Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Saturday, 5 Rajab 1441 / 29 February 2020

Mengapa Civic-Islam?

Jumat 04 Sep 2015 14:00 WIB

Red:

Edisi perdana suplemen Civica menurunkan reportase utama mengenai kegiatan Civic-Islam yang menjadi salah satu program LP3ES. Program ini pertama kali dilancarkan di Bandung sejak awal tahun ini sebagai eksperimen untuk mengimplementasikan gagasan mengintegrasikan kembali nilai-nilai Islam dan nilai-nilai kewarganegaraan.

LP3ES menilai, dalam perkembangan selama sepuluh tahun terakhir ini, gagasan dan diskursus kewarga-negaraan sesungguhnya sedang diperebutkan oleh tiga kekuatan besar yang sedang bertarung dalam proses demokratisasi.

Pertama oleh kekuatan-kekuatan formal partai politik yang mereduksi warga-negara sekadar sebagai voters, yakni pemilih partisan dalam pertarungan politik elektoral. Status voters pada kenyataannya hanyalah objek politik yang mudah dimanipulasi dan diperjualbelikan.

Kedua, oleh dunia bisnis dan kekuatankekuatan modal yang hanya berkepentingan menjadikan warga-negara sekadar sebagai konsumen. Di sini warga-negara juga hanya diperlakukan sebagai objek homo-economicus, nilainya terletak pada daya-belinya.

Dan ketiga oleh kelompok-kelompok agama yang terus menerus mendefinisikan warga-negara dalam posisi sebagai jamaah atau umat mereka. Di sini, warga-negara dipecah-pecah menurut kategori primordialnya.

Banyak kajian telah secara meyakinkan membuat kesimpulan bahwa warganegara adalah subjek vital yang seharusnya mempunyai peran strategis untuk mengembangkan proyek kolektif demokratisasi. Kewarganegaraan bukan hanya identitas individual yang di dalamnya teremban hak-hak sipil dan politik, tetapi kewarganegaraan juga mengandung gagasan mengenai identitas kolektif untuk mengemban tugastugas sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan demi kebajikan bersama di dalam kesatuan entitas kenegaraan.

Itu sebabnya pekerjaan membangun kewarganegaraan adalah pekerjaan yang harus terus menerus dikembangkan oleh semua komponen masyarakat-bangsa.

Civic-Islam mendefinisikan diri sebagai gerakan sosial berbasis kewargaan yang ingin mengembangkan ide dan praksis bahwa menjadi Muslim Indonesia tidak harus diartikan berada dalam suasana kontradiktif.

Mempertentangkan dua subjek politik antara kemusliman dan keindonesiaan sebagaimana masih terlihat dilakukan beberapa kelompok Islam, bukan hanya tidak bermanfaat tetapi juga kontraproduktif.

Keislaman dan keindonesiaan – sebagaimana dipahami para intelektual Muslim Indonesia seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, atau Kuntowijoyo – adalah entitas-entitas relasional yang dinamis dan kreatif. Tugas Civic-Islam adalah mengembangkan praksis keislaman dalam konteks keindonesiaan, sekaligus keindonesian dalam spirit keislaman. Disadari bahwa ini adalah pekerjaan besar dan berjangka panjang.

LP3ES mendedikasikan diri untuk menabur gagasan tentang kewarganegaraan-politik, kewarganegaraan-sosial, kewarganegaraanekonomi, dan kewarganegaraan-kultural yang berwawasan etis dalam proses demokratisasi Indonesia. Inilah utang yang harus dilunasi oleh komunitas-komunitas Muslim Indonesia untuk membangun demokrasi dalam pengertian yang sesungguh-sungguhnya, ke arah Indonesia yang berdaulat, sejahtera, dan adil bagi semua.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA