Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Minggu, 23 Muharram 1441 / 22 September 2019

Berbuka Puasa yang Menyehatkan

Jumat 03 Jul 2015 16:00 WIB

Red:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Orang yang berpuasa akan merasakan kebahagiaan, salah satunya ketika waktu berbuka tiba. Setelah menahan haus dan lapar sekitar 14 jam, masih banyak orang yang lupa akan adab berbuka puasa.

Alih-alih menyehatkan bagi tubuh, puasa bisa menjadi masalah jika pola makan saat berbuka terkesan "balas dendam". Masih banyak orang yang langsung menyantap makanan berat dalam jumlah banyak atau hidangan yang tak bagus untuk kesehatan saat berbuka. Hal tersebut sebaiknya dihindari.

Perlu Anda ketahui, selama berpuasa sistem pencernaan dalam tubuh cenderung mengurangi produksi enzim yang berguna untuk metabolisme, sehingga berpengaruh cukup besar terhadap lapisan lendir di dalam tubuh.

Mengonsumsi makanan atau minuman secara berlebihan ketika berbuka puasa bisa menyebabkan banyak masalah terhadap kesehatan tubuh, seperti sakit perut, kembung, serta diare. Waktu berbuka puasa digunakan sistem pencernaan tubuh untuk beradaptasi kembali dengan makanan dan minuman secara perlahan setelah tidak makan seharian.

Apabila dipaksa untuk langsung mengonsumsi makanan berat akan membuat sistem pencernaan bekerja keras mencerna makanan yang dikonsumsi dan akibatnya bisa fatal. Tapi, menurut dokter Adhisti Pritalina, penentuan makan besar ketika berbuka tentu terkait dengan kebiasaan individu.

"Jika memang langsung berbuka dengan makan besar, tidak ada larangan atau makan besarnya boleh dimulai setelah Maghrib atau sambil menunggu Isya atau setelah Tarawih," ujarnya. Asalkan, kata dia, tetap mempertahankan asupan gizi seimbang.

Saat berbuka, lanjut dia, biasakan makan secara perlahan. Sebab, kata dokter Adhisti, mengunyah secara perlahan hingga lembut bisa membantu sistem pencernaan bekerja tidak terlalu berat dalam mencerna makanan. Hal itu tentu menunjang metabolisme berjalan lancar tanpa membuat sakit.

Berbuka puasa baiknya memang mengonsumsi makanan atau minuman yang manis dan lembut. Sebab, selama berpuasa tubuh pasti kehilangan banyak nutrisi dan energi. Makanan atau minuman yang mengandung gula akan mampu memberi asupan nutrisi dan energi dengan cepat sehingga tubuh akan kembali segar dalam waktu singkat.

"Boleh yang manis, asal tidak berlebihan dan komposisi karbohidrat, protein, lemak sesuai porsi normal tidak perlu dikurangi,"  tutur dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pusat Pertamina tersebut.

Setelah itu, wajib mengonsumsi cairan. Selama puasa, biasakan berbuka dengan mengonsumsi jus buah atau sayuran segar serta hindari cairan atau minuman yang terlalu dingin. Minuman dingin akan membuat perut cepat kenyang. Dikhawatirkan, bisa mengurangi, bahkan menghilangkan nafsu makan makanan yang bergizi dan berguna bagi tubuh. Akibatnya, bisa dipastikan tubuh akan cepat lemas untuk berpuasa esok harinya.

Selain itu, berbukalah dengan porsi yang sedikit atau tidak terlalu banyak, jadi tidak terlalu mengenyangkan. Disarankan pula berhenti makan saat mulai kenyang. Guna mencegah hal itu, bisa selingi dengan ngemil dalam rentang waktu jangan terlalu dekat dan sebisa mungkin hindari makan besar mendekati waktu tidur. "Jika makan besarnya sehabis Tarawih memang akan membuat waktu tidur malam jadi mundur dan terkadang bisa buat masih kenyang ketika sahur," ungkapnya.

Makanan manis

Makanan dan minuman manis memang dianjurkan untuk santapan awal buka puasa. Tapi, bukan berarti semua makanan atau minuman manis boleh dikonsumsi, apalagi jika mengandung kadar gula tinggi. Menurut ahli gizi Rita Ramayulis DCN MKes, prinsip makanan saat berbuka puasa adalah mengembalikan kadar glukosa darah menjadi normal, setelah 14 jam tidak mengonsumsi makanan.

Ia menganjurkan agar mengonsumsi makanan dengan kadar gula yang cepat terserap tubuh. "Makanan yang dapat mengembalikan kadar glukosa darah dengan cepat adalah karbohidrat sederhana, ada di gula pasir, gula merah, gula aren, sirup, madu, kurma, dan buah-buahan," ungkap Rita.

Namun praktisi gizi klinik dan olahraga tersebut mengingatkan, jumlahnya harus disesuaikan dengan kemampuan tubuh dalam mengolahnya. Apalagi, orang-orang dengan penyakit tertentu, seperti diabetes, tentunya harus mengontrol pola makan yang manis supaya tidak memicu peningkatan gula darah secara mendadak.

Menurut Rita, banyak orang keliru menafsirkan maksud dari istilah berbuka dengan yang manis. Mengonsumsi makanan atau minuman manis memang baik dilakukan pada saat buka puasa agar dapat segera memulihkan energi setelah seharian berpuasa. Tapi, yang keliru adalah porsi makanan atau minuman manis yang dikonsumsi.

Produk gula merupakan jenis karbohidrat sederhana sehingga sangat mudah dipecah dan dicerna menjadi gula darah. Alhasil, bila gula dikonsumsi secara berlebih bisa memicu gula darah dalam tubuh melonjak, sehingga membuat orang mudah mengantuk, lemas, dan menimbun lemak.

Idealnya, buka puasa bisa dengan makan tiga buah kurma sesuai sunah Rasulullah SAW. Selain manis, kurma juga merupakan karbohidrat kompleks yang membuat gula diserap tubuh secara perlahan. Karbohidrat kompleks akan lebih lambat dipecah atau dicerna menjadi gula darah.

Sehingga, gula darah akan tetap stabil alias tidak mengalami fluktuasi yang tinggi. Selain itu, karbohidrat kompleks juga sangat membantu proses metabolisme energi tubuh.

Hindari gorengan

Sebagian orang sering kali berbuka puasa dengan mengonsumsi aneka jenis gorengan, seperti risoles, bakwan, dan lainnya.  "Gorengan memang dasarnya tidak baik, jadi minimal harus bisa dikurangi," ungkap dr Inge Permadi SpGK.

Menurutnya, mengonsumsi gorengan ketika puasa atau tidak puasa tergolong kurang baik. Ia menyarankan agar konsumsi gorengan dikurangi. Salah satu yang berbahaya dari gorengan adalah minyaknya. Minyak yang digunakan dalam proses penggorengan tentunya mengandung kolesterol.

Pastinya, itu tidak baik bagi kesehatan tubuh, khususnya jantung. Minyak mampu mempercepat penyakit jantung karena kandungan minyak mampu menghambat proses peredaran darah.

Menurut Inge, gorengan berminyak juga bisa memicu sariawan ketika tubuh dalam kondisi puasa. Pasalnya, tubuh mengalami kekurangan cairan atau dehidrasi sehingga minyak bisa mempercepat penyakit sariawan pada mulut. Selain itu, gorengan seringkali dimakan dengan sambal pedas yang tentunya berbahaya bagi perut yang kosong.  c33 ed: Heri Ruslan

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA