Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Jumat, 8 Syawwal 1439 / 22 Juni 2018

Seluk-Beluk Pencegahan Kanker Kolon

Jumat 29 April 2016 16:00 WIB

Red:

Tumor merupakan istilah umum pada setiap benjolan di tubuh manusia, baik jinak maupun ganas. Meski begitu, kedua jenis tumor ini berpeluang besar untuk berkembang menjadi kanker di kemudian hari. Jika tumor tersebut tidak ditangani dengan baik, bisa berakhir pada kematian.

Menurut konsultan bedah digestif RS Pondok Indah dr Eko Priatno SpB-KBD, kedua jenis tumor tersebut memiliki bentuk bermacam-macam, seperti kutil atau berupa sebuah benjolan sebesar bola bekel. Jika terus membesar, kemungkinan berkembang menjadi kanker sangat besar, termasuk salah satunya kanker kolon.

"Kanker kolon berawal dari tumor atau polip pada usus besar manusia. Penderitanya di Indonesia cukup banyak, setelah kanker serviks dan payudara. Namun, masih belum banyak orang yang menyadari bahayanya bagi tubuh, sehingga gejala yang timbul kerap diabaikan," ungkap Eko, beberapa waktu lalu di Jakarta.

Baik pria maupun wanita sama-sama memiliki risiko terkena kanker kolon, terutama mereka yang memiliki riwayat keluarga (genetik). Namun, belakangan kanker ini juga dicurigai muncul akibat faktor gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok, mengonsumsi alkohol, mengonsumsi daging merah berlebihan, kurang beraktivitas fisik, obesitas, dan kurang mengonsumsi serat dari sayur dan buah-buahan.

Umumnya, kanker kolon diderita oleh mereka yang berusia 50 tahun ke atas dan tidak bergejala. Sekalipun ada gejala, biasanya timbul terlambat. "Kita patut curiga jika mengalami diare berulang, BAB berdarah (sering dianggap wasir), sulit BAB (bentuk feses kecil-kecil, keras, atau cair) dan pada stadium lanjut terdapat sumbatan di usus," jelasnya.

Penyakit ini, menurutnya, bisa dicegah dan dideteksi sejak dini, asalkan rajin melakukan screening dan menerapkan hidup sehat. Bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga, Eko menyarankan agar screening kolonoskopi setiap lima sampai 10 tahun sekali pada usia 40 tahun.

Bagi mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga, tapi memiliki risiko tinggi terkena kanker kolon, sebaiknya rutin melakukan tes darah dan samar feses (FOBT) setiap tahun. Screening kolonoskopi juga disarankan setiap 10 tahun sekali agar lebih akurat pada usia 50 tahun.

"Kanker kolon sebenarnya bisa diatasi dan diobati bila ditemukan pada stadium awal. Jika ditangani dengan tepat, pasien yang menderita penyakit ini juga dapat hidup normal," tambah Eko.

Bagi pasien kanker kolon yang hendak melakukan rangkain operasi, beragam teknologi terkini sudah tersedia. Salah satu teknologinya adalah bedah minimal invasif. Selain hanya membutuhkan 0,5 sampai satu sentimeter (cm) sayatan, jenis bedah ini juga lebih memungkinkan pasien sembuh dengan cepat jika dibandingkan dengan bedah konvensional.

Operasi ini dialami oleh Joe (64 tahun), pasien kanker kolon yang ditangani oleh Eko. "Saya dideteksi kanker kolon ketika kanker sudah masuk dalam stadium dua. Awalnya, saya merasa nyeri setiap kali BAB. Pada akhirnya saya memutuskan untuk melakukan bedah minimal invasif guna mencegah kanker menyebar kebagian tubuh lainnya," ungkapnya.

Kanker kolon yang diderita Joe terletak di ujung usus besar di dekat anus. Sehingga, tim dokter perlu membuat kantong di usus besarnya yang berfungsi untuk membantu anus mengeluarkan sisa kotoran usai pembedahan.

Menurut Eko, salah satu penyebab pasiennya terkena kanker kolon adalah gaya hidup tidak sehat. Untuk itu, dia mengimbau agar kita selalu menerapkan pola hidup sehat dengan cara mengurangi konsumsi daging merah, perbanyak konsumsi sayur dan buah, rutin melakukan aktivitas fisik, menjaga berat badan, serta tidak merokok dan minum alkohol.   rep: Aprilia Safitri Ramdhani, ed: Dewi Mardiani

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA