Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

Monday, 14 Syawwal 1440 / 17 June 2019

siesta- Pengalaman tak Terlupakan

Selasa 30 Dec 2014 17:00 WIB

Red:

Tidak semua daerah aman untuk dijelajahi turis sendirian. Apalagi jika Anda adalah perempuan. Secara psikologis, perempuan yang berjalan sendirian terlihat lebih rentan.

Meski begitu, di daerah wisata yang sepintas aman pun, ada saja celah bagi orang jahat untuk memetik keuntungan dari keluguan turis. Pengalaman ketiga Muslimah berikut dapat menjadi pelajaran yang membuat pelancong waspada selama berpetualang seorang diri. ed: reiny dwinanda

***

Terhipnotis di Barcelona

Usia Pratiwi Hamdhana baru 20 tahun ketika melakukan solo trip ke Eropa pada Mei hingga Juni 2012 lalu. Bermodal tiket promo hasil hunting setahun sebelumnya, ia berhasil terbang ke benua biru tersebut. Petualangan Pratiwi melancong sendirian di Eropa dimulai sejak turun dari pesawat. Untuk menghemat biaya, perempuan asal Makassar ini menginap di rumah teman baru yang dikenalnya melalui situs jejaring silaturahmi internasional, www.couchsurfing.org. "Saya menemukan teman baru di Paris dan kami bersahabat sampai sekarang," kata perempuan yang akrab disapa Tiwi ini.

Saat melancong ke Barcelona, Spanyol, Tiwi tak melewatkan kesempatan menjelajahi salah satu destinasi wisata yang berada di ketinggian. Jalanan menuju ke lokasi memang cukup sepi. Di perjalanan, seorang turis meminta tolong untuk mengabadikan gambar dirinya. Sebagai sesama wisatawan, Tiwi tidak curiga. Itu memang termasuk hal lumrah saat berpelesir.

Tidak lama kemudian, datang dua orang polisi menghampiri Tiwi dan sang turis. Kedua aparat tersebut meminta mereka menunjukkan isi tas, termasuk paspor dan dompet. Di dalam dompet, Tiwi menyimpan uang saku senilai 150 euro. Kedua polisi memeriksa uang dengan cara disenter dan diendus untuk membuktikan keasliannya.

Pada saat itu, Tiwi belum merasa curiga. Apalagi, polisi juga melakukan hal serupa kepada turis asing yang sedang bersama dirinya. Kejadian tersebut mengalir begitu saja, sampai akhirnya mereka bertiga pergi. Barang bawaan Tiwi tetap utuh berada di dalam tas.

Beberapa langkah melanjutkan perjalanan, Tiwi teringat uangnya. Begitu melihat dompet, euro miliknya sudah raib. "Saya baru sadar kalau tadi terhipnotis."

Tiwi sempat balik arah dan mengejar ketiga pria tersebut. Pencariannya sia-sia. Tiwi memutuskan kembali ke penginapan dan menelepon mamanya. Tiwi menangis tiada henti selama di video call. Ia sempat dicurigai telah diperkosa karena terus-terusan menangis.

Berhasil curhat kepada sang bunda, Tiwi merasa sedikit lega. Setelah itu, ia memilih mengurung diri di dalam kamar penginapan. Esok harinya, penghuni lain yang juga turis mengajak keluar. "Saya bersyukur traumanya tak berlangsung lama, keberanian saya muncul lagi," ungkap pemilik akun Instagram @pratiwiham ini.

Kegemaran Tiwi melancong sendirian tidak berhenti sampai di Eropa. Perempuan yang sudah solo travelling sejak usia 19 tahun ini, bahkan melakukan perjalanan sendirian ke Cina-Mongolia hingga Korea. Ia selalu berusaha meyakinkan orang tua agar tidak khawatir. "Saya mengabari tempat menginap, berapa lama bepergian, dan tinggal di satu kota, serta tidak pernah luput memberi kabar."

Meski pernah mengalami kejadian tak menyenangkan, Tiwi mengaku tidak kapok untuk melakukan solo trip lainnya. Ia mengunggah cerita perjalanan di blognya mengenai keharusan perempuan melakukan travelling sendirian. Tulisannya di blog www.pratiwihamdhana.com dibaca 7.000 pengunjung dalam satu hari.

***

Dikuntit Stalker Man di Vietnam

Meidiana Kusuma Wardhani tersesat dan dibuntuti seorang pria tak dikenal, ketika berjalan-jalan di Vietnam pada akhir 2012 lalu. Kala itu, Meidi datang bersama dua teman dan mengunjungi Ho Chi Minh. Di hari terakhir, perempuan berusia 25 tahun ini berpencar dengan temannya yang memilih untuk ikut tur lokal. "Saya memutuskan solo trip ke daerah District 1, Saigon," kata Meidi.

Menjelajahi District 1 sendirian, Meidi merasa langkahnya mulai tak tentu arah. Dia tersesat. "Peta yang diberikan staf hotel tertinggal di penginapan," katanya mengenang.

Saat itu, Meidi tidak menggunakan nomor lokal. Ia kesulitan mengakses GPS lantaran bergantung pada Wifi. Meidi tidak berani banyak bertanya kepada orang sekitar. Tiba-tiba, ada seorang pria berusia sekitar 30 tahun mendatanginya. Ia tak paham maksud dari pria tersebut. "Sepertinya dia ingin menawarkan bantuan."

Meidi tak memerhatikan wajah dari pria tersebut. Namun, ia mengenali penampilan dan postur badannya. Merasa sang pria membuntutinya terus dari belakang, Meidi langsung cari tempat aman. Ia bergegas mencari pusat keramaian. Menemukan supermarket, Meidi langsung masuk ke dalamnya.

Meidi mulai mengatur gerak-gerik tubuhnya, bersikap seolah sudah mengenal tempat tersebut. Ia lega bukan main ketika pria yang menguntitnya tak lagi terlihat. "Jalan keluar ketika dibuntuti orang tak dikenal adalah masuk ke daerah ramai, mencari pos polisi terdekat, atau berpura-pura berbicara dengan orang lain," tutur pemilik blog www.geretkoper.com ini.

Meidi tidak kapok melakukan perjalanan sendirian. Tahun 2013, ia ke Makassar, Sulawesi Selatan. Semula, ia berniat berangkat dengan empat teman lain. Ketika teman-temannya batal pergi, Meidi melanjutkan rencananya. Sejak awal pergi hingga pulang kembali ke Jakarta, ia selalu mendapatkan pertolongan. Mulai dari tumpangan ke penginapan sampai tempat menginap. "Katanya keberuntungan selalu bersama orang yang melakukan solo travelling," ucapnya seraya tertawa.

***

Dimarahi Orang Asing di Penang

Rinta Adita ber-solo travelling di usia 25 tahun. Muslimah yang akrab disapa Dita ini melancong seorang diri pada 2009 lalu dengan rute Singapura-Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika sudah berada di Penang, Malaysia, Dita bermaksud menuju satu destinasi wisata. Saat itu ia tengah duduk di halte tak jauh dari Penang Multicipal Town Hall. Bus yang ditunggu memang datang cukup lama. Menikmati duduk santai seorang diri, secara tiba-tiba datang seorang pria mengenakan baju hitam.

Awalnya, pria tersebut hanya mengobrol melalui ponselnya dengan menggunakan bahasa Melayu. Dita tak memedulikan pria tersebut dan sibuk mempelajari peta lokasi setempat. Tiba-tiba pria tersebut berteriak dan marah-marah kepadanya. "Suaranya keras dan menanyakan asal daerah saya," kata Dita menjelaskan.

Spontan hal tersebut membuat Dita kaget. Ia kemudian memerhatikan penampilan pria tersebut. Bajunya kumal dan badannya sedikit berbau. Dita berkesimpulan sang pria merupakan orang dengan gangguan kejiwaan. Ia langsung bergegas berlari meninggalkan pria tersebut demi keamanannya. "Beruntung dia tak mengejar meski masih tetap berteriak."

Memiliki pengalaman tersebut, Dita tidak takut melanjutkan perjalanannya seorang diri. Melancong sendirian justru membuatnya bangga karena mampu mengalahkan kecemasan dalam dirinya. Pada 2011 lalu, ia berwisata ke Cina dan Hong Kong. Banyak kejutan yang ia peroleh. Selain mengenal budaya setempat, Dita juga mendapat banyak kawan baru. Perempuan yang hobi wisata kuliner ini memilih hostel atau guest house untuk tempat bermalam. Penginapan seperti itu memungkinkan pelancong untuk berkenalan satu sama lain.

Ketika merasa tersesat, Dita mengandalkan peta. Ia tak ragu untuk bertanya kepada warga sekitar. Pemilik blog www.malesmandi.com ini selalu menggunakan instingnya. Saat berjalan dan merasa arah tersebut tidak aman, ia langsung memutar balik langkahnya dan mencari jalan lain.

Ketika sudah menikah, Dita tetap melanjutkan hobinya yang tergolong tidak umum ini. Ia selalu meminta izin pada suami tercinta dan orang tua sebelum melakukan perjalanan. Persyaratan yang diberikan orang-orang tercintanya cukup mudah, yakni selalu memberi kabar. Biasanya, ia selalu mengabari keluarga melalui aplikasi messenger seperti WhatsApp atau Line. Ketika sedang terhubung dengan jaringan Wifi yang bagus, Dita melakukan video call dengan keluarga.

***

Tetap Waspada

- Persiapkan perjalanan dengan matang. Amankan tiket pergi dan pulang berikut penginapan di lokasi tujuan. Siapkan tiket atau uang untuk akomodasi. Peta sebelum berangkat. Hafalkan tempat yang bisa dijadikan penanda jalan. Hindari membuka peta di tempat umum.

- Jika masih takut melakukan perjalanan sendiri, ajak turis yang di penginapan Anda untuk melakukan trip bersama. Pelajari budaya setempat agar dapat berinteraksi bersama penduduknya. Naiklah kendaraan umum lokal dan membuka jaringan pertemanan dengan luas. Tetap waspada terhadap lingkungan sekitar, namun jangan menutup diri.

- Jaga barang berharga, seperti kamera, ponsel, dompet, paspor, laptop, dan lainnya dengan benar. Sebisa mungkin, bawa barang tersebut ke mana pun kaki melangkah. Jika harus ditinggal, usahakan simpan di tempat yang terkunci seperti loker. Siapkan uang receh secukupnya di dalam saku untuk membeli makanan sehingga tak perlu membuka dompet.

- Jangan terpaku dengan gadget karena dapat memicu tindak kejahatan. Jangan pula bepergian hingga malam hari. Usahakan sudah tiba di penginapan pada sore hari.

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA