Tuesday, 23 Syawwal 1443 / 24 May 2022

Konflik Suriah

AS Siapkan Opsi Militer untuk Suriah

Kamis 02 May 2013 01:27 WIB

Red: Zaky Al Hamzah

Salah satu sudut kota di Suriah Utara yang dilewati Tim ACT

Salah satu sudut kota di Suriah Utara yang dilewati Tim ACT

Foto: Doddy Claveland HP

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Suriah telah melanggar batas toleransi Amerika Serikat (AS). Hal itu ditegaskan Presiden AS Barack Obama dalam jumpa pers di Gedung Putih, Selasa (30/4).

Menurut Obama, AS memiliki bukti bahwa pasukan Pemerintah Suriah telah menggunakan senjata kimia untuk memerangi rakyatnya sendiri. Karena itu, Gedung Putih sedang menimbang-nimbang untuk melakukan sesuatu guna menghentikan tindakan pasukan yang mendukung Presiden Bashar al-Assad tersebut. Pada kesempatan itu, Obama secara implisit menyatakan, AS siap menjatuhkan opsi militer untuk menumbangkan Assad.

Terkait hal itu, ia telah meminta Pentagon dan badan-badan keamanan untuk bersiap jika Suriah benar-benar melewati batas alias menggunakan senjata kimia. Hanya saja, sejauh ini AS belum bisa memastikan senjata kimia yang digunakan. Hal yang pasti, tegas Obama, pihaknya telah memiliki fakta penting terkait penggunaan senjata kimia tersebut.

Ia sangat berharap masyarakat internasional mengetahui hal ini sehingga mendukung opsi yang akan dilakukan AS. Meski tak menutup kemungkinan AS akan memilih opsi militer, Obama tampak sangat berhati-hati dalam memilih kata-kata dalam jumpa pers tersebut. ''Pilihan-pilihan tersebut kini ada dan siap digunakan.'' Opsi itu, ucap dia, akan diterapkan untuk memberikan solusi terbaik bagi Suriah.

Meski demikian, tak semua warga AS setuju dengan keinginan sang Presiden. Jajak pendapat menunjukkan, banyak masyarakat AS yang tak ingin negaranya berperang kembali. Dengan kata lain, mereka tak mau AS menggunakan kekuatan militer di Suriah.

Berbeda dengan AS, Pemerintah Suriah menampik tuduhan penggunaan senjata kimia itu. Sebaliknya, rezim Suriah menuding kelompok oposisi yang telah menggunakan senjata kimia. Seperti dikatakan Dubes Suriah untuk PBB, Bashar Jaafari, pasukan oposisi menggunakan senjata kimia itu tatkala melancarkan serangan di dekat Kota Idlib. Mereka, tutur Jaafari, memang berusaha membuat kesan bahwa yang menggunakan senjata kimia adalah pasukan pemerintah.

Kelompok pemberontak itu, kata Jaafari, menyebarkan isi kantung berisi bubuk yang kemungkinan besar adalah senjata kimia. Perbuatan itu, lanjut dia, sangat keji dan mencoreng nama Suriah. ''Masyarakat internasional juga terpengaruh oleh hal itu,'' katanya.

Meski begitu, Pemerintah Suriah menolak ahli kimia PBB untuk menyelidiki kemungkinan penggunaan senjata berbahaya itu. Dalam hal ini, pemerintah hanya memberikan sedikit celah, yaitu seputar penggunaan senjata kimia oleh pihak pemberontak di Aleppo, akhir Maret lalu. Namun, PBB dan Barat menginginkan bukti lain selain apa yang diizinkan Suriah.

Teman sejati

Ketika AS berancang-ancang menyerang Suriah, lain halnya dengan kelompok militan Hizbullah di Lebanon. Mereka justru berjanji setia untuk terus mendukung Pemerintah Suriah. Dukungan itu disampaikan pemimpin Hizbullah, Hassan Nasrallah, dalam pidato yang disiarkan stasiun televisi Hizbullah, al-Manar.

Ditegaskan Nasrallah, Suriah adalah teman sejati Hizbullah. Pemimpin kelompok beraliran Syiah ini juga menyatakan, para pemberontak tak akan mampu menggulingkan pemerintah Assad dengan kekuatan militer.

Ucapan Nasrallah ini mengindikasikan, Hizbullah akan siap membantu Suriah jika keadaan benar-benar genting. Sebelumnya, Hizbullah membantu pasukan Suriah di sebuah desa dekat perbatasan Lebanon.

Dalam pidato itu, Nasrallah juga mengatakan, tudingan bahwa Suriah telah menggunakan senjata kimia merupakan sebuah tekanan dunia internasional. Hal itu sama seperti yang pernah dilakukan AS pada Irak.

Ia justru khawatir, tujuan utama dari tuduhan penggunaan senjata kimia itu adalah menyerang Suriah. Kemudian, menghapuskan Suriah dari wilayah Arab serta menghilangkan perannya dalam penyelesaian konflik Arab-Israel. ''Mereka tak ingin sebuah negara Suriah yang kuat berdiri, tapi menginginkan (Suriah) sebagai negara gagal yang tak punya kontrol maupun sumber daya.''  Karena itu, Nasrallah berjanji akan membantu Suriah agar tak jatuh ke tangan AS atau Israel. n ichsan emrald alamsyah ed: wachidah handasah

Berita-berita lain bisa dibaca di harian Republika. Terima kasih.

 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA