Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Friday, 22 Zulhijjah 1440 / 23 August 2019

Mengatasi Resistensi Antibiotik

Jumat 22 Jan 2016 14:00 WIB

Red:

Sejak pertama kali ditemukan pada 1928, antibiotik sangat berguna untuk menyembuhkan banyak pasien dengan penyakit infeksi. Saat ini, pengobatan banyak jenis penyakit akibat mikroba atau bakteri umumnya diatasi dengan antibiotik.

Antibiotik adalah segolongan molekul yang dihasilkan oleh suatu mikroba, terutama fungi atau jamur, baik alami maupun sintetik. Obat tersebut mempunyai efek menekan atau menghentikan proses biokimia di dalam organisme, khususnya dalam proses infeksi dalam bakteri.

Antibiotik adalah obat ampuh dan bermanfaat jika digunakan dengan benar. Namun, jika digunakan tidak semestinya, antibiotik justru akan mendatangkan berbagai kerugian bagi yang mengonsumsinya.

"Dahulu, banyak orang meninggal karena infeksi, tetapi dengan adanya antibiotik, masalah tersebut bisa teratasi," ujar Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr Hari Paraton SpOG(K) yang membahas soal resistensi dan kepatuhan penggunaan antibiotik, di Jakarta, Kamis (21/1).

Dikatakannya, antibiotik hanya bermanfaat dan efektif untuk membunuh bakteri, tapi tidak membunuh virus. Penyakit yang bisa diobati dengan antibiotik adalah penyakit-penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. "Jika penggunaan antibiotik kurang tepat, bisa menyebabkan resistensi terhadap antibiotik," jelas Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia yang juga pulmonologis dr M Arifin Nawas SpP(K) MARS dalam kesempatan yang sama.

Resistensi terhadap antibiotik, maksudnya adalah bakteri yang ada di dalam tubuh penderita memiliki kemampuan untuk melawan efek obat. Resistensi antibiotik ini dampaknya bisa fatal, yaitu menyebabkan kematian.

Kasus kematian akibat resistensi antibiotik sudah banyak terjadi di dunia. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2007 di Eropa Barat, kasus kematian akibat masalah ini mencapai 25 ribu kasus per tahun. Di Thailand, kasus kematiannya mencapai 38 ribu per tahun dan di Amerika Serikat mencapai 23 ribu per tahun.

Sementara, di Indonesia masih belum diketahui data pastinya. Namun, diperkirakan, datanya mencapai lebih dari 135 ribu kematian per tahun. Saat ini, di dunia ada 700 ribu kematian per tahun akibat resistensi ini.

"Pada 2050, diperkirakan 10 juta kematian akibat resistensi antimikroba akan terjadi per tahunnya, termasuk di antaranya 4,6 juta kematian akan terjadi di Asia, juga Indonesia," ujar Hari. Bahkan, lanjutnya, resistensi antibiotik akan menjadi pembunuh utama manusia atau pembunuh terbesar. Untuk itu, perlu adanya peningkatan kesadaran di masyarakat mengenai resistensi antibiotik.

Arifin mengatakan, tidak semua penyakit memerlukan antibiotik. Misalnya, flu, pilek, radang tenggorokan, kecuali GABHS (infeksi kerongkongan akibat bakteri streptokokus), infeksi telinga dengan efusi, bronkitis, dan berbagai penyakit lainnya tidak memerlukan antibiotik.

Pasien diberikan antibiotik apabila terjadi demam tinggi, dahak berubah warna menjadi hijau atau kuning, dan darah putih tinggi (normalnya mencapai 10 ribu). "Kalau sudah di atas 12 ribu atau 14 ribu membutuhkan antibiotik," kata dia. 

Untuk mengatasi resistensi antibiotik, sambungnya, memang tidak terlihat jelas gejalanya. Namun, biasanya penyakit yang diderita pasien tidak sembuh-sembuh, terutama infeksi. Jadi, ketika diberikan antibiotik, sudah tidak mempan. Bahkan, ada yang mengalami panresistensi atau kebal terhadap antibiotik apa pun.

Meski begitu, Arifin menambahkan, ada penyakit yang tanpa antibiotik bisa disembuhkan. Biasanya, penyakit itu infeksi dari luar. Untuk mengatasinya, sebenarnya bergantung pada daya tahan tubuh. "Daya tahan tubuh bisa menolong resistensi terhadap antibiotik. Ada orang yang panresistensi antibiotik sembuh tanpa antibiotik. Hanya dengan daya tahan tubuh pasien. Juga dirawat dengan metode khusus."

Dia menyebutkan, untuk mengurangi resistensi antibiotik, seseorang disarankan untuk tidak sembarangan mengonsumsi antibiotik. Obat tersebut hanya didapatkan dengan resep dokter sesuai dengan dosis dan jangka waktunya. Obat tersebut juga harus dikonsumsi sesuai waktunya dan dihabiskan. "Jangan membeli antibiotik berdasarkan resep sebelumnya," jelas Arifin.

Untuk mengonsumsi antibiotik, tanyakan ke dokter yang memberikan resepnya tentang dosis dan cara meminumnya. Pemberhentian antibiotik yang tidak sesuai waktu atau terlalu cepat bisa membuat bakteri bertahan hidup dan menyebabkan infeksi berulang. "Pilek, batuk, dan diare pada umumnya tidak memerlukan antibiotik," kata dia. rep: Dessy Susilawati, ed: Dewi Mardiani

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA