Senin 01 Dec 2014 13:00 WIB

Integritas Sastra dalam Membentuk Kesalehan Oleh Maghfur MR* Kelembutan hati bisa lahir dari rahim sastra yang tersucikan. Kejernihan hati mampu melahirkan sastra yang lembut pula. Dua kredo seolah berseberangan, namun sejatinya searah menuju pulau kesa

Red:

Kelembutan hati bisa lahir dari rahim sastra yang tersucikan. Kejernihan hati mampu melahirkan sastra yang lembut pula. Dua kredo seolah berseberangan, namun sejatinya searah menuju pulau kesalehan jiwa. Bagaimana tidak. Realitas sastra tidak pernah tebang pilih. Apa pun bisa jadi objek dan siapa pun bisa jadi subjek sastra.

Perkara politik, ekonomi, sosial, dan bahkan 'daun jatuh' pun tidak terelakkan dari perhatian sastrawan sebagai objek yang akan banyak memberi pelajaran hidup. Akademisi, politisi, kiai, santri, petani, dan sampai 'abang becak' pun sangat berpotensi menjadi pujangga yang siap membaca segala kondisi kehidupan. Predikat sastra yang luwes ini akan sangat mudah membentuk dermaga kesalehan dalam jiwa siapa pun.

Sastra bisa menjadi penyeimbang segenap kemampuan mental manusia, berhubung dengan adanya kelebihan energi rasa yang harus disalurkan. Dengan kesusastraan, seseorang diasah untuk lebih kreatif, memiliki rasa serta kepekaan yang dalam, dan sensivitas kemanusiaannya, sehingga terhindar dari tindakan-tindakan destruktif, sempit, kerdil, dan picik,  begitu Friedrich Schiller menegaskannya (Darmaningtyas, 2008: 81).

Salah satu bukti peran sastra adalah karya Mpuh Tantular yang berupa Kitab Sotasoma. Di antaranya: "Bhinneka Tunggal Ika" (berbeda-beda tapi tetap satu tujuan) mampu merangkul segala ragam budaya yang ada di Indonesia tercinta ini untuk tetap mengarungi hidup dengan penuh kerukunan. Sastra yang arif tersebut membuka mata hati bangsa untuk siap menerima realitas budaya kita yang hitrogen. Kesiapan yang demikian merupakan kesalehan inklusif bagi yang berbeda, yaitu sikap yang layak terbuka.

Maka, benar adanya bahwa sastra memupuk kehalusan adab dan budi pekerti bagi individu serta masyarakat agar menjadi insan yang beretika dan berperadaban, (Edi Firmansyah, 2006). Karya sastra merupakan cermin dari masyarakat yang akan terus mewakili situasi dan keadaan sekitarnya. Karya sastra yang bagus adalah karya sastra yang mampu merefleksikan zamannya. Sehingga, karya sastra itu sebagai dokumen yang dapat dilihat dan dinikmati sepanjang zaman. Oleh karena itu, karya sastra berkembang sesuai dengan keinginan masyarakat sebagai pembaca dan konsumen sastra, hal ini yang dikemukakan oleh Suwardi Edraswara (2004 : 77).

Selain sastra sebagai sebuah karya seni yang memiliki imajinasi dan emosi, sastra juga sebagai karya kreatif yang difungsikan untuk konsumsi intelektual dan emosional yang mana hal ini menyuguhkan nilai-nilai budi kesalehan. Tentu yang dimaksudkan di sini adalah sastra yang dilahirkan oleh sastrawan yang berhati uryan (hati yang bersih daripada hawa nafsu) dapat membangun kepuasaan estetik dan intelektual bagi pembaca. Sehingga, karya sastra sangat dimungkinkan membentuk kesalehan.

Karya sastra bisa berbentuk novel, novelet, cerpen (cerita pendek), puisi, dan lainnya. Dalam karya sastra, puisi mempunyai peran sentral dalam indahnya kehidupan. Karena puisi merupakan karya yang singkat padat berisi. Puisi sebagai ungkapan pikiran dan perasaan seseorang yang telah mengkristal dalam jiwa penyair yang uryan. Dalam karya puisi banyak terdapat metafora yang dianggap mampu menampung realitas kehidupan dalam bentuk bahasa yang indah.

Betapa banyak peranan sastra membantu siapa pun yang berkehendak menata diri untuk selalu memberi manfaat bagi yang lain. Kesalehan yang demikian ini bisa tercapai apabila konten sastra terlepas dari cenkraman keduniaan. Hal ini kita temukan dalam bait puisi Ibnu Arabi: 

Dari siapa kau mendapatkan keterbebasan/atau pada siapa kau memberi keterbebasan/wahai pemburu keterbebasan)."

Pesan terdalamnya, kerja keras untuk merangkul kemerdekaan diri dari kolonial keduniaan sehingga hanya bersanding dengan purnama keilahian. Maka, yang terbentuk adalah saleh secara vertikal dan horizontal.

Untuk lebih riil, bahwa sastra mempunyai peranan dalam membentuk kesalehan, yaitu apabila sastra lahir dari nilai-nilai universal dan transendental. Karya sastra tidak hanya berupa teks melainkan juga tindakan. Buah sastra ini bisa lebih berperan ketika dihasilkan dari jiwa sastrawan yang murni untuk kemanfaatan hidup. Hal ini bisa kita temukan dalam pelbagai karya sastra. Misal, karya penyair Pakistan yang bernama Iqbal.

Di antara karya sastra Iqbal yang revolusioner:

Dan bangun!/bangunlah dari tidur nyenyak/dari lena sejenak/bangunlah!/dari lupa sesaat/seluruh negeri Timur terbujur/berserakan bagai onggok pasir di tepi jalan/atau seperti jerit bisu tak dapat bicara/dan rengek pilu yang berlebihan/namun zarrah di muka bumi/ialah tempat merenung buat kelahiran yang perih. Cuplikan ini tertera dalam kumpulan puisinya, "Asrari Khudi". Puisi-puisinya mampu membangkitkan kesalehan berjuang untuk negerinya. Inilah penyair dan puisinya yang revolusioner.

Yang demikian ini, menurut Oktavio Paz, adalah puisi apokaliptik. Sastra semacam ini karena terlahir dari penyair yang mempunyai penglihatan batin dan mampu menyingkap gejala-gejala kehidupan yang tersembunyi. Sastrawan yang seperti ini biasanya tergolong penyair yang jernih hatinya, misal, Jalaluddin Rumi, Muhammad Iqbal, Rabiah al-Adawiyah, dan Ibnu Arabi.

Ada yang perlu distabilu, bahwa kita harus bisa memilah dan memilih nilai sastra yang bernuansa universal. Aminuddin Rifai (2009: 111) menyatakan, bahwa sastra profetik berjiwa transendental dan sufistik karena berangkat dari nilai-nilai ketauhidan, tetapi setelah itu juga memiliki semangat untuk terlibat dalam mengubah sejarah kemanusiaan yang karena itu memiliki semangat kenabian.

Integritas peranan sastra yang disebutkan di atas tidak menafikan peranan kreativitas-kretivitas yang lain. Sehingga, antara buah karya sastra dan kreativitas yang lain saling membahu untuk membangun kesalehan hidup. Karya sastra hadir sebagai refleksi kehidupan masyarakat. Pesan senada ini dikemukan oleh Balibar dan Macherey (1987: 80, 84) bahwa fenomena karya sastra menjadi tidak ada di luar kondisi-kondisi sosial dan sejarahnya. Maka seyogianya, sastra membentuk kesalehan dengan kobaran api cinta ilahi. Tegas Iqbal:

Kalau kebenaran/tak punya semangat berkobar/itulah filsafat yang datar/jika punya nyala api/itulah puisi.

 

*) Penulis adalah staf peneliti ICRS UGM dan ketua Lingkar Sastra dan Studi Islam pada Adab UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement