Senin 29 Jun 2015 12:00 WIB

Nasibah binti Ka'ab, Pemuka Muslimah Anshar

Red:

Nasibah binti Ka'ab bin Umar bin Auf Al Khazrajiah ialah wanita pertama kaum Anshar yang bersedia berikrar kepada Nabi Muhammad SAW untuk masuk Islam. Ia menikah dengan Zaed bin Asyim dan dikaruniai anak yang diberi nama Habib dan Abdullah.

Pernikahannya dengan Zaed tak berlangsung lama. Zaed wafat selang beberapa tahun pernikahan mereka. Nasibah pun dipersunting Ghaziah yang masih kerabat Zaed.

Sebagai wanita Anshar, ia dikenal lugas dan tegas dalam mengutarakan apa yang ia pikirkan. Termasuk kejujuran dan keterusterangannya kepada Nabi Muhammad SAW. Jika ada sesuatu yang dirasa tidak adil, dia akan mengutarakannya.

Suatu kali Nasibah pernah mendatangi Rasulullah SAW dan menyampaikan unek-uneknya. "Wahai Rasulullah," ujar Nasibah, "Aku tidak pernah melihat segala sesuatu kecuali hanya diperuntukkan kepada laki-laki saja. Keberadaan wanita sama sekali tak dianggap."

Menanggapi perkataan Nasibah itu, berkatalah Rasulullah SAW melalui wahyu dengan menyampaikan surah al Ahzab ayat 35.

"Sesungguhnya laki-laki dan perempuan-perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan-perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan-perempuan yang taat, laki-laki dan perempuan-perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang penyabar, laki-laki dan perempuan-perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan-perempuan yang rajin bersedekah, laki-laki dan perempuan-perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan-perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan-perempuan yang senantiasa menyebut (nama) Allah, telah disiapkan oleh Allah sebuah ampunan dan pahala besar."

Nasibah juga turut serta dalam beberapa peperangan besar bersama Rasulullah SAW. Selain berperang, ia berperan melayani dan membantu para mujahidin yang terluka saat perang. Nasibah juga memotivasi para sahabat yang sedang membela panji agama Allah.

Muslimah yang akrab disapa Ummu Imarah memiliki kelebihan untuk memompa semangat para mujahidin sehingga keraguan yang ada di dalam diri para mujahidin hilang.

Bahkan, seperti dikisahkan dalam Tokoh-tokoh Besar Islam Sepanjang Masa, ketika ada musuh menyerang ke markas kaum Muslimin, ia tidak ragu melawan dan menusukkan senjata kepada musuh layaknya seorang pria.

Ia bersama dengan suami dan anaknya terjun dalam Perang Uhud sampai-sampai dia terluka parah di saat para mujahidin hampir kewalahan menerima serangan dari musuh-musuh Allah.

Ketika itu, pakaian Ummu Imarah tercabik-cabik oleh sayatan senjata, namun dia tetap berusaha menjaga Rasulullah dalam keadaan tubuh penuh luka. Ada sekitar 12 bekas hantaman senjata yang menempel di tubuh Ummu Imarah.

Bahkan, saat Rasulullah hendak dibunuh oleh Ibnu Qumah, Ummu Imarah berhasil menghalanginya dan sanggup menghalangi hujaman-hujaman senjata yang ditujukan Ibnu Qumul kepada Rasulullah.

Rasulullah pernah membicarakannya, "Derajat Nasibah pada hari itu lebih tinggi daripada derajat siapa pun, aku (Nabi) selalu melihatnya di tempat manapun, aku senantiasa melihat Nasibah sedang berperang di belakangku."

Nabi juga pernah berkata kepada anak Nasibah yang bernama Abdullah. "Semoga Allah senantiasa memberkati kalian semua yang tergolong Ahli Bait. Derajat ibumu lebih tinggi daripada derajat siapa pun dan derajatmu pula lebih tinggi dari derajat siapa pun. Allah benar-benar telah memberikan kalian semua yang termasuk Ahli Bait.

Kemudian Nasibah berkata kepada Rasulullah. "Wahai Rasul, berdoalah kepada Allah agar kami bisa menyertaimu di surga nanti."

Dan ketika itu Rasulullah langsung memanjatkan doa.

"Ya Allah, jadikanlah mereka teman-temanku di surga."

Mendengar doa Rasulullah itu, Nasibah berkata, "Aku tidak akan merasa resah setelah ini dan aku tak akan merasa menderita karena permasalahan-permasalahan duniawiku."

Pada hari Hudaibiyyah, saat kaum Muslimin mendengarkan sebuah isu bahwa Utsman telah dibunuh oleh kaum Quraisy, Nasibah serentak berdiri dengan mengambil sebuah tongkat untuk dijadikan senjata.

Selain melawan musuh-musuh Allah, ia juga ikut berperang melawan orang-orang yang keluar dari agama Islam pada masa pemerintahan Abu Bakar. Ia juga ikut serta dalam Perang Yamamah bersama Khalid bin Walid untuk menghadapi Musailamah sang pendusta. n c62 ed: hafidz muftisany

Dapat mengunjungi Baitullah merupakan sebuah kebahagiaan bagi setiap Umat Muslim. Dalam satu tahun terakhir, berapa kali Sobat Republika melaksanakan Umroh?

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement