Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Sunday, 16 Sya'ban 1440 / 21 April 2019

Pemuda Muslim Ditantang Selesaikan Persoalan Global

Rabu 29 Apr 2015 16:00 WIB

Red:

(dari kiri) Founder and Managing Director Outreach Strategis Mustafa Tameez, Peneliti Study Of terrorism and Response to Terrorism (Start) Alejandro Beutel, US Special Respresentative for Muslim Communities Shaarik Zaafar berbicara dalam diskusi di Univers

(dari kiri) Founder and Managing Director Outreach Strategis Mustafa Tameez, Peneliti Study Of terrorism and Response to Terrorism (Start) Alejandro Beutel, US Special Respresentative for Muslim Communities Shaarik Zaafar berbicara dalam diskusi di Univers

Foto: Republika/ Tahta Aidilla

JAKARTA -- Dunia tengah mengahadapi berbagai persoalan global, seperti kerusakan lingkungan, lapangan kerja, dan terorisme. Pemuda Muslim diminta ikut berperan aktif menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. "Global warming menjadi tantangan kita bersama. Menlu John Kerry menyatakan, tantangan perubahan iklim merupakan prioritas utama," kata Perwakilan khusus Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (AS) untuk Komunitas Muslim Shaarik Zafar kepada peserta kuliah umum bertajuk "Islam Youth and Global Challenge; US and Indonesia Muslim Readers Perspective" di Aula Universitas Muhammadiyah Tangerang (UMT), Tangerang, Banten, Selasa (28/4).

Zafar mengatakan, pemanasan global hanya bisa diatasi secara bersama-sama. Dalam konteks itu, umat Islam bisa memainkan peran besar. Sebab, menurut Zafar, misi utama seorang Muslim adalah menjaga kebaikan lingkungan dan alam. Dan lagi, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem alam.

Selain pemanasan global, umat Islam juga dihadapkan pada tantangan minimnya lapangan kerja. Zafar mengatakan, saat ini mayoritas masyarakat berusia di bawah 30 tahun mengalami kesulitan mendapat pekerjaan. Dia menekankan, pemuda Muslim harus memberi kontribusi positif di bidang ekonomi. Sebab, pemerintah tidak bisa menyelesaikan masalah lapangan kerja sendiri. "Anda sebagai pemuda perlu menyatakan ide-ide untuk menyelesaikan hal itu. Sedangkan, tugas pemerintah mendukung," ujar Zafar.

Selanjutnya adalah tantangan terorisme. Menurut Zafar yang lahir di Pakistan, Islam tidak memiliki hubungan dengan terorisme dan tidak mengajarkannya. Untuk itu, para pemuda harus berjuang memperbaiki citra Islam yang dirusak oleh para pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama. "Tantangan yang kita hadapi, baik AS dan Indonesia adalah kelompok yang memberi reputasi buruk kepada Islam. Mereka bahkan merekrut anak-anak muda dan mencuci otak," kata Zafar.

Direktur Lembaga Komunikasi Outreach Strategists Mustafa Tameez mengatakan, pemuda berperan penting dalam melahirkan perubahan umat. Merekalah jawaban atas berbagai tantangan global yang terjadi sekarang. "Saya berekspektasi, Anda bisa membangun banyak hal dalam dunia ini," kata Tameez.

Menurut Tameez, kontribusi positif pemuda harus digali dengan pendekatan yang tepat. Sebab, menurutnya, pemuda memiliki karakternya sendiri. Tameez lantas mengajak sekitar 100 peserta untuk memikirkan hal yang bisa dilakukan terhadap lingkungan sekitar. "Apa yang kita bisa kontribusikan? Lalu, renungi kembali apakah kontribusi itu untuk membangun atau menghancurkan?" ujar Tameez.

Dengan kapabilitas dan kreativitas yang dimiliki, Tameez yakin, pemuda bisa menjadi tokoh perubahan. Tinggal, bagaimana para pemuda memanfaatkan keunggulan yang mereka miliki. "Pemuda menjadi pencipta software atau pemecah kemacetan di Jakarta. Sebenarnya, itu pilihan pemuda untuk mengubah dunia Islam karena saya yakin pemuda punya kapabilitas," ujarnya.

Peneliti Study of Terrorism and Responses to Terrorism (Start) Alejandro Beutel menyatakan, pemuda Muslim harus diberi kesempatan untuk bisa menunjukkan peran positifnya. "Anak muda harus diberi kesempatan untuk melakukan aksi yang bermanfaat dan kita harus memperkuat mereka," ujar Beutel.

 

Beutel menyatakan, saat ini banyak pemikiran radikal berawal dari obrolan pemuda. Menurutnya, gagasan yang muncul antarpemuda lebih berpengaruh. Pemuda, kata Beutel, cenderung mengikuti hal yang menurut mereka keren. "Hebatnya, ekstremisme membuat gerakan jihad keren. Mereka membuat terorisme seakan menarik dan menyenangkan," ujar Beutel.

Beutel mengatakan, pemuda akan berpikir dengan cara mereka sendiri begitu juga dengan orang tua. Sehingga, perbedaan pola pikir kerap terjadi. "Ulama perlu tahu cara menarik pemuda. Ini juga masalah yang dihadapi AS," ujarnya.

Beutel menyarankan, ulama perlu banyak membahas topik-topik yang menarik untuk anak muda dan juga dengan alat yang menarik. Ia mencontohkan, film, musik, atau game bisa menjadi alat yang mampu menarik perhatian pemuda. "Intinya, pemuda perlu diberi alternatif dakwah yang tidak membosankan," ujar Beutel.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Dahnil Anzar Simanjuntak menilai, saat ini masih banyak pekerjaan rumah dalam meningkatkan pemberdayaan pemuda. Dahnil menilai, saat ini Muslim Indonesia, khususnya pemuda memiliki potensi besar untuk menjadi agen perubahan. Citra Islam, kata Dahnil, bahkan bisa menjadi lebih baik jika muslim berbicara banyak di media. "Saat ini, dunia barat melihat Islam lewat Timur Tengah jarang melalui Indonesia. Padahal, Indonesia bisa menjadi kiblat," ujar Dahnil. c71 ed: M Akbar Wijaya

  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA