Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Monday, 2 Jumadil Awwal 1443 / 06 December 2021

Habibie dan Impian Ibu Pertiwi

Senin 27 Jun 2016 14:00 WIB

Red:

Ibu pertiwi engkau pegangan. Dalam perjalanan. Janji pusaka dan sakti. Tanah tumpah darahku. Makmur dan suci.

Potongan puisi yang sangat menggugah hati di atas adalah karya presiden ketiga RI, BJ Habibie, yang pada 25 Juni usianya genap 80 tahun. Puisi ini menunjukkan bahwa BJ Habibie merupakan sosok yang sangat mencintai bangsanya. Baginya, Ibu Pertiwi adalah personifikasi jiwa kebangsaan yang terkandung cita-cita dan mimpi yang harus diwujudkan.

Habibie muda yang biasa dipanggil Rudy sejak 1950 sudah memikirkan bagaimana dirinya bisa mewujudkan impian alamiah Ibu Pertiwi. Terpicu oleh sahabat karib semasa SMA di Kota Bandung yang bernama Lim Keng Kie, Rudy harus meninggalkan Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung lalu berjuang keras menjadi mahasiswa RWTW Aachen (Rheinisch Westfalische Technische Hochschule Aachen)—perguruan tinggi tertua di Jerman yang didirikan untuk menunjang tahapan revolusi industri.

Impian alamiah Ibu Pertiwi semakin mengkristal dalam sanubari Rudy. Terlebih, ketika pada 1955 dirinya bertemu Bung Karno dan menyimak gelora pidato presiden pertama RI itu. Saat itu Bung Karno menyatakan impian-impian Ibu Pertiwi terkait pentingnya kemandirian di sarana-prasarana perhubungan. Untuk itu, dibutuhkan kapal laut dan pesawat terbang yang dibuat di dalam negeri dengan kompetensi putra-putri bangsa sendiri.

Dalam perjalanan sang waktu, harapan dan keinginan Bung Karno ini telah diwujudkan oleh BJ Habibie dengan mendirikan bermacam wahana transformasi teknologi dan industri serta menyiapkan SDM unggul bangsa yang mampu bekerja sama mewujudkan impian alamiah Ibu Pertiwi.

Selain menyiapkan wahana dan SDM kelas dunia, BJ Habibie telah menyiapkan cetak biru pembangunan infrastruktur bangsa yang berbasis kemandirian dan proses nilai tambah optimal yang berarti bagi perekonomian bangsa. Pemerintahan saat ini seharusnya melanjutkan tahapan dan kerja detail dari BJ Habibie dalam membangun infrastruktur.

Pembangunan infrastruktur selayaknya dipersiapkan secara matang dari aspek SDM dan proses rancang bangunnya harus melibatkan pihak dalam negeri semaksimal mungkin. Pembangunan infrastruktur jangan dilepaskan kepada investor luar negeri, sedangkan kita tinggal terima jadi.

Impian alamiah Ibu Pertiwi harus terus diwujudkan oleh generasinya. Impian alamiah yang antara lain terkait infrastruktur perhubungan, kebutuhan energi nasional, hingga industri pertahanan dan keamanan perlu persiapan SDM secara detail.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini sebaiknya banting setir menuju kemandirian secara totalitas. Dalam membangun infrastruktur harus menyiapkan SDM dalam negeri secara besar-besaran. Karena pembangunan infrastruktur tidak berhenti saat proyek selesai, tapi akan timbul persoalan teknis dan kontinuitas pengembangan infrastruktur.

Kita bisa menyimak bagaimana pada periode BJ Habibie menjabat menteri riset dan teknologi telah mengirimkan sekitar 4.000 pemuda belia lulusan SMA untuk kuliah di perguruan tingi terkemuka dunia. Hampir semuanya berhasil menyelesaikan kuliah hingga strata S-2 dan S-3.

Kini mereka tersebar dalam berbagai lembaga pemerintahan dan swasta. Banyak di antara mereka kini menjadi pengembang dan inovator teknologi serta sukses melakukan transformasi proses dan model bisnis di berbagai perusahaan terkemuka.

Saatnya Presiden Joko Widodo menghimpun dan menyinergikan ribuan anak-anak intelektual BJ Habibie untuk mencurahkan pikiran dalam pembangunan infrastruktur dan pengembangan industri dan iptek nasional.

Betapa detailnya BJ Habibie menyiapkan SDM unggul untuk transformasi bangsanya. Bisa kita lihat, dalam mewujudkan impian alamiah Ibu Pertiwi untuk terwujudnya jembatan udara kepulauan nusantara telah dipersiapkan portofolio kompetensi sedemikian detailnya hingga dirumuskan job description yang paling dasar. Portofolio itu bisa kita simak pada SDM PT Dirgantara Indonesia.

Sebagai negara kepulauan, negeri ini membutuhkan strategi yang tepat dalam pengadaan pesawat komuter sebagai jembatan udara. Berkat BJ Habibie, Indonesia telah memiliki strategi unggul pengadaan pesawat komuter dengan cara memproduksi sendiri. Warisan ini seharusnya dikembangkan secara optimal oleh pemerintahan saat ini.

Selain membangun infrastruktur berupa fasilitas pabrikasi, permesinan, dan laboratorium yang hampir setara dengan perusahaan dirgantara raksasa Amerika Serikat, yakni Boeing, Habibie juga sukses membentuk portofolio kompetensi sistem job establishment berkelas dunia. Meliputi postur SDM yang kompetensinya terdiri atas kelompok enginering terdapat 141 job title, kelompok produksi 65 job title, kelompok human resources 82 job title, dan kelompok niaga 21 job title.

Postur SDM dan portofolio kompetensi yang sangat detail dan sesuai perkembangan dunia ini juga terjadi di wahana maritim, dalam hal ini PT PAL, wahana industri hankam PT Pindad, dan lainnya.

Para kader atau anak-anak intelektual Habibie dalam karier dan karyanya saat ini sudah mencapai tahap matang di bidangnya. Mereka kini dalam kisaran usia puncak produktivitas dan unggul dalam hal manajemen program atau proyek.

Dengan kondisi ini, jangan ada keraguan bagi pemerintahan Presiden Joko Widodo untuk segera melibatkan dan memeras otaknya anak-anak intelektual Habibie demi kemajuan dan daya saing bangsa pada era globalisasi.

Mereka kini berhimpun dalam wadah Ikatan Alumni Program Habibie (Iabie). BJ Habibie selalu berpesan kepada anggota Iabie untuk bersikap inklusif dan selalu tampil di garis depan dalam menyelesaikan persoalan bangsa.

Warisan Habibie yang berupa wahana industri dan kader intelektual juga sangat berguna untuk menyelesaikan program nasional kelistrikan 35 ribu megawatt yang kini menjadi perhatian Presiden Jokowi. Wahana itu berupa PT Nusantara Turbin dan Propulsi (PT NTP) yang SDM-nya memiliki kemampuan setara industri terkemuka dunia, yakni General Electrics (GE) yang memproduksi berbagai turbin untuk pembangkit listrik, industri, dan turbin gas untuk mesin pesawat terbang.

Pemerintahan Jokowi perlu merevitalisasi industri nasional terkait infrastruktur kelistrikan, khususnya teknologi pembangkit, dengan menugaskan PT NTP sebagai ujung tombak program kelistrikan 35 ribu megawatt. Ternyata di negeri ini hanya ada satu turbine manufacturer, yakni PT NTP.

Itu pun hanya sanggup mengerjakan proyek PLTU dengan daya maksimum tujuh megawatt. Sedangkan, untuk membuat generator kalangan industri dalam negeri hanya mampu membuat dengan kapasitas maksimum 15 megawatt. Sedangkan, untuk rancang bangun boiler, ada beberapa perusahaan yang kemampuan produksinya cuma mengerjakan tipe stocker dengan kapasitas maksimum 15 megawatt.

Melihat kondisi itu, alangkah baiknya pemerintah menggariskan kembali strategi transformasi industri dan teknologi warisan BJ Habibie. Kita perlu mengambil pelajaran berharga dari pengalaman transformasi teknologi dan industri di Eropa dan Amerika yang diawali dengan penguatan infrastruktur energi dan pembangkit listrik.

Dengan fokus memperkuat kapasitas industri nasional untuk memproduksi berbagai jenis turbin, kompresor, generator, pompa, dan berbagai perkakas permesinan. Jangan sampai pembangkit listrik sebagian besar komponennya diimpor dari Cina.

Begitu pula proses rancang bangun dan pabrikasi untuk instalasi pembangkit listrik di atas semuanya dilakukan oleh para insinyur dan teknisi dari Cina. Akibatnya para insinyur dan teknisi Indonesia harus gigit jari. n

Bimo Joga Sasongko, Sekjen Pengurus Pusat Ikatan Alumni Program Habibie (Iabie)

Yuk koleksi buku bacaan berkualitas dari buku republika ...
 
 

BERITA TERKAIT

 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA