. Para santrinya masih terus berdatangan.

Begitu yang terlihat pada acara haul al Habib Munzir al Musawa, Ahad (7/8). Ribuan orang tampak beriringan mengendarai motor mereka sambil membawa berbagai atribut khas Majelis Rasulullah. Mereka melakukan konvoi dari Masjid al Munawar menuju Masjid at-Taubah, Kalibata, Jakarta.

Sebuah lapangan sepak bola berubah menjadi lahan parkir. Setengah area terisi motor para jamaah. Sebagian kendaraan tampak tumpah ruah di Jalan Rawajati hingga fly over Kalibata. Musik hadrah bertalu disambut lantunan salam ziarah dan tawasul. Para santri berjalan berurutan, lalu duduk menempatkan diri. Mereka tak hanya datang dari Jakarta, tapi juga Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Papua.

Mereka memenuhi bagian dalam dan serambi masjid, bagian atas, hingga bagian luar dan jalan-jalan. Sebagian Muslimah berpakaian hitam tampak duduk berbaris di jalan karena area yang disediakan telah penuh. Tak peduli panas menyengat di kepala dan kaki, mereka melanjutkan lantunan tawasul dengan maulid addiya'ulami.

Prosesi haul masih berlangsung hingga pukul 17.00 WIB. Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh lokal hingga nasional. Turut memberikan ceramah Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis, Pemimpin PPPA Daarul Quran Ustaz Yusuf Mansur, Pemimpin Majelis Rasulullah Jawa Barat Habib Qureish Baharun, serta keluarga Habib Munzir yang diwakili Habib Nabiel al Musawa.  

Dalam tausiyah singkatnya, Habib Nabiel mengatakan, haul sengaja diselenggarakan untuk mengenang perjalanan hidup Habib Munzir. Acara ini mengandung nasihat dan peringatan bagi hamba Allah SWT yang masih hidup. "Orang yang sudah meninggal selalu meninggalkan pelajaran atau ibrah," ujar Habib Nabiel di hadapan para jamaah.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyatakan, ada banyak manfaat yang dapat diperoleh dari pelaksanaan haul. Pertama, dalam haul masyarakat Muslim diajak untuk mendoakan orang yang dimuliakan. Doa tak hanya ditujukan bagi orang yang telah meninggal, tapi juga mereka yang hadir dalam haul tersebut.

Kedua, haul juga menjadi ajang silaturahim. Haul Habib Munzir al Musawa menjadi ajang bertemunya jamaah Majelis Rasulullah SAW dari berbagai daerah. Pertemuan ini juga menjadi majelis ilmu sebab banyak tausiyah yang disampaikan oleh para tokoh agama. Terakhir, haul menjadi momen untuk meneladani sisi baik dari orang yang diperingati kematiannya. Sebab, mereka adalah orang-orang besar yang telah menorehkan banyak manfaat sepanjang hidupnya.

Adapun mengenai Habib Munzir, Lukman memberikan empat catatan tentang sifatnya yang patut diteladani. Lukman mengenal Habib Munzir sebagai seorang yang sangat besar kecintaannya kepada guru. Ia bahkan rela mencium alas kaki sang guru. "Maknanya tentu bukan secara harfiah, ya. Sandal adalah bagian paling bawah yang dipakai oleh seseorang. Itu simbol betapa takzim beliau (Habib Munzir) terhadap gurunya luar biasa," kata Lukman.

Habib Munzir selalu menekankan zikir kepada Allah. Zikir tidak hanya dilakukan secara lisan, tapi juga tecermin dalam tindakan. Artinya, para jamaah yang pernah mengkaji ilmu agama dari tokoh ini disarankan untuk senantiasa mengingat Allah sejak dalam pikiran. Dengan begitu, Allah senantiasa hadir dalam kehidupan mereka dan menjadi penuntun sebelum mengambil tindakan.

Kecintaan Habib Munzir kepada Rasulullah SAW juga tampak begitu nyata. Ia menamai majelis yang dipimpinnya dengan nama Majelis Rasulullah. Majelis ini terus berkembang. Ia hadir di tengah-tengah para jamaah, bahkan ketika menderita sakit sebelum meninggal. Sisi lain dari Habib Munzir yang begitu dikagumi ialah misi dakwahnya yang tak kalah luar biasa. Selama hidupnya, Habib Munzir menyampaikan Islam yang cinta damai. Islam, dalam dakwah yang ia sampaikan, merupakan agama yang menyejukkan dan penuh kasih sayang. "Kita sekarang tidak hanya punya kewajiban memelihara hal-hal baik yang ditinggalkan, tapi juga mengembangkan hal baik itu sesuai situasi dan kondisi saat ini," kata Lukman memberi nasihat di akhir sesi ceramahnya.

KH Cholil Nafis juga menyampaikan hal serupa. Haul Habib Munzir bagi Kiai Cholil menjadi momen untuk mempelajari contoh pendakwah sejati. Pendakwah adalah tugas mulia. Ia meneruskan tugas Rasulullah SAW untuk menyampaikan firman Allah, membumikan agama yang Allah ridhai.

"Dakwah kepada Allah itu dengan bashiroh, bukan bisaroh. Dengan hati, bukan dengan bayaran, popularitas, kedudukan, dan lain-lain," kata Cholil.

Kiai Cholil juga menyebutkan, ada beberapa sifat yang dimiliki pendakwah. Seorang pendakwah hendaknya jujur. Ia harus memiliki niat yang benar, lisan yang benar, serta tindakan yang benar.

Pendakwah juga merupakan pemegang amanah. Ia memegang amanah keimanan. Oleh karena itu, pendakwah hendaknya terus menyerukan agar orang-orang beriman. Ada pula amanah ilmu dari Allah sehingga pendakwah harus menyampaikan ilmu tersebut kepada orang lain. Sifat lain yang harus dimiliki seorang pendakwah ialah tawadhu atau rendah hati.

Ustaz Yusuf Mansur menekankan, guru hendaknya memiliki tiga kriteria, yaitu menenangkan (nenangin), menyenangkan (nyenengin), dan mengenyangkan (ngenyangin). Seorang guru hendaknya memiliki pribadi yang tenang dan membuat para muridnya merasakan kesejukan dan kekhidmatan dalam menimba ilmu. Seorang guru juga hendaknya menyenangkan. Para murid merasa senang dibimbing olehnya sehingga mereka terpacu untuk terus hadir dalam majelisnya.

Terakhir, seorang guru hendaknya dapat mengenyangkan muridnya. "Kenyang pengalaman lahir dan batin. Kalau tidak begitu, bukan guru namanya," kata Ustaz Yusuf. Haul Habib Munzir dilaksanakan selama dua hari. Rangkaian acara selanjutnya diselenggarakan di Masjid al Munawar, Jakarta. Acara ini diikuti oleh lebih dari 10 ribu orang. n ed: hafidz muftisany

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA TERKAIT

BERITA LAINNYA